Pages

Selasa, 15 November 2011

Surga Buku - Cerita Tentang Surga

Gadis itu bukan aku. Meskipun dia memang mirip denganku—wajah yang bundar serupa, postur tubuh yang agak membungkuk, kaus oblong yang sama, kacamata berbingkai putih... tapi dia bukan aku. Ada sesuatu pada sepasang matanya yang membedakannya denganku, sesuatu yang untuk alasan yang tak kumengerti sekonyong-konyong membuatku merasa benci.

Dan lucunya adalah, benciku padanya adalah sesuatu yang rasanya terlalu akrab bagiku. Ada iri yang tak bisa dijelaskan di sana. Perasaan rendah diri. Ketakutan. Rasa bersalah.

“Apa itu di tanganmu?”

Sabtu, 18 Juni 2011

Fantasy Fiesta 2011 - Hari Terakhir Ishan

Silakan membaca cerita ini di Antologi Fantasy Fiesta 2011 yang bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat. Terima kasih. :)

Minggu, 22 Mei 2011

Someone That I'm Looking For



While we are living in this world, at least there's a person like this whom we need.
A person who will stay with us no matter what happens.
A person who will protect us from whoever trying to hurt us.
A person who will understand our feelings of disappointment.
A person who will gently pat our shoulder and say "You've tried your best" when we fail.

Bittterness



Lantas terang saja selama ini saya kesulitan untuk tidur. Ternyata saya sudah menelan terlalu banyak kepahitan. Barangkali seperti minum berliter-liter kopi. Saya ingin tidur, menutup mata dan melayang meski hanya sejenak pada suatu situasi dimana saya bisa merasakan kebahagiaan. Tetapi rasa pahit di lidah memberati saya, menenggelamkan saya pada kedalaman fakta. Saya terkubur di dalam gelap. Ya, hitam seperti kopi.

Rabu, 20 April 2011

GLG: Fragmen - Puzzles of Resemblance (2)

Kali ini semburat kemerahan yang lebih gelap dan kental menyapa pengelihatan Miharu bersamaan dengan rasa sakit yang perlahan menyebar merambahi dadanya seperti racun. Miharu terbelalak, merasa seakan dibangunkan dari mimpi buruk. Kembali dilihatnya wajah sang anak perempuan berambut abu-abu. Wajahnya kini mengeras. Pandangannya liar. Dia terlihat seribu kali lebih menakutkan seperti itu. Tetapi itu pikiran Miharu sebelum tubuhnya dilempar, melayang di udara dan mendarat di lantai dengan gesekan yang membuat bahu juga sikunya lecet.

Darah berceceran di lantai. Tidak butuh lama bagi Miharu untuk sadar milik siapa itu, merasakan rasa sakit diikuti ngilu yang tak tertahankan di dadanya sendiri. Dia mengulurkan sebelah tangannya, memastikan luka besar yang menganga di sana. Perih menyumbat napasnya. Menatap tajam si anak perempuan, yang balik memandangnya dingin tanpa belas kasihan. Atau dia memang tak pernah mengenalnya.

“K-kau...” akhirnya sebuah kalimat patah-patah berhasil menyembur dari mulut Miharu.

“Ah, kau membuatku mengingatnya,” lagi-lagi desah perkataan si anak perempuan langsung masuk ke benaknya, masih dengan nada menekan udara yang sama. Sejenak dia tampak terluka. Kemudian sepasang matanya yang menyeramkan itu mendelik menatap Miharu yang tergeletak hampir tanpa sisa daya.

Selasa, 12 April 2011

GLG: Fragmen - Puzzles of Resemblance

Tangan Miharu menepis sulur besar terakhir yang menghalangi jalan. Seberkas kemilau putih samar menyambut pengelihatannya yang serasa sudah tumpul berkat berada di bawah permukaan tanah selama berjam-jam. Menyadari bahwa daratan tempatnya berpijak adalah dinding yang menjorok, letaknya sekitar dua meter di atas medan bawahnya, dia melompat. Mendarat mulus dengan bunyi daun-daun berkeresek yang tersebar menumpuk sepanjang ruangan.

Ya. Ruangan. Lumayan luas, berbentuk melengkung. Di pusatnya terdapat pilar cahaya putih terang yang sama dengan yang dilihatnya di aula gedung Basilika. Ke mana orang-orang selalu melompat ke tengahnya lalu menghilang. Berdiri menjulang hingga ke langit-langit yang tidak kelihatan karena tertutup dedaunan serta kegelapan. Pikirnya, pasti melalui perangkat itulah ibunya bepergian ke tempat ini setiap hari.

Di sekelilingnya, hampir tertutup rapat oleh sulur, dan akar, serta dedaunan namun masih sedikit nampak, adalah dinding bata putih yang kini berwarna kehijauan karena lumut. Keseluruhan lokasi itu sendiri, setelah diperhatikan baik-baik, terkesan mirip seperti altar yang dilupakan. Lantai tempat Miharu tengah berdiri nampak seperti benar-benar permukaan tanah, namun beberapa meter menuju pilar di pusat, permukaan lantai tertutup batuan halus yang sama-sama menghijau karena lumut.

Sabtu, 26 Maret 2011

A World Beyond the Dead End - Prolog

Syesha:

Kau tahu yang namanya fobia? Kata orang, fobia artinya rasa takut yang berlebihan terhadap sesuatu hal atau sesuatu fenomena.


Catat: yang berlebihan.

Kurasa maksudnya sesuatu ini harusnya bukan hal yang bisa sungguh-sungguh membuatmu celaka. Hanya tampak luarnya saja yang seolah-olah memaksamu untuk takut. Atau begitulah. Jangan tanya aku, sejujurnya aku sendiri baru mempelajari istilah ini beberapa bulan lalu, dan senang memakainya sampai sekarang—karena seperti yang barangkali sudah kauduga dari pembukaan ceritaku yang berbelit-belit ini: aku sendiri punya fobia.

Satu kata ini pastinya lebih mudah digunakan daripada menjelaskan ‘ketakukan yang tak jelas apa sebabnya.’

Ah, persetan dengan itu semua. Aku takut. Aku sangat takut, dan aku benci. Sampai-sampai rasanya aku tidak peduli kalau sebenarnya aku tidak punya cukup alasan untuk merasa begitu. Yang kubutuhkan hanyalah memposisikan diri sejauh-jauhnya dari sana. Seharusnya itu cukup. Tapi rupa-rupanya selain fobia yang menjadi-jadi ini, aku juga punya firasat. Tidak bercanda, walau kedengarannya mungkin agak melebih-lebihkan, tapi firasatku memang hampir selalu tepat.

Dan firasatku mengatakan bahwa ketakutanku yang satu ini berbeda dari fobia biasa. Bahwa memang ada sesuatu di sana. Sesuatu yang benar-benar bisa mencelakai orang.

Kemudian pada suatu hari, aku sadar bahwa firasatku tepat lagi.

Kamis, 10 Maret 2011

Hello

My eyes are so glued to this boy lately.

(Please, oppa. Tell me how could someone so clumsy can yet becomes so charming.)

...And I just HAVE TO copy-paste this part of lyrics, now that I like SHINee a hella lots more than before and these words strike right into my heart. (lol)

"Naega jom sotuljin mollado"
(Eventhough I might be a bit clumsy)
"Who knows ojjom urin jal dweljido molla"
(Who knows, maybe we may work out well)


Another one:

"Saenggakhan daero modu irwojindan mal midoyo"
(Believe me when I say that everything will happen as you have wished)

 Oh oppa, the things you just sung can't be more precise. You know I really hope so! :'(

The climax version of the ones from before:

"Geudae jigeumeun eoddeolji mollado"
(Eventhough I don't know how you feel right now)
"Who knows uri duri" 
(Who knows the two of us)
"Unmyong ilji molla" 
(It might be destiny)

***
(Credits to whoever taken and edited these wondrous pics of Onew)

Selasa, 08 Maret 2011

War With Conscience III

Me: It's hard being a writer. You keep imagining something is gonna happen or something is not gonna happen. I'm being paranoid.
Conscience: ...Mm-hmm. That's one big contribution to your insomnia problem.
Me: My imagination kills me. And this also applies in my love problem.
Conscience: I see. I thought so.
Me: I can't help but thinking that if this will be the case then it should be like this, it could be like this, it maybe like this... But when it comes to a happy imagination of me and him, it never comes true.
Conscience: ....you must mean God is full of surprise.
Me: No! It's more like a jinx! I CAN'T think of anything happy when it's about me and him! It will happen otherwise!
Conscience: Then you're saying that you'd better imagine all bad things when it's about you and him?
Me: ....That might work, but it will turn me into an emo.
Conscience: I know. Just stop imagining about him. Stop daydreaming. Stop thinking anything about him.
Me: How could I! That's what a girl in love does, whether she's a writer or not! It's just writer usually puts something like that to the extreme levels.
Conscience: ...have fun then.

Sabtu, 05 Maret 2011

About The Books I Read and Books I Want To Read Lately

Mungkin ini penyakit yang diderita setiap kutu buku pelanggan setia Gramedia. Setiap kali ke sana, rasanya mendadak jadi lupa apa yang sebetulnya mau dicari. Begitu pulang dengan setumpuk buku, baru sadar bahwa baru aja ngehabisin uang buat buku-buku yang ga ada dalam list target. Akibatnya jadi kudu pergi ke toko buku lagi buat beli buku yang sebetulnya dicari, tapi begitu menginjakkan kaki di Gramedia, hal serupa terjadi lagi, terulang lagi, lagi, dan lagi, again and again, and again, and again layaknya siklus, terjerat lingkaran setan. -_-

Belakangan ini rasanya aku memang ngehabisin banyak banget duit buat beli buku, meski rata-rata yang kubeli ga bikin menyesal sih (kecuali yang satu itu lho yang sampai sekarang belum kuhabisin). Jadi supaya lain kali hal ini ga terjadi, kupikir ada baiknya mencatat buku-buku yang pengen kubeli serta serial-serial yang lagi kuikutin.

Kamis, 03 Maret 2011

Tentang Orang-Orang Yang Ingin 'Mati'


Seandainya saja aku bisa dengan mudahnya mengatakan, "Hidupku menderita. Ingin mati saja secepatnya." atau "Mau bunuh diri saja." persis seperti orang-orang itu. Apa mereka tidak pernah berpikir?

Apa persisnya yang mereka dapatkan kalau mereka bunuh diri?

Kebahagiaan tetap tidak akan datang sekalipun mereka sudah mati. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah orang-orang mati, kemana mereka pergi, atau seperti apa semuanya di alam setelah kehidupan, dan memang tidak ada yang tahu kecuali Tuhan (dan serdadu-serdaduNya juga). Tapi bukankah kata mereka hanya ada satu tempat yang disediakan untuk jiwa-jiwa yang mencabut sendiri nyawa mereka tanpa persetujuan Tuhan, yaitu neraka? Kalaupun hukuman itu tidak benar adanya bagi orang-orang yang bunuh diri, lalu bukannya masih ada kemungkinan mereka akan tetap masuk neraka karena dosa-dosa mereka selama ini?

Jadi untuk apa orang repot-repot membuang diri dari kehidupan yang tidak bahagia kalau mereka cuma akan berakhir di neraka?

Minggu, 27 Februari 2011

Yang Tidak Pernah Terkabul

(Disadur dari suatu komik strip di suatu tempat yang ga bisa diingat.)

Di suatu pagi kau terbangun. Karena pagi itu cerah, kau jadi terpikir untuk lari pagi. Kau bergegas mandi, memakai setelah olahragamu yang terbaik, mengenakan sepatu ketsmu, kemudian membuka pintu menuju dunia luar yang dipenuhi harumnya embun di atas dedanunan, semilir angin sejuk, serta disinari cahaya lembut matahari-setengah-bangun. Cuacanya sempurna, katamu pada diri sendiri. Lalu mulailah kau berlari pelan menuju taman. Sesampainya di sana baru kausadari ternyata jalanan agak becek. Seingatmu, semalam hujan memang turun gerimis. Maka kau pun berdoa,

"Semoga aku tidak jatuh."

Tapi lalu beberapa langkah ke depannya, kau terpeleset dan jatuh dengan bunyi benturan badan serta pekik kesakitan yang pastinya didengar semua orang di penjuru taman yang kini mulai ramai. Dan benar saja, di sekelilingmu sudah berkumpul banyak orang. Ada yang menunjuk-nunjuk, ada pula yang tertawa. Rasa malu menguar dari pori-pori kulitmu dalam bentuk uap panas yang merambati wajah. Maka kau pun berdoa,

"Semoga gebetanku tidak ada di sini."

Selasa, 22 Februari 2011

(Before Revised) - Grand Le Gran Chapter 1: A Way To Go

Previously: Prologue
[9212; Waldheim; Falis Mine]




“Menyingkir dari situ! Lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!”



Sebuah teriakkan memenuhi lorong goa tempat tiga orang sedang berdiri menunggu. Datang dari arah cabang lorong sebelah tenggara, diikuti beberapa kali getaran hebat, kemudian goncangan yang semakin lama semakin keras. Hanya butuh beberapa detik berikutnya sebelum meraka sadar bahwa mereka berada dalam bahaya total.

Sabtu, 12 Februari 2011

The Art of Fully Understanding of Your Life Problems

Jadi awalnya aku cuma mengalami apa yang menurut pelajaran Vocabulary I di semester ganjil terdahulu disebut dengan 'get up on the wrong side of bed.' Menjelaskannya, mungkin maksudnya bad mood sejak pagi hari karena alasan yang ga jelas. Sebetulnya ini bukan hal baru sih, kalau diingat-ingat aku sudah sering begini semenjak kuliah. Yah, pada intinya idiom ini sudah sukses bikin aku nangis sendiri sejak dari kamar mandi, soalnya bikin kepikiran dan keingetan mengenai: 1] masalah gebetan yg kayaknya ngegebet cewek lain vs jadi gebetan orang lain yang tak diharapkan 2] masa lalu yang ga menyenangkan di sekolah 3] hal-hal yang kuinginkan dari dulu tapi ga pernah keturutan 4] ketidakadilan yang baru-baru ini kuterima berkaitan dengan nomor 3 5] masalah proyek yang ga selesai-selesai. Jadilah moodku udah rusak semenjak pagi. Mikirin ini dan itu, aku jadi merumuskan banyak hal mengenai kehidupan dan mengenai betapa aku merasa sangat-sangat ga puas terhadapnya dan mengenai betapa sulitnya untuk bersyukur sedikiiiittt aja. Lalu karena ga tahan (plus berasa ngefreak juga nangis tanpa pemicu yg jelas), aku ngambil kertas dan mulai merangkum semuanya. Dengan tujuan supaya aku dapat gambaran yang lebih jelas kenapa aku harus puas atau nggak puas sama hidupku sekarang.

Berikut ini hal-hal yang kutulis, yang kuharapkan mungkin bisa menjadi pedoman bagi orang-orang lain yang kebetulan mengalami masalah serupa:

1] My Wishlist: isinya tentang barang-barang yang kuincar dari dulu atau kuperlukan banget, ga usah pedulikan harga atau persentase kemungkinan keturutannya. Cukup ditulis saja mulai dari yang paling paling diinginkan sampai yang ga begitu sangat diinginkan.
2] List of Things That I Want To Achieve: isinya tentang hal-hal yang ingin kaulakukan, target masa depan yang ga ada hubungannya sama barang yang dibeli/dikasih. Hal-hal ini sifatnya kalau terkabul bakal memberiku semacam 'aktualisasi diri.' Misalnya menamatkan proyek lalu menerbitkan satu buku, atau ngedapetin IP 4.00 di semester berikutnya.
3] List of Reasons Why I Have To Be Proud With My Life: isinya dibagi lagi menjadi tiga.
       a) What Makes Me as 'Me': tuliskan poin-poin apa yang membuatmu bangga menjadi dirimu yang sekarang, perkembangan-perkembangan yang membuatmu bangga setelah mengalami masa lalu.
       b) Troubles That I Successfully Faced: tuliskan masalah-masalah berat yang sudah terjadi di masa lalu, yang entah sudah kauselesaikan sendiri, atau kaubiarkan/kauanggap selesai seiring berlalunya waktu, bagaimana kau menyelesaikannya, dan pelajaran yang kaudapatkan.
       c) Trauma: tuliskan hal-hal apa yang masih menghantuimu sampai sekarang, dan apa penghiburan serta tekadmu dalam menyikapi itu.
4] List of Things That I'm Afraid Of: isinya mengenai hal-hal yang setiap kali membayangkannya menbuatmu tidak bisa tidur, membuat jantungmu seperti diperas, atau yang kaudoakan supaya tidak akan pernah terjadi.

Nah, setelah menulis hal-hal ini rasanya aku jadi sedikit lebih punya pegangan serta gambaran yang lebih jelas mengenai situasi masalah apa yang sedang kualami sekarang. Dan kayaknya sih, ini bakal membantuku setiap kali moodku geje di pagi hari. Kata orang, kita gak akan bisa menang kalau kita gak tahu sepenuhnya apa yang lagi kita hadapi. Kurasa nggak banyak orang yang bakal membaca postingan geje ini (atau malah ga ada? -_-), aku cuma merasa perlu ngeshare aja. Karena sepertinya ini bermanfaat.

Jumat, 11 Februari 2011

War With Conscience I

Conscience: Hey. Why are you a writer?
Me: Because life is sucks? I'm working hard to make it looks better.
Conscience: So if life is no longer sucks, you'll stop writing?
Me: Errr..
Conscience: I think that's why God decided to keep your life stay that way.
Me: .... *mati gaya*

War With Conscience II

Me: So you're saying that I need to find another writing motivation?
Conscience: Possibly so.
Me: And you think to make writing as an impingement of my dull life is a wrong motive?
Conscience: Probably so.
Me: But even my current motivation is not strong enough to make me write a lot.
Conscience: Well, it's all in your head.
Me: So you think this somewhat wrong motivation is not the one to blame why I keep failing on my project?
Conscience: Maybe so.
Me: Do you realize how not helping you are?
Conscience: I am YOUR conscience, dear. As I said, it's all in YOUR head.

Jumat, 04 Februari 2011

List of Things That I Want To Tell You

Baiklah, sebelum aku menuliskannya di sini, aku bertanya-tanya--kira-kira berapa besar kemungkinan kau, yang semenjak belakangan ini menjadi tokoh yang paling penting dalam tulisan-tulisan jurnalku, membaca postingan ini?

Pertanyaan yang agak bodoh, soalnya tidak ada yang bisa memberi jawabannya kecuali kau dan Tuhan. Bayangkan, seberapa mungkin terjadi, menemukan dirimu dengan nama samaran tertentu memberikan komentar di postingan ini. Aku tertawa karena membayangkannya membuatku mulai menanamkan konklusi yang salah lagi, seperti yang sudah-sudah, tentang betapa selama ini kau juga suka padaku. Ya, seandainya saja aku ini bukan calon penulis, maka kepalaku tidak akan otomatis membayangkan kemungkinan-kemungkinan 'happy ending' yang barangkali akan datang padaku, si tipikal tokoh utama ini. Hanya gara-gara teman-temanku, atau aku sendiri, berpendapat bahwa kisah-kisah yang selama ini kualami mirip alur cerita komik.

Senin, 03 Januari 2011

Clovervow

‎:Rather than saying that I want to meet someone again real soon, I choose to make most of the time being to fix myself so that I can be a person who is worthy enough to love, and to be loved in return:

I do not ask you to wait for me. I'm on my way of becoming stronger, braver, and smarter, to have more confidence in myself, to grab on the dreams I'm craving for and never let go so that I can prove how lost you are, and also to become more mature and beautiful. :) And then I swear after we meet again, I myself will be the one to decide whether I will fall for you once again, or to leave it all behind then never look back.