Tangan Miharu menepis sulur besar terakhir yang menghalangi jalan. Seberkas kemilau putih samar menyambut pengelihatannya yang serasa sudah tumpul berkat berada di bawah permukaan tanah selama berjam-jam. Menyadari bahwa daratan tempatnya berpijak adalah dinding yang menjorok, letaknya sekitar dua meter di atas medan bawahnya, dia melompat. Mendarat mulus dengan bunyi daun-daun berkeresek yang tersebar menumpuk sepanjang ruangan.
Ya. Ruangan. Lumayan luas, berbentuk melengkung. Di pusatnya terdapat pilar cahaya putih terang yang sama dengan yang dilihatnya di aula gedung Basilika. Ke mana orang-orang selalu melompat ke tengahnya lalu menghilang. Berdiri menjulang hingga ke langit-langit yang tidak kelihatan karena tertutup dedaunan serta kegelapan. Pikirnya, pasti melalui perangkat itulah ibunya bepergian ke tempat ini setiap hari.
Di sekelilingnya, hampir tertutup rapat oleh sulur, dan akar, serta dedaunan namun masih sedikit nampak, adalah dinding bata putih yang kini berwarna kehijauan karena lumut. Keseluruhan lokasi itu sendiri, setelah diperhatikan baik-baik, terkesan mirip seperti altar yang dilupakan. Lantai tempat Miharu tengah berdiri nampak seperti benar-benar permukaan tanah, namun beberapa meter menuju pilar di pusat, permukaan lantai tertutup batuan halus yang sama-sama menghijau karena lumut.
Miharu berjalan beberapa langkah. Gesekan sepatunya dengan dedaunan menimbulkan gema. Dia tiba di permukaan yang berlantai.
Di seberang timur medan lingkaran terpahat sebuah patung ukiran wanita berukuran raksasa, yang dia yakin pernah dilihatnya dalam salah satu buku yang dipinjamnya dari perpustakaan besar—dan dia ingat betul siapa. Rupanya di balik punggung wanita itu juga terdapat apa yang kelihatannya seperti batang pohon yang lebih besar lagi. Miharu melangkah mendekat, dan ternyata apa yang dikiranya batang pohon itu merupakan salah satu yang terbesar dari tumpukkan akar yang menjulur dan menjadi satu—menyerupai dinding gelap kecoklatan saking besarnya, menyatu sedemikan rupa dengan sang patung. Miharu menghela napas lelah. Dia yakin sekarang bahwa tempatnya berada adalah Inti Pusat Magnadia.
Siapa?
Miharu mendongak kaget. Entah apakah beberapa jam berusaha mencari jalan di tengah sulur-sulur yang merapat membuat seluruh inderanya kebas, tetapi suara yang didengarnya barusan terasa begitu ganjil. Dalam artian tidak terlalu manusiawi dan membuatnya merinding.
Sebuah sosok mungil bergerak dari arah pinggir bawah pahatan, muncul dari balik gelap timbunan akar. Sesuatu, yang agak serupa dengan rasa takut, membuat Miharu bertahan di tempatnya berdiri dan membiarkan sosok itu sendiri yang menghampirinya.
Seorang anak perempuan kecil. Ringkih. Mungkin umurnya kurang dari sepuluh tahun. Memakai seragam pendeta wanita berwarna merah menyala yang kebesaran. Kulitnya hampir sama putihnya dengan ibunya. Rambutnya berwarna abu-abu pucat, panjangnya tidak terkira hingga menimbulkan gesekan di lantai—dan masih memanjang hingga jarak setengah meter dari tubuhnya. Sepasang matanya berwarna merah muda menyala. Menatapnya kosong.
Miharu menahan napasnya sementara anak perempuan itu mendekat. Sesuatu dalam diri anak ini membuatnya ngeri. Dia ingin bergerak. Ingin sekali. Tetapi dia tidak bisa.
Siapa kau? Didengarnya pertanyaan itu lagi—langsung menuju benak, bersamaan dengan terbuka dan bergeraknya bibir si perempuan. Namun udara seperti tidak tersentuh oleh gelombang suara.
Miharu menyipitkan mata seraya mencoba menjernihkan pikiran. Anak perempuan ini, dialah sang Perantara. Tidak ada orang lain di sini, dan tidak akan ada. Tetapi kenapa anak sekecil ini? Bukankah sang Perantara seharusnya sudah berumur... lebih dari tiga puluh tahun? Kalaupun benar anak ini adalah sang Perantara, maka mengapa dia dikelilingi oleh aura yang terasa begitu menyesakkan bagi manusia seperti Miharu, alih-alih Roh? pikirnya bertubi-tubi.
Juga semakin disadarinya pula kejanggalan dari tempat ini. Sebagai eurevail, Miharu bisa merasakan betapa sedikitnya Roh yang tinggal di dalam tempat ini—itupun hanya segelintir Roh tak bernama yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Bisa dirasakannya sebagian kecil ini ditekan oleh kekuatan lain. Tekanan yang sepertinya sama seperti aura yang menyelimuti sang Perantara.
Anak perempuan kecil itu menjulurkan tangannya, sementara Miharu masih berusaha mengerahkan segenap tenaganya untuk kembali bergerak. Dia sudah dekat sekali sekarang. Jemarinya yang kecil dan kurus menyentuh pipi Miharu. Dingin.
Aku tidak pernah melihat siapapun selain Ibunda di sini, katanya lagi-lagi dengan sensasi yang sama seperti sebelumnya. Miharu bisa merasakan tubuhnya sendiri kini gemetaran. Apakah kau salah satu dari mereka? tanyanya lagi. Salah satu dari... anak yang tersesat?
Saat itu juga tatapan mereka bersirobok. Miharu dan sang Perantara, yang sepasang matanya tak lagi memandang kosong, melainkan menatap Miharu tajam. Dingin sentuhan jemarinya mengantar kedua mata Miharu menutup. Yang terakhir dilihatnya adalah sepasang mata si anak perempuan yang merah menyala, kemudian ujung-ujung bibirnya naik membentuk seulas senyuman berlesung pipi. Kemudian dia jatuh ke dalam kegelapan.
Lalu kedua matanya kembali membuka dan dilihatnya pemandangan lain, meskipun sedetik lalu dia masih yakin dalam keadaan tidak bisa bergerak seinci-pun.
“Hanya sepasang mata,” kata Floa pelan, duduk menghadap perapian. “Warnanya merah darah. Dia mengatakan sesuatu, tapi tak pernah bisa kuingat.” Miharu mengingat, dia pernah melihat gadis itu dalam keadaan yang sama persis. Di tenda Hiram. Wajahnya muram. Bayangan api menari-nari di bola matanya. Kemudian Floa menolehkan kepalanya. Bias cahaya membuat kedua matanya yang kecoklatan sekilas berwarna kemerahan juga.
Pemandangan berubah dalam sekejap. Warna merah memenuhi pandangan Miharu. Hawa panas menyergap di sekelilingnya. Sebuah mansion dilalap kobaran api. Begitu terangnya hingga malam bagaikan siang. Miharu melangkah mundur dan dia sadar bahwa dia sudah bisa bergerak kembali. Dia mengangkat kedua tangannya untuk memastikan, tapi kedua tangannya kotor berlumuran cairan merah lengket. Di hadapannya, entah sejak kapan, sesosok laki-laki berbaring kaku di lantai tak bergerak. Matanya terbuka. Sebuah pecahan kaca menancap di dadanya. Seorang anak perempuan berdiri di pojok ruangan. Menatapnya nyalang. Sesosok bayi menangis keras dalam gendongannya. Anak itu sendiri menangis. Sedetik kemudian dia berteriak nyaring, “Pembunuh!”
Air mata itu mengalir jatuh dari pipinya, turun ke dagunya, kemudian menetes menuju lantai...
“Jangan sentuh dia!” Miharu merasa seseorang menubruk tubuhnya dari samping. Mereka berdua jatuh bergulingan di tanah. Silau, Miharu berusaha menyipitkan matanya dari sinar matahari yang menghantamnya telak.
“Jangan... sakiti dia! Aku tidak akan membiarkanmu!” sengal si gadis dengan kepala terbaring di dadanya. Kemudian gadis itu mendongak. Wajahnya yang bundar berkilau penuh tekad. Sekali lagi dalam pengelihatan yang bertubi-tubi, Miharu kembali menyaksikan sepasang mata yang berubah warna menjadi kemerahan. Air mata gadis itu jatuh di pipi Miharu...
***




2 komentar:
sudah kukomen di ym yah :D
Hiiyy... Miharu kayak didekati ama hantu. >_<
Bagian ini cuma buat flash dreams-nya Miharu kah, Chie?
Terus, maksud kata-kata anak yang menabrak Miharu itu apa? Dia gak mau Miharu menyentuh sosok gadis ringkih, atau sebaliknya? :D
Posting Komentar