Pages

Tampilkan postingan dengan label romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label romance. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Oktober 2012

19: 9 - Perjanjian yang Sungguh-Sungguh



-9-

“Masih marah?”

Tara membuang pandang. Kedua tangannya dikepalkan di bawah meja. Dibiarkannya cowok itu duduk di kursi seberang tanpa menjawab pertanyaannya.

Jumat, 19 Oktober 2012

Avatar Para Karakter 19

Kurasa judulnya udah cukup jelas buat ngegambarin apa kira-kira isi postingan blog ini. Dan yeah, ini adalah bayangan pribadiku buat karakter-karakter dari proyek 19 (yang kukerjain hari ini karena... kurang kerjaan sehabis ngampus?). Kurasa ini lumayan mencakup semua karakter yang udah muncul sampai tahap sekarang, kecuali karakter Bu Lastri di awal bab satu, tapi dia beneran terlalu nggak penting (dan aku juga mempertimbangkan buat ngehapus adegan itu begitu udah waktunya revisi, jadi...). Dan mungkin ada juga yang kelupaan, tapi rasa-rasanya ngga.

Senin, 06 Agustus 2012

19: 8 - Tara dan Kris


(Bab ini kayaknya datar dan ngebosenin setelah saya baca ulang, padahal Kris muncul perdana! Graaaooo! (ノಠ益ಠ)ノ彡┻━┻

Seperti biasa, mohon kritik dan sarannya. Dan kayaknya saya juga perlu bantuan nerjemahin "rolling door" di bagian deket akhir, soalnya ngga tau indonesianya apa sedangkan saya selalu nyebut begitu.) 

-8-

Jantung Tara masih berdebar-debar begitu dia tiba di halaman belakang sekolah yang kosong dan gelap. Langkahnya melambat. Sesaknya bukan main. Tara berusaha berpikir jernih, tapi kepalanya seakan mau pecah.

Rabu, 01 Agustus 2012

19: 7 - Benang Kusut

-7-

Sisa dua minggu menuju pentas seni sekolah berlalu bagai sekejap mata. Suasana hati Tara dibiarkan mengapung, sama mengapungnya dengan ‘kelanjutan mereka’ yang terus menerus dia pikirkan semenjak hari itu. Baik karena kesibukan belajar maupun mengurus klub, pikiran-pikiran tersebut maupun perasaannya timbul tenggelam.

Namun entah bagaimana Tara punya firasat, cepat atau lambat, tidak peduli sesering apapun dia menghindari Maurice saat itu, pada akhirnya konfrontasi tetap harus terjadi. Meski toh cowok itu tidak (atau belum) meminta Tara menjadi pacarnya, sama seperti dia sendiri terhadap Liam, Tara tidak percaya perasaan sepihak begini bisa dibiarkan berlarut-larut tanpa ada ujung yang jelas.

Selasa, 31 Juli 2012

19: 6 - Perasaan Mereka


-6-

Pagi sepertinya masih buta. Mengikuti aroma telur dan kopi, Tara meraba-raba pegangan tangga, bergegas turun ke dapur. Sesuai dugaan, kakaknya sudah ada di sana, mengenakan kemeja putih yang ditutup celemek masak, tengah sibuk menyiapkan keperluan adik-adiknya.

“Lho? Tumben bangun sebelum dibangunin.”

“Semaleman tidurku nggak nyenyak,” keluh Tara. Piring makan kaca di depannya memberitahu Tara bahwa pagi ini dia terlihat seperti panda.

“Mandi dulu baru makan,” kata Kara tegas. “Sekalian bangunin Nara juga, ya.”

Kamis, 19 Juli 2012

19: 5 - Hujan dan Titik Temu


(preface:

AAAAAAH GILAAA! щ(°□°щ) Ini bab 19 paling KEJU yang kukerjain selama ini! Kalau awalnya aku udah cukup stress sama adegan bersepedanya Tara dan Liam, aku sepenuhnya pengen banting laptop pas ngerjain bagian dialog terakhir sama Maurice. Sooo lacking, baik pendalaman suasananya maupun kelancaran dialognya. Dan oh, si Maurice jadi manusia random. Saking ngerasanya kalau chapter ini gajelas pol, aku sempat minta pendapat beberapa orang soal adegan sepeda. Ada yang bilang itu gula, ada yang bilang narasinya terlalu loose--mungkin karena aku ngotot ngehindarin keju, ada juga yang bilang itu keju akut. Aku beneran nggak tahu lagi... "OTZ

Sayangnya, kurasa adegan itu tetap nggak separah dialog terakhir sama Maurice itu. Sejauh ini, aku beneran udah ngehancurin karakterisasi doi. Entah apa yang terjadi sama aku sendiri, tapi dialog-dialog karakternya beneran menurun jauh.

Bab 5 ini akhirnya berhasil ngalahin Bab 2-3 dalam ranking bab yang paling butuh perombakan. Yah, bagaimanapun juga, the story must go on and on and on sebelum aku diseret kembali ke kehidupan kuliah. Kalau nyelesain first draft novel ini terlalu muluk buat target liburan, seenggaknya plis, Tuhan, biarkan aku nulis sampai kemunculan Kris.)

Minggu, 15 Juli 2012

19: 4 - Tara dan Maurice


-4-

“...buka stand majalah?”

Maurice nyengir. “Cuma usul,” katanya, mengangkat kedua tangan pada seisi ruang klub yang mendadak memperhatikannya. “Apa kalian masih nyimpen sisa stok majalah dua bulanan sekolah selama ini?”

Tara melirik tumpukan majalah, kertas, koran, dan gabus yang tumpang tindih di atas lemari penyimpanan. Sepertinya sih banyak, dia membatin.

19: 3 - Harga Popularitas dan Udara


-3-
                                                                                 
Masa kanak-kanak sampai SMP Tara dihabiskannya di ibukota. Cenderung tertutup dan tidak populer, dia menganggap pergaulan anak-anak normal di sekitarnya merisihkan. Ketika papa dan mama Tara pulang kantor membawa berita bahwa mereka akan bertugas selama dua tahun di Australia, mendadak Tara diputuskan untuk pindah ke kota kecil bernama Danasari di pulau seberang, dan tinggal bersama kakak perempuannya yang memang bekerja sambil mengontrak di sana. Sama sekali tidak kecewa, Tara membiarkan orangtuanya mengatur mulai dari keberangkatannya, sampai SMA tempat dia akan bersekolah.

Sebenarnya, Tara pikir pergaulan di pulau seberang sana pasti tidak mengerikan seperti anak-anak ibukota. Dan mungkin saja dia benar. Tapi itu tidak lantas berarti Tara tidak mengalami kesulitan bergaul di sekolahnya yang baru.

19: 2 - Tara dan Liam


-2-
Waktu itu Tara tidak tahu banyak soal cowok bernama William yang menjadi teman sekelasnya. Selain betapa dia dan dua orang temannya selalu disebut Gerombolan Udara oleh anak-anak sekelas. Mereka selalu ada di sekitar, tapi kehadiran mereka jarang disadari apalagi dihargai orang lain.

"Hah?"

19: 1 - Keputusan Tara


-1-

"Kalau begitu, kita sepakat. Saya akan mengirim si calon untuk menemui Nona akhir pekan ini. Boleh tahu kira-kira apa hobi Nona?"

"Er..." Tara ingat dia berpikir dengan buru-buru, sudah tidak lagi mempedulikan alasan mengapa pertanyaan itu penting saking jengahnya dia. "Mendengarkan musik... mungkin."

Selepas mengatakannya, Tara agak menyesal. Mendengarkan musik kedengarannya tidak begitu istimewa, padahal dia butuh terdengar istimewa untuk mendapat kandidat yang juga istimewa. Walau begitu, air muka lawan bicaranya--seorang perempuan muda bergaun hijau dengan rambut ikal kecokelatan tergerai--tetap tidak berubah.