-6-
Pagi sepertinya masih buta.
Mengikuti aroma telur dan kopi, Tara meraba-raba pegangan tangga, bergegas
turun ke dapur. Sesuai dugaan, kakaknya sudah ada di sana, mengenakan kemeja putih
yang ditutup celemek masak, tengah sibuk menyiapkan keperluan adik-adiknya.
“Lho? Tumben bangun sebelum
dibangunin.”
“Semaleman tidurku nggak
nyenyak,” keluh Tara. Piring makan kaca di depannya memberitahu Tara bahwa pagi
ini dia terlihat seperti panda.
Setelah menguap dan mengulet,
Tara memaksa dirinya bangkit lagi dari kursi. Dia naik kembali ke atas, masuk
lagi ke kamar yang ditempatinya berdua dengan adik perempuannya. Tangannya menekan
sakelar, menyalakan lampu. Gundukan berselimut di seberang ranjang Tara bergerak-gerak,
kemudian kepala adiknya menyembul dengan keadaan mata segaris.
“Bangun, ayo bangun!” kata Tara
keras-keras, berjingkat di atas lantai kamar yang dingin untuk mencapai lemari
baju. Setelah mengambil semua keperluannya, dia meninggalkan kamar tidur menuju
kamar mandi.
Tara memutar keran dan mulai
menyikat gigi. Sementara dia melakukan itu, raut wajahnya sendiri terus
menatapnya dari pantulan cermin, seakan-akan itulah pertama kali dalam
hidupnya, Tara memperhatikan wajahnya sendiri dengan baik. Tara tidak pernah
merasa diri istimewa soal penampilan, juga bukan berarti dia menaruh banyak
perhatian terhadap hal tersebut. Kulitnya pucat—memang selalu begitu. Rambutnya
berantakan, terurai hingga melewati pundak. Poninya sudah terlalu panjang.
Matanya redup dan mengantuk. Terhadap dia yang seperti ini, bagaimana bisa
Maurice....
Dan bahkan kemunculan nama itu
dalam benak Tara sudah langsung memicu serangkaian reaksi. Tangannya yang
memegang gagang sikat tersentak berhenti. Isi perutnya berguncang. Apa yang
terjadi hari Jumat lalu membanjir keluar dari sumbatnya dalam ingatan Tara,
seakan dipancing oleh mimpi-mimpi buruknya semalam, dalam bentuk gema
penjelasan cowok itu.
“...sudah sejak lama aku merhatiin Tara. Mungkin sejak
dengerin cerita-ceritamu ke Rista, Irma, dan Cindy dulu. Waktu itu, aku ngerasa
kamu tahu banyak soal manga, dan aku kepengen banget ngobrolin semua itu sama
kamu sesekali... Terus tahu-tahu kamu jauhin mereka. Aku sama sekali nggak
dapet kesempatan, tapi aku malah makin penasaran...
“...Biarpun awalnya aku pengen gabung karena mau ngobrol
sama Tara, sebenernya aku selalu tertarik buat nyoba bikin ilustrasi.. jadi
kupikir ide bergabung sama klub jurnalistik itu boleh juga.
“Maaf, sebenernya karena ini juga aku terkesan sensitif
banget tadi. Hahaha.
“Jadi pada intinya, aku.............”
“Kak Tara!”
Kedua tangan Tara mengejang di
atas meja makan. Potongan telur dadarnya berayun-ayun, kemudian jatuh dari
garpu.
“Nara! Nggak usah teriak
ngagetin gitu dong,” protes Tara pada adiknya yang tengah memelototinya dari
kursi sebelah.
“Siapa suruh bengong,” kata
Nara sambil terkikik. “Itu, di depan ada teman kakak.”
Wajah Tara pias. Mendadak perutnya
yang baru sedikit diisi kembali bergejolak.
“Teman yang mana? Kayak apa
ciri-cirinya?” bombardirnya ketakutan.
“Lho kok kak Tara ketakutan
banget? Emangnya ada apa?” tanya Nara penuh selidik, kelihatannya sangat
tertarik akan penyebab kepanikan kakaknya yang paling kecil. Akhirnya tidak
sabar menghadapi adiknya yang kepo,
Tara langsung berdiri, berlari menuju ruang depan. Dia mengintip dari balik tirai
jendela. Nara masih menempel, ikut membuat celah persis di bawahnya.
“Siapa sih? Pacar kak Tara ya?”
Wajah Tara langsung memerah.
Bisa-bisanya Nara menggunakan kata ‘p’ itu di saat penggunaannya tidak bisa
lebih relevan lagi!
“Emangnya kamu belum lihat
orangnya?”
“Belum liat jelas. Keburu
disuruh ke dalam buat manggil kakak sama kak Kara.”
Tara hampir saja tersedak
ludahnya sendiri. “Jadi kak Kara juga di depan?! Lagi ngobrol?!”
Kepala berkuncir Nara
mengangguk-angguk sambil mendongak, menyelidiki ekspresi Tara dengan cengiran
penasaran di wajah. Tara menahan napas. Dia membuka pintu, keluar, lalu
medorongnya menutup dengan punggung supaya Nara tidak menyusul keluar juga.
Jantungnya tengah bersiap. Otaknya membaca mantera. Semoga bukan orang yang dia
pikirkan.... semoga bukan... semoga
bukan...
Tara melangkah seperti penguin,
menghampiri kakaknya yang tengah bercakap-cakap dengan siapapun itu yang
wajahnya terhalang ketinggian pagar. Dia menjulurkan lehernya ke luar, lalu
melongo.
“Oh! Hai Tara,” sapa Joice
ceria.
“Eh, muncul juga akhirnya,”
kata Pandu di sela-sela obrolan serunya dengan Kara.
Tadinya Tara sudah akan menghela
napas lega melihat mereka berdua, tapi helaan napasnya menyangkut di
kerongkongan begitu dia menyadari Liam berada persis di sebelahnya, bersandar
ngantuk pada dinding pagar.
“Oi,” sapanya berat dan datar.
“Jepit rambutmu mau copot tuh.”
Spontan saja, Tara meraba
rambutnya, membenarkan posisi jepitnya dengan tangan gemetaran. Boro-boro jepit rambut. Jantung Tara
yang hampir mau copot melihatnya dalam jarak segitu dekat. Dan bahkan kehadiran
Liam sudah cukup membuat perasaan Tara bertambah galau, kalau sebelumnya masih
belum maksimal.
“...kok kalian di sini?” tanya
Tara begitu saja, keheranan luar biasa.
“Ngajak kamu berangkat bareng,
Tara,” jawab Joice, nampak lebih berseri-seri daripada biasanya. “Habisnya kamu
kelihatan murung Jumat kemarin.”
“Sudah selesai sarapannya?”
tanya Kara, menoleh pada Tara. Senyum penuh pengertian di wajah kakaknya itu
membuat Tara berpikir, kalau-kalau tadi dia sempat membicarakan Tara dengan
teman-temannya. “Ayo cepat bersiap. Nanti telat lho.”
Tara tidak perlu disuruh dua
kali. Dia berbalik masuk ke rumah, tergopoh-gopoh mengambil tasnya, mengucapkan
selamat tinggal pada Nara yang masih penasaran, lalu naik ke atas sepeda. Liam
dan Joice naik ke atas sepeda mereka masing-masing begitu melihat Tara keluar
dengan sepedanya. Pandu naik ke atas boncengan sepeda Liam, duduk menyamping
dengan tidak nyaman.
“Daaah! Belajar yang bener!”
seru Kara sambil melambai, sementara ketiga sepeda bergerak menjauh, menghilang
di tikungan. Satu demi satu, bergerak melewati tanjakan bukit menuju jalanan
datar di tengah area persawahan. Begitu sorotan matahari terlihat lebih terang,
kayuhan mereka mulai santai. Tara melirik Joice, yang bersepeda tak jauh di
sebelahnya. Di depan sana, Pandu dan Liam sedang bertengkar mengenai apakah
Liam sengaja memilih jalur yang banyak kerikilnya atau tidak.
“Kakakku ngomong apa sama
kalian?”
Joice mengangkat wajahnya yang
tadinya terfokus pada jalanan di depan. Wajahnya yang bundar nampak
berkeringat, berkilau ditimpa cahaya lembut matahari pagi.
“Eh? Enggak banyak kok, dia
cuma agak kaget karena katanya kamu nggak pernah cerita soal teman-teman.”
“...apa dia kelihatan lega?”
Sejenak hening. Ketiga sepeda
berbelok ke arah tikungan tajam, memasuki pasar yang masih sepi.
“Iya sih. Agak.”
Tara menunduk, berpikir. Dia
tidak banyak cerita pada kakaknya mengenai kehidupan sekolah, kecuali yang
bersangkutan dengan prestasi akademisnya. Kadang-kadang, situasi menjadi tidak
bisa disembunyikan—seperti ketika seragam olahraga Tara ‘hilang’ untuk yang
ketiga kalinya, atau ketika Tara pulang ke rumah dalam keadaan basah, meskipun
saat itu hujan tidak turun. Makanya, sedikit banyak Kara pasti memikirkannya.
Hanya saja, dia barangkali juga sadar bahwa Tara tidak ingin membebaninya
dengan masalah ini, mengingat dia harus menjaga Tara dan Nara sekaligus
sendirian sambil sibuk bekerja.
“Thanks ya, Joice.”
“Eh?” Joice nampak malu-malu,
tapi Tara menyunggingkan senyum senang. “Sama-sama, Tara. Walau sebenernya sih,
yang ngusulin buat ngajakin kamu berangkat bareng itu Liam.”
Cengiran surut dari wajah Tara,
digantikan rona merah yang menyebar sampai ke akar-akar rambutnya. Untung saja
saat itu mereka melintas di bawah bayang-bayang deretan pohon pinus, sehingga
tidak satupun dari mereka yang bisa melihat dengan jelas wajah satu sama lain.
Beberapa meter jauhnya di depan
sepeda Tara, Liam sedang tertawa-tawa. Sepedanya oleng sebentar-sebentar,
sementara Pandu berseru-seru ketakutan di belakang, hingga akhirnya dia
menjambak rambut Liam saking kesalnya—memaksa Liam mengemudikan sepeda dengan
normal. Tara mengernyit takut ketika sepeda akhirnya malah tumbang, menggulingkan
keduanya ke permukaan tanah. Joice menjerit ngeri, mengomeli keduanya. Pandu
segera bangkit, mengumpat-umpat. Tapi Liam tetap duduk di jalanan, masih terbahak-bahak.
Tara menghentikan sepedanya
menyusul Joice. Detik itu juga, hatinya berdenyut. Bukan debaran yang sama
seperti biasa dia berhadapan dengan Liam. Kali ini lebih mendesak. Lebih pekat.
Lebih sakit.
“...aku suka sama kamu.”
Sensasi yang ditimbulkan
kata-kata itu terulang jernih dalam benaknya. Seperti tetesan air pertama pada
sebidang tanah yang selama ini kering, lalu meresap. Suka. Seperti Maurice padanya. Tara menyukai Liam. Entah sudah
berapa lama dia bersikeras menghindarkan pernyataan tersebut dari kepalanya.
Barangkali karena sejauh ini, hal-hal semacam itu masih terasa asing bagi Tara.
Tapi kini, setelah perasaan itu disodorkan kepadanya, Tara tidak bisa mengelak
lagi dari eksistensinya.
Dia sudah punya perasaan
semacam itu. Tapi bukan untuk Maurice. Dan tidak bisa untuk siapapun. Kecuali
untuk Liam.
..tapi, lalu apa?
Dengan tangan kaku mencengkeram
kemudi sepeda, Tara memperhatikan pelan-pelan Liam bangkit berdiri,
menepuk-nepuk celana seragamnya, lalu nyengir. Cengiran itu, entah bagaimana,
seperti ditujukan padanya. Tara membalas dengan dengus tawa pelan nan getir. Isi
kepalanya kosong. Dia takut. Tidak tahu mau berbuat apa dengan perasaannya. Tapi
di saat bersamaan, hatinya seperti mau meledak dengan harapan yang membuncah,
membuatnya sesak.
Di kemudian hari, dia tidak mau
lagi merasa kebingungan saat seseorang menyodorkan perasaan seperti itu ke
hadapannya. Sedangkan detik itu juga, Tara tahu jika dia berada sedikit lebih
dekat dengan Liam, mungkin dia akan merasa jauh lebih tenang. Kesimpulannya
datang sama mudahnya dengan pernyataan yang selama ini dia sangkal barusan.
Liam adalah orang yang dengannya Tara ingin bersama.
Kali berikutnya Tara mengayuh
sepedanya, dia memikirkan Maurice, dan apa yang akan terjadi pada cowok itu,
dengan perasaannya yang seperti itu dan perasaan Tara yang seperti ini. Lalu
sekali lagi, tatapannya jatuh pada punggung Liam, dan Tara pun kembali membatin.
Apa yang akan terjadi pada mereka semua?
***
“Lomba?”
“Iya. Ikut yuk,” ajak Tara,
sementara di sebelahnya, Joice tengah mengamat-amati mading yang ditempel di
papan sebelah ruang piket. Meskipun pembuatan mading mereka kali itu cenderung
buru-buru, Tara cukup bangga karena ternyata hasilnya lumayan menarik.
“Ada hadiahnya,” ujar Joice,
nampaknya kagum.
“Temanya nggak dibatasi?” Pandu
bertanya. Tara menggeleng. “Kalau gitu aku mau coba-coba ngirim puisi ah.”
“Sejak kapan kamu bikin puisi?”
dengus Liam dengan nada meragukan, baru saja keluar dari ruang piket diikuti
tatapan tajam Bu Leni. Noda-noda debu tanah masih tercetak di atas baju
seragamnya.
“Aku emang bisa kok! Jangan
sirik ya!”
“Oh ya? Tunggu, jangan-jangan
salah satunya yang waktu itu ada di belakang buku catatan Ekonomi kamu...
Bunyinya...”
“Udah! Udah!” bentak Joice
sebal, mengibas-ngibaskan tangan ke kedua cowok itu, terutama karena Pandu
sepertinya bakalan murka. Lalu dia mendesis, “Liam, kamu masih dilihatin Bu
Leni, ntar hukumanmu diperpanjang kalau berisik di lorong...”
“Ups.”
“Ayo ke kantin sekarang,” kata
Tara, mencoba mencerahkan suasana, menunjuk lalu berbalik ke arah tangga.
“Nanti ga sempat makan lho...”
Ucapannya terhenti, bukan
karena memang sudah selesai. Tanpa sengaja, ujung jemari Tara menabrak sesuatu.
Dia bergeser menjauh, setengah bengong setengah syok menatap balik serombongan
orang yang baru saja naik ke lantai dua. Irma dan Cindy, keduanya membelalak
pada Tara. Handi baru saja menyelesaikan deretan anak tangga, mengambil napas,
dan nampak sibuk dengan headset, tak ambil
peduli sama sekali. Rista muncul belakangan, bersama Maurice, tengah
membicarakan sesuatu yang agaknya serius. Melihat reaksi kedua temannya, cewek
itu mendongak.
Kabut ketidaksukaan menggelayuti
wajah Rista yang tirus dibingkai helai-helai rambut dan poninya yang halus, ketika
dia bersitatap dengan Tara sambil menggigit bibir bawahnya. Dan itu bukan
reaksinya yang biasa dia tunjukkan kalau kebetulan bertemu Tara, jika dia tidak
salah menafsirkan. Mereka terang-terangan berhenti. Saling lirik, dengan
atmosfer kebencian yang kental. Tara tidak bisa membuang muka dari Rista, tapi itu
juga karena dia tidak mau menatap pemuda di sebelahnya. Tidak sanggup mencari
tahu wajah seperti apa yang dia tunjukkan saat itu.
Kemudian Tara merasa tangan kanannya
digenggam. Erat, membanjirinya dengan kehangatan yang membawanya kembali pada
kenyataan. Bahwa dia tidak perlu takut—bahwa kali ini dia tidak sendirian.
“Ayo jalan.”
Begitu saja, Liam menyeretnya
menuruni tangga, melewati pundak-pundak mereka yang menghujani Tara dengan
tatapan sinis. Joice dan Pandu mengikuti dengan patuh di belakang. Saat itu,
seandainya Tara cukup berani untuk mengalihkan pandangannya dari lantai, mungkin
dia akan melihat Maurice tengah menyipitkan mata, mengamati sosok Liam yang
menjauh sambil menggiring Tara pergi. Namun sepasang mata Tara sibuk mengawasi
langkah kakinya sendiri, sambil sesekali melirik tangannya yang masih dalam genggaman
Liam takut-takut.
Tidak satupun dari mereka
bicara selagi keempatnya berjalan menyusuri lapangan, mencapai gedung kantin
yang letaknya terpisah.
“Kamu... sebenernya kemarin ngomongin apa sih sama cowok
itu?”
***
Senin itu hari yang berat, dan
kejutan yang diterima Tara ternyata belum selesai sampai di sana.
“Nggak sabar ya,” kata Berta di
siang menjelang sore yang terik. Saat itu hanya ada dia dan Tara duduk
berhadapan di ruang klub, tengah menyortir gambar-gambar peserta lomba
ilustrasi yang sudah diterima. “Tapi tegang juga. Semoga majalah edisi spesial kita
banyak peminatnya.”
“Pasti,” kata Tara optimis, berhenti
sejenak untuk menerawang dan mengagumi sebuah karya yang bagus. “Selama kita jual
dengan harga yang ramah, ya...”
“Siapa yang nanti jaga stand?”
“Mungkin kita semua dapet
giliran.... kecuali Sari, kayaknya. Katanya dia mau keliling buat ngeliput
pensi. Oh, Febrian juga ikut ngeliput, buat ngambil foto.”
Berta mengangguk-angguk.
Sejenak hening. Tara sibuk memilah-milah antara ilustrasi yang disukainya dan
yang tidak begitu disukainya. Baru beberapa menit kemudian dia menyadari betapa
Berta meliriknya sembunyi-sembunyi tiap beberapa detik sekali, juga betapa
cewek itu jauh lebih pendiam daripada biasanya hari ini.
“Apa? Kenapa?” tanyanya curiga.
“Nggak kenapa-napa.”
“Bohong. Pasti ada apa-apa...”
Sekonyong-konyong, Berta
memukul meja. Wajahnya penuh tekad. Tara berjengit mundur, kaget.
“Oke, aku bilang,” katanya,
lebih seperti pada dirinya sendiri. “Tara, apa pendapatmu soal si Maurice itu?”
“Eh?” Tara mengerutkan dahi, merasa
ganjil. “Emang kenapa?”
Dia bisa melihat temannya itu
sedang berusaha terlihat tenang. Tapi mengenal Berta sejak awal tahun ajaran,
Tara langsung membaca ada sesuatu yang tersembunyi dari lirikan sudut matanya
yang terus berpindah.
“...cuma iseng nanya aja kok,” ujarnya.
“Habisnya kan... kamu sempet bermasalah sama dia dan teman-temannya itu...”
“Errr,” gumam Tara, bingung mau
menanggapi bagaimana. “Aku sama Maurice biasa-biasa aja kok.” Bohong. Tara sukar percaya dia harus
berbohong sampai dua kali mengenai hubungannya dengan cowok itu, di hari yang
sama. Tapi mau bagaimana lagi, Tara bukan tipe yang nyaman atau dengan
gampangnya membicarakan soal percintaan, meskipun kali itu dia berhadapan
dengan teman baiknya.
Hanya saja, dari mimik mukanya,
Berta sepertinya belum puas membicarakan topik ini, meskipun sejenak dia
terlihat lebih lega. Masih ada hal-hal lain yang mau dia sampaikan mengenai
Maurice, dan mendadak Tara mendapat firasat tak enak.
“Ada sesuatu ya, sama dia?”
pancing Tara. Tidak, jangan sampai firasatnya terbukti benar. Meskipun dia
sudah menyalami Maurice, serta sepakat untuk mengusir semua pikiran negatifnya
mengenai cowok itu—tetap saja, apapun mungkin terjadi. Kalau sampai Rista dan
kawan-kawan sampai menggunakan Maurice untuk menjahati teman-teman Tara...
“Sebenernya...” Sikap Berta
yang ragu-ragu membuat Tara semakin paranoid. “Aku cuma nyadar, dia ternyata
baik banget. Padahal selama ini kukirain dia sama belagunya kayak
teman-temannya itu...”
Oke. Jadi Tara salah paham...
sepertinya bukan itu yang terjadi antara Berta dan Maurice.
“...kemarin itu aku sempet
ngobrol sebentar sama dia, dan ternyata dia asik banget diajak ngomong. Kami
ngobrolin buanyak banget, mulai dari konsep majalah, ilustrasi, komik, sampai
mangaka...”
Tunggu sebentar.
Otak Tara macet. Semakin lama, kesan arahnya jadi semakin aneh...
“...menurutku orangnya beneran
oke. Mana dia udah ngebantu kita soal ide pensi ini. Tapi kayaknya dia agak
minder soal Sari yang masih agak gimana sama dia, jadi aku bilang sama dia...”
“Berta,” Tara menyela cerita
temannya, tidak bisa mengontrol suaranya supaya tidak terdengar serius. “Kamu...
naksir orang ini? Naksir Maurice?”
Detik berikutnya, terjadi
perubahan warna yang kontras antara kedua cewek dalam ruangan tersebut. Kalau
wajah Berta bersemu merah semerah-merahnya, wajah Tara kehilangan warnanya sama
sekali. Walau tentu saja, Berta tidak menyadari yang terakhir.
“E-engga yakin juga,” tukasnya
dengan suara bergetar. “T-tapi, aku emang jadi kepikiran dia, Gimana nih, Tara...?”
‘Gimana’?!
Saat itu juga, Tara ingin sekali mengerang sekeras-kerasnya, atau menjatuhkan
dirinya dengan dramatis ke lantai. Sayang sekali, melihat ekspresi wajah temannya
itu, sepatah kata maupun sedikit gerakan pun tidak bisa dia lontarkan. Berta
naksir Maurice, dan sekarang dia bertanya ‘gimana’ pada Tara. Sedangkan bagi
Tara, jawaban untuk pertanyaan barusan bagaikan x dari soal persamaan Matematika
yang harus dicari dulu a, b, c, dan d-nya.
Dan untuk soal yang satu ini,
Tara mungkin sama bingungnya dengan murid yang tidak pernah membuka buku
pelajaran barang selembarpun.
***




2 komentar:
Rekap komennya kak Ai:
tapi penggunaan 'sedangkan' di ending ini yg agak ganggu, entah sih pastinya gmn cuma kek gigit sesuatu tp ga berhasil trus dipaksa buat gigit lagi...hehe itu aja sih mungkin polanya aja yg aku baru nemu
*gelindingan di kolom komentar*
Posting Komentar