Pages

Selasa, 31 Juli 2012

19: 6 - Perasaan Mereka


-6-

Pagi sepertinya masih buta. Mengikuti aroma telur dan kopi, Tara meraba-raba pegangan tangga, bergegas turun ke dapur. Sesuai dugaan, kakaknya sudah ada di sana, mengenakan kemeja putih yang ditutup celemek masak, tengah sibuk menyiapkan keperluan adik-adiknya.

“Lho? Tumben bangun sebelum dibangunin.”

“Semaleman tidurku nggak nyenyak,” keluh Tara. Piring makan kaca di depannya memberitahu Tara bahwa pagi ini dia terlihat seperti panda.

“Mandi dulu baru makan,” kata Kara tegas. “Sekalian bangunin Nara juga, ya.”

Setelah menguap dan mengulet, Tara memaksa dirinya bangkit lagi dari kursi. Dia naik kembali ke atas, masuk lagi ke kamar yang ditempatinya berdua dengan adik perempuannya. Tangannya menekan sakelar, menyalakan lampu. Gundukan berselimut di seberang ranjang Tara bergerak-gerak, kemudian kepala adiknya menyembul dengan keadaan mata segaris.

“Bangun, ayo bangun!” kata Tara keras-keras, berjingkat di atas lantai kamar yang dingin untuk mencapai lemari baju. Setelah mengambil semua keperluannya, dia meninggalkan kamar tidur menuju kamar mandi.

Tara memutar keran dan mulai menyikat gigi. Sementara dia melakukan itu, raut wajahnya sendiri terus menatapnya dari pantulan cermin, seakan-akan itulah pertama kali dalam hidupnya, Tara memperhatikan wajahnya sendiri dengan baik. Tara tidak pernah merasa diri istimewa soal penampilan, juga bukan berarti dia menaruh banyak perhatian terhadap hal tersebut. Kulitnya pucat—memang selalu begitu. Rambutnya berantakan, terurai hingga melewati pundak. Poninya sudah terlalu panjang. Matanya redup dan mengantuk. Terhadap dia yang seperti ini, bagaimana bisa Maurice....

Dan bahkan kemunculan nama itu dalam benak Tara sudah langsung memicu serangkaian reaksi. Tangannya yang memegang gagang sikat tersentak berhenti. Isi perutnya berguncang. Apa yang terjadi hari Jumat lalu membanjir keluar dari sumbatnya dalam ingatan Tara, seakan dipancing oleh mimpi-mimpi buruknya semalam, dalam bentuk gema penjelasan cowok itu.

“...sudah sejak lama aku merhatiin Tara. Mungkin sejak dengerin cerita-ceritamu ke Rista, Irma, dan Cindy dulu. Waktu itu, aku ngerasa kamu tahu banyak soal manga, dan aku kepengen banget ngobrolin semua itu sama kamu sesekali... Terus tahu-tahu kamu jauhin mereka. Aku sama sekali nggak dapet kesempatan, tapi aku malah makin penasaran...

“...Biarpun awalnya aku pengen gabung karena mau ngobrol sama Tara, sebenernya aku selalu tertarik buat nyoba bikin ilustrasi.. jadi kupikir ide bergabung sama klub jurnalistik itu boleh juga.

“Maaf, sebenernya karena ini juga aku terkesan sensitif banget tadi. Hahaha.

“Jadi pada intinya, aku.............”

“Kak Tara!”

Kedua tangan Tara mengejang di atas meja makan. Potongan telur dadarnya berayun-ayun, kemudian jatuh dari garpu.

“Nara! Nggak usah teriak ngagetin gitu dong,” protes Tara pada adiknya yang tengah memelototinya dari kursi sebelah.

“Siapa suruh bengong,” kata Nara sambil terkikik. “Itu, di depan ada teman kakak.”

Wajah Tara pias. Mendadak perutnya yang baru sedikit diisi kembali bergejolak.

“Teman yang mana? Kayak apa ciri-cirinya?” bombardirnya ketakutan.

“Lho kok kak Tara ketakutan banget? Emangnya ada apa?” tanya Nara penuh selidik, kelihatannya sangat tertarik akan penyebab kepanikan kakaknya yang paling kecil. Akhirnya tidak sabar menghadapi adiknya yang kepo, Tara langsung berdiri, berlari menuju ruang depan. Dia mengintip dari balik tirai jendela. Nara masih menempel, ikut membuat celah persis di bawahnya.

“Siapa sih? Pacar kak Tara ya?”

Wajah Tara langsung memerah. Bisa-bisanya Nara menggunakan kata ‘p’ itu di saat penggunaannya tidak bisa lebih relevan lagi!

“Emangnya kamu belum lihat orangnya?”

“Belum liat jelas. Keburu disuruh ke dalam buat manggil kakak sama kak Kara.”

Tara hampir saja tersedak ludahnya sendiri. “Jadi kak Kara juga di depan?! Lagi ngobrol?!”

Kepala berkuncir Nara mengangguk-angguk sambil mendongak, menyelidiki ekspresi Tara dengan cengiran penasaran di wajah. Tara menahan napas. Dia membuka pintu, keluar, lalu medorongnya menutup dengan punggung supaya Nara tidak menyusul keluar juga. Jantungnya tengah bersiap. Otaknya membaca mantera. Semoga bukan orang yang dia pikirkan.... semoga bukan... semoga bukan...

Tara melangkah seperti penguin, menghampiri kakaknya yang tengah bercakap-cakap dengan siapapun itu yang wajahnya terhalang ketinggian pagar. Dia menjulurkan lehernya ke luar, lalu melongo.

“Oh! Hai Tara,” sapa Joice ceria.

“Eh, muncul juga akhirnya,” kata Pandu di sela-sela obrolan serunya dengan Kara.

Tadinya Tara sudah akan menghela napas lega melihat mereka berdua, tapi helaan napasnya menyangkut di kerongkongan begitu dia menyadari Liam berada persis di sebelahnya, bersandar ngantuk pada dinding pagar.

“Oi,” sapanya berat dan datar. “Jepit rambutmu mau copot tuh.”

Spontan saja, Tara meraba rambutnya, membenarkan posisi jepitnya dengan tangan gemetaran. Boro-boro jepit rambut. Jantung Tara yang hampir mau copot melihatnya dalam jarak segitu dekat. Dan bahkan kehadiran Liam sudah cukup membuat perasaan Tara bertambah galau, kalau sebelumnya masih belum maksimal.

“...kok kalian di sini?” tanya Tara begitu saja, keheranan luar biasa.

“Ngajak kamu berangkat bareng, Tara,” jawab Joice, nampak lebih berseri-seri daripada biasanya. “Habisnya kamu kelihatan murung Jumat kemarin.”

“Sudah selesai sarapannya?” tanya Kara, menoleh pada Tara. Senyum penuh pengertian di wajah kakaknya itu membuat Tara berpikir, kalau-kalau tadi dia sempat membicarakan Tara dengan teman-temannya. “Ayo cepat bersiap. Nanti telat lho.”

Tara tidak perlu disuruh dua kali. Dia berbalik masuk ke rumah, tergopoh-gopoh mengambil tasnya, mengucapkan selamat tinggal pada Nara yang masih penasaran, lalu naik ke atas sepeda. Liam dan Joice naik ke atas sepeda mereka masing-masing begitu melihat Tara keluar dengan sepedanya. Pandu naik ke atas boncengan sepeda Liam, duduk menyamping dengan tidak nyaman.

“Daaah! Belajar yang bener!” seru Kara sambil melambai, sementara ketiga sepeda bergerak menjauh, menghilang di tikungan. Satu demi satu, bergerak melewati tanjakan bukit menuju jalanan datar di tengah area persawahan. Begitu sorotan matahari terlihat lebih terang, kayuhan mereka mulai santai. Tara melirik Joice, yang bersepeda tak jauh di sebelahnya. Di depan sana, Pandu dan Liam sedang bertengkar mengenai apakah Liam sengaja memilih jalur yang banyak kerikilnya atau tidak.

“Kakakku ngomong apa sama kalian?”

Joice mengangkat wajahnya yang tadinya terfokus pada jalanan di depan. Wajahnya yang bundar nampak berkeringat, berkilau ditimpa cahaya lembut matahari pagi.

“Eh? Enggak banyak kok, dia cuma agak kaget karena katanya kamu nggak pernah cerita soal teman-teman.”

“...apa dia kelihatan lega?”

Sejenak hening. Ketiga sepeda berbelok ke arah tikungan tajam, memasuki pasar yang masih sepi.

“Iya sih. Agak.”

Tara menunduk, berpikir. Dia tidak banyak cerita pada kakaknya mengenai kehidupan sekolah, kecuali yang bersangkutan dengan prestasi akademisnya. Kadang-kadang, situasi menjadi tidak bisa disembunyikan—seperti ketika seragam olahraga Tara ‘hilang’ untuk yang ketiga kalinya, atau ketika Tara pulang ke rumah dalam keadaan basah, meskipun saat itu hujan tidak turun. Makanya, sedikit banyak Kara pasti memikirkannya. Hanya saja, dia barangkali juga sadar bahwa Tara tidak ingin membebaninya dengan masalah ini, mengingat dia harus menjaga Tara dan Nara sekaligus sendirian sambil sibuk bekerja.

“Thanks ya, Joice.”

“Eh?” Joice nampak malu-malu, tapi Tara menyunggingkan senyum senang. “Sama-sama, Tara. Walau sebenernya sih, yang ngusulin buat ngajakin kamu berangkat bareng itu Liam.”

Cengiran surut dari wajah Tara, digantikan rona merah yang menyebar sampai ke akar-akar rambutnya. Untung saja saat itu mereka melintas di bawah bayang-bayang deretan pohon pinus, sehingga tidak satupun dari mereka yang bisa melihat dengan jelas wajah satu sama lain.

Beberapa meter jauhnya di depan sepeda Tara, Liam sedang tertawa-tawa. Sepedanya oleng sebentar-sebentar, sementara Pandu berseru-seru ketakutan di belakang, hingga akhirnya dia menjambak rambut Liam saking kesalnya—memaksa Liam mengemudikan sepeda dengan normal. Tara mengernyit takut ketika sepeda akhirnya malah tumbang, menggulingkan keduanya ke permukaan tanah. Joice menjerit ngeri, mengomeli keduanya. Pandu segera bangkit, mengumpat-umpat. Tapi Liam tetap duduk di jalanan, masih terbahak-bahak.

Tara menghentikan sepedanya menyusul Joice. Detik itu juga, hatinya berdenyut. Bukan debaran yang sama seperti biasa dia berhadapan dengan Liam. Kali ini lebih mendesak. Lebih pekat. Lebih sakit.

“...aku suka sama kamu.”

Sensasi yang ditimbulkan kata-kata itu terulang jernih dalam benaknya. Seperti tetesan air pertama pada sebidang tanah yang selama ini kering, lalu meresap. Suka. Seperti Maurice padanya. Tara menyukai Liam. Entah sudah berapa lama dia bersikeras menghindarkan pernyataan tersebut dari kepalanya. Barangkali karena sejauh ini, hal-hal semacam itu masih terasa asing bagi Tara. Tapi kini, setelah perasaan itu disodorkan kepadanya, Tara tidak bisa mengelak lagi dari eksistensinya.

Dia sudah punya perasaan semacam itu. Tapi bukan untuk Maurice. Dan tidak bisa untuk siapapun. Kecuali untuk Liam.

..tapi, lalu apa?

Dengan tangan kaku mencengkeram kemudi sepeda, Tara memperhatikan pelan-pelan Liam bangkit berdiri, menepuk-nepuk celana seragamnya, lalu nyengir. Cengiran itu, entah bagaimana, seperti ditujukan padanya. Tara membalas dengan dengus tawa pelan nan getir. Isi kepalanya kosong. Dia takut. Tidak tahu mau berbuat apa dengan perasaannya. Tapi di saat bersamaan, hatinya seperti mau meledak dengan harapan yang membuncah, membuatnya sesak.

Di kemudian hari, dia tidak mau lagi merasa kebingungan saat seseorang menyodorkan perasaan seperti itu ke hadapannya. Sedangkan detik itu juga, Tara tahu jika dia berada sedikit lebih dekat dengan Liam, mungkin dia akan merasa jauh lebih tenang. Kesimpulannya datang sama mudahnya dengan pernyataan yang selama ini dia sangkal barusan. Liam adalah orang yang dengannya Tara ingin bersama.

Kali berikutnya Tara mengayuh sepedanya, dia memikirkan Maurice, dan apa yang akan terjadi pada cowok itu, dengan perasaannya yang seperti itu dan perasaan Tara yang seperti ini. Lalu sekali lagi, tatapannya jatuh pada punggung Liam, dan Tara pun kembali membatin.

Apa yang akan terjadi pada mereka semua?

***

“Lomba?”

“Iya. Ikut yuk,” ajak Tara, sementara di sebelahnya, Joice tengah mengamat-amati mading yang ditempel di papan sebelah ruang piket. Meskipun pembuatan mading mereka kali itu cenderung buru-buru, Tara cukup bangga karena ternyata hasilnya lumayan menarik.

“Ada hadiahnya,” ujar Joice, nampaknya kagum.

“Temanya nggak dibatasi?” Pandu bertanya. Tara menggeleng. “Kalau gitu aku mau coba-coba ngirim puisi ah.”

“Sejak kapan kamu bikin puisi?” dengus Liam dengan nada meragukan, baru saja keluar dari ruang piket diikuti tatapan tajam Bu Leni. Noda-noda debu tanah masih tercetak di atas baju seragamnya.

“Aku emang bisa kok! Jangan sirik ya!”

“Oh ya? Tunggu, jangan-jangan salah satunya yang waktu itu ada di belakang buku catatan Ekonomi kamu... Bunyinya...”

“Udah! Udah!” bentak Joice sebal, mengibas-ngibaskan tangan ke kedua cowok itu, terutama karena Pandu sepertinya bakalan murka. Lalu dia mendesis, “Liam, kamu masih dilihatin Bu Leni, ntar hukumanmu diperpanjang kalau berisik di lorong...”

“Ups.”

“Ayo ke kantin sekarang,” kata Tara, mencoba mencerahkan suasana, menunjuk lalu berbalik ke arah tangga. “Nanti ga sempat makan lho...”

Ucapannya terhenti, bukan karena memang sudah selesai. Tanpa sengaja, ujung jemari Tara menabrak sesuatu. Dia bergeser menjauh, setengah bengong setengah syok menatap balik serombongan orang yang baru saja naik ke lantai dua. Irma dan Cindy, keduanya membelalak pada Tara. Handi baru saja menyelesaikan deretan anak tangga, mengambil napas, dan nampak sibuk dengan headset, tak ambil peduli sama sekali. Rista muncul belakangan, bersama Maurice, tengah membicarakan sesuatu yang agaknya serius. Melihat reaksi kedua temannya, cewek itu mendongak.

Kabut ketidaksukaan menggelayuti wajah Rista yang tirus dibingkai helai-helai rambut dan poninya yang halus, ketika dia bersitatap dengan Tara sambil menggigit bibir bawahnya. Dan itu bukan reaksinya yang biasa dia tunjukkan kalau kebetulan bertemu Tara, jika dia tidak salah menafsirkan. Mereka terang-terangan berhenti. Saling lirik, dengan atmosfer kebencian yang kental. Tara tidak bisa membuang muka dari Rista, tapi itu juga karena dia tidak mau menatap pemuda di sebelahnya. Tidak sanggup mencari tahu wajah seperti apa yang dia tunjukkan saat itu.

Kemudian Tara merasa tangan kanannya digenggam. Erat, membanjirinya dengan kehangatan yang membawanya kembali pada kenyataan. Bahwa dia tidak perlu takut—bahwa kali ini dia tidak sendirian.

“Ayo jalan.”

Begitu saja, Liam menyeretnya menuruni tangga, melewati pundak-pundak mereka yang menghujani Tara dengan tatapan sinis. Joice dan Pandu mengikuti dengan patuh di belakang. Saat itu, seandainya Tara cukup berani untuk mengalihkan pandangannya dari lantai, mungkin dia akan melihat Maurice tengah menyipitkan mata, mengamati sosok Liam yang menjauh sambil menggiring Tara pergi. Namun sepasang mata Tara sibuk mengawasi langkah kakinya sendiri, sambil sesekali melirik tangannya yang masih dalam genggaman Liam takut-takut.

Tidak satupun dari mereka bicara selagi keempatnya berjalan menyusuri lapangan, mencapai gedung kantin yang letaknya terpisah.

“Kamu... sebenernya kemarin ngomongin apa sih sama cowok itu?”

***

Senin itu hari yang berat, dan kejutan yang diterima Tara ternyata belum selesai sampai di sana.

“Nggak sabar ya,” kata Berta di siang menjelang sore yang terik. Saat itu hanya ada dia dan Tara duduk berhadapan di ruang klub, tengah menyortir gambar-gambar peserta lomba ilustrasi yang sudah diterima. “Tapi tegang juga. Semoga majalah edisi spesial kita banyak peminatnya.”

“Pasti,” kata Tara optimis, berhenti sejenak untuk menerawang dan mengagumi sebuah karya yang bagus. “Selama kita jual dengan harga yang ramah, ya...”

“Siapa yang nanti jaga stand?”

“Mungkin kita semua dapet giliran.... kecuali Sari, kayaknya. Katanya dia mau keliling buat ngeliput pensi. Oh, Febrian juga ikut ngeliput, buat ngambil foto.”

Berta mengangguk-angguk. Sejenak hening. Tara sibuk memilah-milah antara ilustrasi yang disukainya dan yang tidak begitu disukainya. Baru beberapa menit kemudian dia menyadari betapa Berta meliriknya sembunyi-sembunyi tiap beberapa detik sekali, juga betapa cewek itu jauh lebih pendiam daripada biasanya hari ini.

“Apa? Kenapa?” tanyanya curiga.

“Nggak kenapa-napa.”

“Bohong. Pasti ada apa-apa...”

Sekonyong-konyong, Berta memukul meja. Wajahnya penuh tekad. Tara berjengit mundur, kaget.

“Oke, aku bilang,” katanya, lebih seperti pada dirinya sendiri. “Tara, apa pendapatmu soal si Maurice itu?”

“Eh?” Tara mengerutkan dahi, merasa ganjil. “Emang kenapa?”

Dia bisa melihat temannya itu sedang berusaha terlihat tenang. Tapi mengenal Berta sejak awal tahun ajaran, Tara langsung membaca ada sesuatu yang tersembunyi dari lirikan sudut matanya yang terus berpindah.

“...cuma iseng nanya aja kok,” ujarnya. “Habisnya kan... kamu sempet bermasalah sama dia dan teman-temannya itu...”

“Errr,” gumam Tara, bingung mau menanggapi bagaimana. “Aku sama Maurice biasa-biasa aja kok.” Bohong. Tara sukar percaya dia harus berbohong sampai dua kali mengenai hubungannya dengan cowok itu, di hari yang sama. Tapi mau bagaimana lagi, Tara bukan tipe yang nyaman atau dengan gampangnya membicarakan soal percintaan, meskipun kali itu dia berhadapan dengan teman baiknya.

Hanya saja, dari mimik mukanya, Berta sepertinya belum puas membicarakan topik ini, meskipun sejenak dia terlihat lebih lega. Masih ada hal-hal lain yang mau dia sampaikan mengenai Maurice, dan mendadak Tara mendapat firasat tak enak.

“Ada sesuatu ya, sama dia?” pancing Tara. Tidak, jangan sampai firasatnya terbukti benar. Meskipun dia sudah menyalami Maurice, serta sepakat untuk mengusir semua pikiran negatifnya mengenai cowok itu—tetap saja, apapun mungkin terjadi. Kalau sampai Rista dan kawan-kawan sampai menggunakan Maurice untuk menjahati teman-teman Tara...

“Sebenernya...” Sikap Berta yang ragu-ragu membuat Tara semakin paranoid. “Aku cuma nyadar, dia ternyata baik banget. Padahal selama ini kukirain dia sama belagunya kayak teman-temannya itu...”

Oke. Jadi Tara salah paham... sepertinya bukan itu yang terjadi antara Berta dan Maurice.

“...kemarin itu aku sempet ngobrol sebentar sama dia, dan ternyata dia asik banget diajak ngomong. Kami ngobrolin buanyak banget, mulai dari konsep majalah, ilustrasi, komik, sampai mangaka...”

Tunggu sebentar. Otak Tara macet. Semakin lama, kesan arahnya jadi semakin aneh...

“...menurutku orangnya beneran oke. Mana dia udah ngebantu kita soal ide pensi ini. Tapi kayaknya dia agak minder soal Sari yang masih agak gimana sama dia, jadi aku bilang sama dia...”

“Berta,” Tara menyela cerita temannya, tidak bisa mengontrol suaranya supaya tidak terdengar serius. “Kamu... naksir orang ini? Naksir Maurice?

Detik berikutnya, terjadi perubahan warna yang kontras antara kedua cewek dalam ruangan tersebut. Kalau wajah Berta bersemu merah semerah-merahnya, wajah Tara kehilangan warnanya sama sekali. Walau tentu saja, Berta tidak menyadari yang terakhir.

“E-engga yakin juga,” tukasnya dengan suara bergetar. “T-tapi, aku emang jadi kepikiran dia, Gimana nih, Tara...?”

‘Gimana’?! Saat itu juga, Tara ingin sekali mengerang sekeras-kerasnya, atau menjatuhkan dirinya dengan dramatis ke lantai. Sayang sekali, melihat ekspresi wajah temannya itu, sepatah kata maupun sedikit gerakan pun tidak bisa dia lontarkan. Berta naksir Maurice, dan sekarang dia bertanya ‘gimana’ pada Tara. Sedangkan bagi Tara, jawaban untuk pertanyaan barusan bagaikan x dari soal persamaan Matematika yang harus dicari dulu a, b, c, dan d-nya.

Dan untuk soal yang satu ini, Tara mungkin sama bingungnya dengan murid yang tidak pernah membuka buku pelajaran barang selembarpun.

***

2 komentar:

Anastasia Kosasih mengatakan...

Rekap komennya kak Ai:

tapi penggunaan 'sedangkan' di ending ini yg agak ganggu, entah sih pastinya gmn cuma kek gigit sesuatu tp ga berhasil trus dipaksa buat gigit lagi...hehe itu aja sih mungkin polanya aja yg aku baru nemu

Anggra mengatakan...

*gelindingan di kolom komentar*

Posting Komentar