Pages

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juli 2012

Jurnal Kepenulisan: Tentang Grand Le Gran, Ishan, dan 19


(Entry ini berisi curcolan penulis, abaikan aja kalo kedengerannya ga menarik.)

Oke, udah lama banget aku ga ngepost baik curcolan maupun tulisanku di blog gajelas ini. Berhubung aku baru-baru ini genap berkepala dua, sebenernya aku nyiapin sebuah curcolan berupa renungan maha panjang, tapi sampai sekarang belum kuselesain. Fokusku sepanjang liburan menuju semester lima ini adalah nyelesain seengganya setengah proyek (pengennya sih namatin), soalnya aku ngerasa perlu ngebuktiin keseriusanku sebagai penulis dengan nyelesain sesuatu. Terus kenapa aku bikin proyek baru? Kenapa bukan GLG (yang udah mandek sejak 2009--atau 2006, kalo mempertimbangkan betapa GLG sendiri adalah fusion dari dua proyek masa SMP yang konsepnya ga karuan--itu)?

Selasa, 15 November 2011

Surga Buku - Cerita Tentang Surga

Gadis itu bukan aku. Meskipun dia memang mirip denganku—wajah yang bundar serupa, postur tubuh yang agak membungkuk, kaus oblong yang sama, kacamata berbingkai putih... tapi dia bukan aku. Ada sesuatu pada sepasang matanya yang membedakannya denganku, sesuatu yang untuk alasan yang tak kumengerti sekonyong-konyong membuatku merasa benci.

Dan lucunya adalah, benciku padanya adalah sesuatu yang rasanya terlalu akrab bagiku. Ada iri yang tak bisa dijelaskan di sana. Perasaan rendah diri. Ketakutan. Rasa bersalah.

“Apa itu di tanganmu?”

Minggu, 22 Mei 2011

Bittterness



Lantas terang saja selama ini saya kesulitan untuk tidur. Ternyata saya sudah menelan terlalu banyak kepahitan. Barangkali seperti minum berliter-liter kopi. Saya ingin tidur, menutup mata dan melayang meski hanya sejenak pada suatu situasi dimana saya bisa merasakan kebahagiaan. Tetapi rasa pahit di lidah memberati saya, menenggelamkan saya pada kedalaman fakta. Saya terkubur di dalam gelap. Ya, hitam seperti kopi.

Kamis, 03 Maret 2011

Tentang Orang-Orang Yang Ingin 'Mati'


Seandainya saja aku bisa dengan mudahnya mengatakan, "Hidupku menderita. Ingin mati saja secepatnya." atau "Mau bunuh diri saja." persis seperti orang-orang itu. Apa mereka tidak pernah berpikir?

Apa persisnya yang mereka dapatkan kalau mereka bunuh diri?

Kebahagiaan tetap tidak akan datang sekalipun mereka sudah mati. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah orang-orang mati, kemana mereka pergi, atau seperti apa semuanya di alam setelah kehidupan, dan memang tidak ada yang tahu kecuali Tuhan (dan serdadu-serdaduNya juga). Tapi bukankah kata mereka hanya ada satu tempat yang disediakan untuk jiwa-jiwa yang mencabut sendiri nyawa mereka tanpa persetujuan Tuhan, yaitu neraka? Kalaupun hukuman itu tidak benar adanya bagi orang-orang yang bunuh diri, lalu bukannya masih ada kemungkinan mereka akan tetap masuk neraka karena dosa-dosa mereka selama ini?

Jadi untuk apa orang repot-repot membuang diri dari kehidupan yang tidak bahagia kalau mereka cuma akan berakhir di neraka?

Sabtu, 12 Februari 2011

The Art of Fully Understanding of Your Life Problems

Jadi awalnya aku cuma mengalami apa yang menurut pelajaran Vocabulary I di semester ganjil terdahulu disebut dengan 'get up on the wrong side of bed.' Menjelaskannya, mungkin maksudnya bad mood sejak pagi hari karena alasan yang ga jelas. Sebetulnya ini bukan hal baru sih, kalau diingat-ingat aku sudah sering begini semenjak kuliah. Yah, pada intinya idiom ini sudah sukses bikin aku nangis sendiri sejak dari kamar mandi, soalnya bikin kepikiran dan keingetan mengenai: 1] masalah gebetan yg kayaknya ngegebet cewek lain vs jadi gebetan orang lain yang tak diharapkan 2] masa lalu yang ga menyenangkan di sekolah 3] hal-hal yang kuinginkan dari dulu tapi ga pernah keturutan 4] ketidakadilan yang baru-baru ini kuterima berkaitan dengan nomor 3 5] masalah proyek yang ga selesai-selesai. Jadilah moodku udah rusak semenjak pagi. Mikirin ini dan itu, aku jadi merumuskan banyak hal mengenai kehidupan dan mengenai betapa aku merasa sangat-sangat ga puas terhadapnya dan mengenai betapa sulitnya untuk bersyukur sedikiiiittt aja. Lalu karena ga tahan (plus berasa ngefreak juga nangis tanpa pemicu yg jelas), aku ngambil kertas dan mulai merangkum semuanya. Dengan tujuan supaya aku dapat gambaran yang lebih jelas kenapa aku harus puas atau nggak puas sama hidupku sekarang.

Berikut ini hal-hal yang kutulis, yang kuharapkan mungkin bisa menjadi pedoman bagi orang-orang lain yang kebetulan mengalami masalah serupa:

1] My Wishlist: isinya tentang barang-barang yang kuincar dari dulu atau kuperlukan banget, ga usah pedulikan harga atau persentase kemungkinan keturutannya. Cukup ditulis saja mulai dari yang paling paling diinginkan sampai yang ga begitu sangat diinginkan.
2] List of Things That I Want To Achieve: isinya tentang hal-hal yang ingin kaulakukan, target masa depan yang ga ada hubungannya sama barang yang dibeli/dikasih. Hal-hal ini sifatnya kalau terkabul bakal memberiku semacam 'aktualisasi diri.' Misalnya menamatkan proyek lalu menerbitkan satu buku, atau ngedapetin IP 4.00 di semester berikutnya.
3] List of Reasons Why I Have To Be Proud With My Life: isinya dibagi lagi menjadi tiga.
       a) What Makes Me as 'Me': tuliskan poin-poin apa yang membuatmu bangga menjadi dirimu yang sekarang, perkembangan-perkembangan yang membuatmu bangga setelah mengalami masa lalu.
       b) Troubles That I Successfully Faced: tuliskan masalah-masalah berat yang sudah terjadi di masa lalu, yang entah sudah kauselesaikan sendiri, atau kaubiarkan/kauanggap selesai seiring berlalunya waktu, bagaimana kau menyelesaikannya, dan pelajaran yang kaudapatkan.
       c) Trauma: tuliskan hal-hal apa yang masih menghantuimu sampai sekarang, dan apa penghiburan serta tekadmu dalam menyikapi itu.
4] List of Things That I'm Afraid Of: isinya mengenai hal-hal yang setiap kali membayangkannya menbuatmu tidak bisa tidur, membuat jantungmu seperti diperas, atau yang kaudoakan supaya tidak akan pernah terjadi.

Nah, setelah menulis hal-hal ini rasanya aku jadi sedikit lebih punya pegangan serta gambaran yang lebih jelas mengenai situasi masalah apa yang sedang kualami sekarang. Dan kayaknya sih, ini bakal membantuku setiap kali moodku geje di pagi hari. Kata orang, kita gak akan bisa menang kalau kita gak tahu sepenuhnya apa yang lagi kita hadapi. Kurasa nggak banyak orang yang bakal membaca postingan geje ini (atau malah ga ada? -_-), aku cuma merasa perlu ngeshare aja. Karena sepertinya ini bermanfaat.

Jumat, 04 Februari 2011

List of Things That I Want To Tell You

Baiklah, sebelum aku menuliskannya di sini, aku bertanya-tanya--kira-kira berapa besar kemungkinan kau, yang semenjak belakangan ini menjadi tokoh yang paling penting dalam tulisan-tulisan jurnalku, membaca postingan ini?

Pertanyaan yang agak bodoh, soalnya tidak ada yang bisa memberi jawabannya kecuali kau dan Tuhan. Bayangkan, seberapa mungkin terjadi, menemukan dirimu dengan nama samaran tertentu memberikan komentar di postingan ini. Aku tertawa karena membayangkannya membuatku mulai menanamkan konklusi yang salah lagi, seperti yang sudah-sudah, tentang betapa selama ini kau juga suka padaku. Ya, seandainya saja aku ini bukan calon penulis, maka kepalaku tidak akan otomatis membayangkan kemungkinan-kemungkinan 'happy ending' yang barangkali akan datang padaku, si tipikal tokoh utama ini. Hanya gara-gara teman-temanku, atau aku sendiri, berpendapat bahwa kisah-kisah yang selama ini kualami mirip alur cerita komik.

Senin, 03 Januari 2011

Clovervow

‎:Rather than saying that I want to meet someone again real soon, I choose to make most of the time being to fix myself so that I can be a person who is worthy enough to love, and to be loved in return:

I do not ask you to wait for me. I'm on my way of becoming stronger, braver, and smarter, to have more confidence in myself, to grab on the dreams I'm craving for and never let go so that I can prove how lost you are, and also to become more mature and beautiful. :) And then I swear after we meet again, I myself will be the one to decide whether I will fall for you once again, or to leave it all behind then never look back.

Senin, 06 Desember 2010

Maybe It's About Time to Say Sayonara

(Catatan Penyihir Cloverwitch: 6 Desember 2010)

Because no matter how many times we bumped on each other on the street, they cannot be said as 'Encounters' if we never exchange, even just a single glance. You and I were passing on the same road, that day, I might just saw you. Both of us, might be destined to walk together toward a really different direction of this intersection. However as you kept walking without realizing my presence, I would've known that what happened on that day was just

...a mere 'Coincidence'.

It wouldn't turn out to be 'Fate.'

Sayonara, stranger. Now I understand that maybe you're not the person who holds the 'Clover' that I've been looking for. Even if these coincidences will really turn to be just coincidences, I will still treasure them as a precious memories about someone special that I've met under the Rain.