
Jangan cemas, aku tidak akan melompat! Kau, kau, dan kau juga. Berhentilah menatapku bertanya ataupun berbisik-bisik dengan temanmu itu sambil menunjuk punggungku. Sebab sekalinyapun aku tak ada pikiran untuk melakukan aksi terjun bebas. Tidak, jangan khawatir! Aku tahu pemandangan menjijikan tentang kubangan darah milik seorang pecundang yang tubuhnya remuk setelah jatuh ke lantai terbawah sama sekali bukan tontonan favorit kalian. (Meski anehnya kalian tetap suka menghabiskan banyak waktu berkerumun di sekitar prosesi penggotongan mayat ke dalam ambulans.)
Jika secara kebetulan kalian memergokiku menangisi kejauhan dari atas teras balkon milik gedung yang paling tinggi di kota ini—bukan berarti aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
.
.
Bukan.
Aku hanya sedang mencari-cari sudut yang lebih baik untuk memandang langit.
Sebab sesungguhnya setiap orang melihat langit yang berbeda, baik itu birunya ataupun mataharinya. Dan segera setelah hujan yang tidak pernah tahu kapan waktunya untuk berhenti ini berlalu dari langitku, aku kan bersiap lari, sekali lagi susuri garis horizon sambil rentangkan tangan memeta sketsa langit yang kupilih sendiri. Supaya jika sekali-kalinya lintasanku ada dalam pengelihatan-Mu, kiranya Kau bisa menuntunku ke tempat dimana langit terlihat
persis seperti itu.



