Pages

Rabu, 21 Juli 2010

Sketsa Langitku



Jangan cemas, aku tidak akan melompat! Kau, kau, dan kau juga. Berhentilah menatapku bertanya ataupun berbisik-bisik dengan temanmu itu sambil menunjuk punggungku. Sebab sekalinyapun aku tak ada pikiran untuk melakukan aksi terjun bebas. Tidak, jangan khawatir! Aku tahu pemandangan menjijikan tentang kubangan darah milik seorang pecundang yang tubuhnya remuk setelah jatuh ke lantai terbawah sama sekali bukan tontonan favorit kalian. (Meski anehnya kalian tetap suka menghabiskan banyak waktu berkerumun di sekitar prosesi penggotongan mayat ke dalam ambulans.)

Jika secara kebetulan kalian memergokiku menangisi kejauhan dari atas teras balkon milik gedung yang paling tinggi di kota ini—bukan berarti aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
.
.
Bukan.
Aku hanya sedang mencari-cari sudut yang lebih baik untuk memandang langit.

Sebab sesungguhnya setiap orang melihat langit yang berbeda, baik itu birunya ataupun mataharinya. Dan segera setelah hujan yang tidak pernah tahu kapan waktunya untuk berhenti ini berlalu dari langitku, aku kan bersiap lari, sekali lagi susuri garis horizon sambil rentangkan tangan memeta sketsa langit yang kupilih sendiri. Supaya jika sekali-kalinya lintasanku ada dalam pengelihatan-Mu, kiranya Kau bisa menuntunku ke tempat dimana langit terlihat

persis seperti itu.

Fatamorgana

Kalau saja aku bisa
sisipkan sekeping sihir dalam mimpi-mimpi surga
milik
kau dan aku
...mungkinkah menjadi satu?
Akankah itu..?
Tetapi
fajar keburu datang,
hempaskan aku.
Dan senyummu pun meluntur jauh hingga batas maya,
tinggalkan aku.
: Sebab di penghujung mimpi, aku melepaskan tanganmu.

Cinderella Juliet

Bukannya aku seorang puteri, yang jelita dalam imajinasi dan tinggal dalam kastil mimpi. Memakai gaun peri berwarna pelangi, meniup balon-balon busa berbentuk hati, sambil bermain di atas ayunan yang terjalin dari kembang warna-warni, lalu mengayun terbang menembus awan-awan merah jambu di langit tinggi. Tidak, itu bukan aku, pangeran. Aku hanyalah seorang pemimpi yang gemar menyanyikan lagu roman picisan selagi mengupasi kentang dan bawang, yang berteman dengan tikus-tikus juga para ternak. Dengan mengenakan celemek kotor, aku berdiri di muka jendela memandangi kastil yang menjulang di atas bukit setiap pagi, mengkhayalkan kehidupan yang berjalan di dalamnya. Sedangkan di lantai bawah sana, teko dan panci mulai memanggil-manggilku kembali masuk ke dalam realita.

Tapi pertemuan kita seakan menjadikanku seorang puteri seketika itu juga, dimana waktu adalah si ibu tiri yang jahat—ketiga jarumnya adalah dua kakak tiri serta si kucing nakal. Dan kita dipisahkan seperti Romeo dan Juliet. Tercabik antara siang milik Capulet dan malamnya Montague. Ah, andai sang penanda waktu tidak segera berdentang kala tengah malam tiba, mungkinkah aku sempat mengatakan sesuatu sebelum langkah-langkah membawaku pergi jauh darimu?

Oh pangeran yang sudah kusukai sejak aku melihatmu mengagumi iris yang tumbuh di kebunku, kuharap kau sadar bahwa di hari pertemuan kita yang pertama dan terakhir itu, aku meninggalkan sebelah pasang sepatu kacaku di tangga kastilmu. Dengan harapan kau akan menemuiku lagi di kemudian hari untuk mengembalikannya. Jika benar bunga irisku adalah sihir yang memasangkan gaun keperakkan ini di tubuhku dan mengubah labu menjadi kendaraanku, maka biarlah takdir mempertemukan kita sekali lagi sebelum kelopaknya berguguran dan ia mati.

Grand Le Gran - Prologue: A Suspended Night

“Bara merah tua Ilheus, tunjukkan kuasamu.
Roh kedamaian, keadilan, penerimaan. Api Kebijaksanaan.
Sayap Timur Sang Kehendak Roh, wakil dari Kebenaran.
Beri kekuatan pada jiwa yang rapuh dan lemah.
Lenyapkan kedustaan, bersihkan kekotoran.
Bunga api Ilheus, jawablah panggilan orang yang membangunkanmu.
Hantarkan kami kepada Revirtha Vasnor, jalan menuju Luertha-Ehland—Tanah Surga.”


***

Meet Me, The Lucky Witch ;)

"I'm a witch. I explore Dreams, I paint with Imaginations, I carve Emotions. I'm looking for clovers, I'm searching for luck... as I travel to find the meaning of living in the world called 'Reality'."

Hanya seorang gadis biasa; Menyukai sastra; terutama kisah-kisah fantasi yang penuh imajinasi, kisah cinta yang bermakna tanpa harus menjadi klise, dan tulisan-tulisan tentang pendalaman jati diri.

http://www.kemudian.com/users/chie_chan
http://www.facebook.com/home.php?#!/profile.php?id=100000450017458
http://cloverwitch.livejournal.com/