Crown ragu-ragu. Kalau boleh dibilang, sebenarnya dia masih belum sepenuhnya mempercayai pria yang mengaku sebagai mata-mata itu. Sah-sah saja mengetahui bahwa Mikhael Truvelanth punya seorang putra bernama Crown Truvelanth, tapi sampai mengenali penampilannya adalah hal lain. Crown tidak ingat pernah bertemu pria ini sebelumnya, juga tidak yakin dia cukup sering keluar ke publik bersama ayahnya untuk dikenali orang selain kenalannya sendiri. Sayangnya pergolakan yang tengah terjadi dalam benaknya seolah tak mau berkompromi. Dia harus bertanya pada seseorang, dan dia yakin pria ini bisa memberinya jawaban.
Bulan terlihat kecil dan jauh dari bawah langit Qastal, berbeda dengan Isthanus yang letaknya di atas ketinggian bukit. Sudah lewat tengah malam, tapi jalanan masih ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang. Pria itu berdiri di tepian sungai yang mengalir di seberang jejeran rumah bata, mengisap sebatang rokok sambil mengamati angkasa. Mantel besarnya tampak beriak tertiup angin.
“Ini sudah lewat jam tidurmu, nak.”
“Aku enam belas tahun, terima kasih,” sahut Crown menggerutu.
“Sudah merasa dewasa, Crown?” goda pria itu. “Punya anak yang keras kepala seperti kau pasti sengsara rasanya.”
Crown meliriknya dengan alis berkerut. “Jadi benar kau sudah tahu,” katanya getir.
“Pelayanmu senang bergosip rupanya,” kata Claude menjelaskan, menghembuskan kepulan asap ke udara malam.
“Aku tahu.”
“Beritanya sudah menyebar ke seisi kota meski orang-orang masih menganggapnya gosip belaka.”
Crown membuang napas berat. “Terserahlah. Aku tidak mau membicarakan itu,” tukasnya. “Apa urusanmu di sana berkaitan dengan mereka?”
Claude menatapnya dengan senyum jenaka. “Oh? Apa ini berarti kau sudah mempercayaiku?” tanyanya balik.
“Iya dan tidak,” yang ditanya menjawab malas.
“Kau baru saja menanyai seorang mata-mata mengenai urusan pekerjaannya, nak. Tahu apa artinya itu?”
“Kau tidak bisa memberitahuku?”
“Seharusnya tidak,” kata Claude tak berbasa-basi. “Tapi aku pria yang baik, jadi kuhitung kau sebagai bagian dari Truvelanth walaupun kau sendiri sudah membuangnya. Ya, nak. Aku ke sana untuk menemui mereka. Menemui ayahmu tepatnya.”
“Begitu,” ucap Crown tertunduk. Dugaannya tepat dua kali.
“Kau sedang berusaha menanyakan kabar ayahmu padaku?” tebak Claude mencoba-coba.
Crown tidak menjawabnya.
“Tentunya ayahmu tidak bergosip denganku soal putranya yang minggat dari rumah, tapi aku yakin dia cemas,” lapor Claude otomatis, tidak memerlukan jawaban pemuda itu untuk memahami gelagatnya. “Mikhael Truvelanth tidak semuda dulu dan semakin kesepian pastinya—setelah putra tunggalnya pergi meninggalkannya. Pria itu keras. Aku yakin dia takkan gentar meski sendirian, tapi...”
Dia menjentikkan abu dari rokoknya sebelum melanjutkan.
“...kau tahu Crown, kurasa sesekali menulis surat tidaklah terlalu merepotkan.”
Crown mendongak menatap kejauhan. Perasaan berat yang selama ini berhasil diabaikannya tiba-tiba muncul ke permukaan.
“Ah, jangan terlalu banyak berpikir. Serumit apapun masalah hati akan selesai dengan bersikap jujur pada dirimu sendiri,” hibur Claude sementara sebelah kedua tangannya sibuk merogoh sesuatu di balik mantel raksasanya. “Ini. Titipan dari orang rumahmu.”
Claude mengeluarkan sebilah benda tipis panjang yang terlihat seperti potongan kayu dari kejauhan. Dia menyorongkannya pada Crown. Menyadari apa itu, Crown terperangah. Sesaat sungguh-sungguh merasa kehabisan kata-kata.
Sebuah pedang kayu yang dia tahu persis milik siapa.
“Pemuda itu menitipkannya padaku ketika kukatakan aku menuju ke barat,” jelas Claude pendek. “Dia bilang firasatnya mengatakan aku akan berpapasan dengan Tuan Mudanya di jalan.”
Lama terdiam memandangi benda di tangannya, Crown tertawa getir.
“Dia tahu aku tidak bertarung menggunakan ini,” ucapnya parau. “Tidak ada gunanya bagiku.”
Claude menjatuhkan rokoknya ke jalan lalu menginjaknya. “Aku hanya melakukan apa yang diminta,” dia memberi tepukan singkat di pundak pemuda itu sementara beranjak kembali ke sarangnya. “Kau masih harus belajar banyak untuk menjadi dewasa, Crown.”
***
(Ngeshare aja. Salah satu part yang paling kusuka di Chapter 5, selain adegan pertempuran antara Miha dan Crown tentu. Khukhukhu XD)