Pages

Tampilkan postingan dengan label fantasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fantasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Oktober 2012

Perkembangan Karakter GLG, dan Hal-hal Yang Kupikirin Soal Mereka - FLOA

Finally, a post related to GLG setelah sekian lama!

(Walau sebenernya, kurasa yang segitunya nungguin juga nggak ada. Haha. Whatever, suatu saat nanti pas bukunya udah terbit, mungkin post ini bakalan jadi dokumentasi pembuatan yang berharga. *optimis*) 

*ehem*

Karena belakangan ini aku juga ngerombak dasar-dasar plot GLG, ada banyak juga perubahan dalam hal karakterisasinya. Beberapa terpaksa diganti nama, diubah backgroundnya, dirombak porsinya, dan segelintir juga kayaknya bakalan kuhapus.

Berikut ini yang kurang lebih kurasa nggak akan banyak berubah lagi.

(contains major spoiler)


Sabtu, 05 Mei 2012

Fantasy Fiesta 2012 - Mindy versus Alien Oonyunyu


Coba tebak. Bersembunyi di balik tiang listrik, kelihatan seperti gundukan laundry yang bergerak, tapi tetap kelihatan cantik—apakah itu?

Itu aku, tentu saja. 

Ah, sudah. Lupakan. Tadi aku berusaha main tebak-tebakan dengan diriku sendiri untuk membuat perasaanku lebih baik. Kenyataannya, tidak ada yang bakalan bisa membuat perasaanmu menjadi baik—bahkan sekalipun itu kenyataan bahwa dirimu memang sangatlah cantik, kalau beberapa meter di depan sana gebetanmu sedang bermesraan dengan cewek lain.

“Makasih ya, aku senaaaaaaaangggg banget hari ini!”

Si cewek bermuka kera. Si cewek tompel. Entah panggilan mana yang paling cocok buatnya. Dia memasang senyum (sok) imut malu-malu, kemudian terkikik dengan suara tawanya yang persis suara kloset tersumbat. Ih. Jijik. Dibiarkan keluar rumah saja dia sebenarnya tidak pantas—apalagi melakukan hal-hal seperti itu. Aku jadi merinding.

Sabtu, 18 Juni 2011

Fantasy Fiesta 2011 - Hari Terakhir Ishan

Silakan membaca cerita ini di Antologi Fantasy Fiesta 2011 yang bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat. Terima kasih. :)

Rabu, 20 April 2011

GLG: Fragmen - Puzzles of Resemblance (2)

Kali ini semburat kemerahan yang lebih gelap dan kental menyapa pengelihatan Miharu bersamaan dengan rasa sakit yang perlahan menyebar merambahi dadanya seperti racun. Miharu terbelalak, merasa seakan dibangunkan dari mimpi buruk. Kembali dilihatnya wajah sang anak perempuan berambut abu-abu. Wajahnya kini mengeras. Pandangannya liar. Dia terlihat seribu kali lebih menakutkan seperti itu. Tetapi itu pikiran Miharu sebelum tubuhnya dilempar, melayang di udara dan mendarat di lantai dengan gesekan yang membuat bahu juga sikunya lecet.

Darah berceceran di lantai. Tidak butuh lama bagi Miharu untuk sadar milik siapa itu, merasakan rasa sakit diikuti ngilu yang tak tertahankan di dadanya sendiri. Dia mengulurkan sebelah tangannya, memastikan luka besar yang menganga di sana. Perih menyumbat napasnya. Menatap tajam si anak perempuan, yang balik memandangnya dingin tanpa belas kasihan. Atau dia memang tak pernah mengenalnya.

“K-kau...” akhirnya sebuah kalimat patah-patah berhasil menyembur dari mulut Miharu.

“Ah, kau membuatku mengingatnya,” lagi-lagi desah perkataan si anak perempuan langsung masuk ke benaknya, masih dengan nada menekan udara yang sama. Sejenak dia tampak terluka. Kemudian sepasang matanya yang menyeramkan itu mendelik menatap Miharu yang tergeletak hampir tanpa sisa daya.

Selasa, 12 April 2011

GLG: Fragmen - Puzzles of Resemblance

Tangan Miharu menepis sulur besar terakhir yang menghalangi jalan. Seberkas kemilau putih samar menyambut pengelihatannya yang serasa sudah tumpul berkat berada di bawah permukaan tanah selama berjam-jam. Menyadari bahwa daratan tempatnya berpijak adalah dinding yang menjorok, letaknya sekitar dua meter di atas medan bawahnya, dia melompat. Mendarat mulus dengan bunyi daun-daun berkeresek yang tersebar menumpuk sepanjang ruangan.

Ya. Ruangan. Lumayan luas, berbentuk melengkung. Di pusatnya terdapat pilar cahaya putih terang yang sama dengan yang dilihatnya di aula gedung Basilika. Ke mana orang-orang selalu melompat ke tengahnya lalu menghilang. Berdiri menjulang hingga ke langit-langit yang tidak kelihatan karena tertutup dedaunan serta kegelapan. Pikirnya, pasti melalui perangkat itulah ibunya bepergian ke tempat ini setiap hari.

Di sekelilingnya, hampir tertutup rapat oleh sulur, dan akar, serta dedaunan namun masih sedikit nampak, adalah dinding bata putih yang kini berwarna kehijauan karena lumut. Keseluruhan lokasi itu sendiri, setelah diperhatikan baik-baik, terkesan mirip seperti altar yang dilupakan. Lantai tempat Miharu tengah berdiri nampak seperti benar-benar permukaan tanah, namun beberapa meter menuju pilar di pusat, permukaan lantai tertutup batuan halus yang sama-sama menghijau karena lumut.

Sabtu, 26 Maret 2011

A World Beyond the Dead End - Prolog

Syesha:

Kau tahu yang namanya fobia? Kata orang, fobia artinya rasa takut yang berlebihan terhadap sesuatu hal atau sesuatu fenomena.


Catat: yang berlebihan.

Kurasa maksudnya sesuatu ini harusnya bukan hal yang bisa sungguh-sungguh membuatmu celaka. Hanya tampak luarnya saja yang seolah-olah memaksamu untuk takut. Atau begitulah. Jangan tanya aku, sejujurnya aku sendiri baru mempelajari istilah ini beberapa bulan lalu, dan senang memakainya sampai sekarang—karena seperti yang barangkali sudah kauduga dari pembukaan ceritaku yang berbelit-belit ini: aku sendiri punya fobia.

Satu kata ini pastinya lebih mudah digunakan daripada menjelaskan ‘ketakukan yang tak jelas apa sebabnya.’

Ah, persetan dengan itu semua. Aku takut. Aku sangat takut, dan aku benci. Sampai-sampai rasanya aku tidak peduli kalau sebenarnya aku tidak punya cukup alasan untuk merasa begitu. Yang kubutuhkan hanyalah memposisikan diri sejauh-jauhnya dari sana. Seharusnya itu cukup. Tapi rupa-rupanya selain fobia yang menjadi-jadi ini, aku juga punya firasat. Tidak bercanda, walau kedengarannya mungkin agak melebih-lebihkan, tapi firasatku memang hampir selalu tepat.

Dan firasatku mengatakan bahwa ketakutanku yang satu ini berbeda dari fobia biasa. Bahwa memang ada sesuatu di sana. Sesuatu yang benar-benar bisa mencelakai orang.

Kemudian pada suatu hari, aku sadar bahwa firasatku tepat lagi.

Selasa, 22 Februari 2011

(Before Revised) - Grand Le Gran Chapter 1: A Way To Go

Previously: Prologue
[9212; Waldheim; Falis Mine]




“Menyingkir dari situ! Lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!”



Sebuah teriakkan memenuhi lorong goa tempat tiga orang sedang berdiri menunggu. Datang dari arah cabang lorong sebelah tenggara, diikuti beberapa kali getaran hebat, kemudian goncangan yang semakin lama semakin keras. Hanya butuh beberapa detik berikutnya sebelum meraka sadar bahwa mereka berada dalam bahaya total.

Minggu, 21 November 2010

GLG: Fragmen - Memories

Kegelapan yang melingkupinya ini terasa hangat, hampir seperti tidur lelap di musim dingin, sambil bergelung di balik selimut tebal ditemani nyala api perapian. Adapun Floa yakin betul bahwa dirinya tidak bermimpi. Suara-suara di yang tengah bergaung di kepalanya terasa begitu nyata, layaknya sungguh diucapkan dalam jarak pendengarannya, namun sekaligus juga... tua. Mengingatkan Floa akan bunyi sebuah lagu lama dari piringan hitam usang yang pernah diputar pamannya sekali waktu...

Dulu.

Samar-samar dikenalinya sebuah senandung. Floa sempat bergidik, tetapi kemudian sadarlah dia bahwa senandung itu berbeda dari yang terdahulu. Senandung ini lembut sehalus beledu, riang seperti lagu tarian yang selalu dinyanyikan penduduk desa pada festival musim panas, sekaligus khidmat seperti himne puji-pujian.

Sabtu, 28 Agustus 2010

Grand Le Gran - The Wavering Prince

Crown ragu-ragu. Kalau boleh dibilang, sebenarnya dia masih belum sepenuhnya mempercayai pria yang mengaku sebagai mata-mata itu. Sah-sah saja mengetahui bahwa Mikhael Truvelanth punya seorang putra bernama Crown Truvelanth, tapi sampai mengenali penampilannya adalah hal lain. Crown tidak ingat pernah bertemu pria ini sebelumnya, juga tidak yakin dia cukup sering keluar ke publik bersama ayahnya untuk dikenali orang selain kenalannya sendiri. Sayangnya pergolakan yang tengah terjadi dalam benaknya seolah tak mau berkompromi. Dia harus bertanya pada seseorang, dan dia yakin pria ini bisa memberinya jawaban.

Bulan terlihat kecil dan jauh dari bawah langit Qastal, berbeda dengan Isthanus yang letaknya di atas ketinggian bukit. Sudah lewat tengah malam, tapi jalanan masih ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang. Pria itu berdiri di tepian sungai yang mengalir di seberang jejeran rumah bata, mengisap sebatang rokok sambil mengamati angkasa. Mantel besarnya tampak beriak tertiup angin.

“Ini sudah lewat jam tidurmu, nak.”

“Aku enam belas tahun, terima kasih,” sahut Crown menggerutu.

“Sudah merasa dewasa, Crown?” goda pria itu. “Punya anak yang keras kepala seperti kau pasti sengsara rasanya.”

Crown meliriknya dengan alis berkerut. “Jadi benar kau sudah tahu,” katanya getir.

“Pelayanmu senang bergosip rupanya,” kata Claude menjelaskan, menghembuskan kepulan asap ke udara malam.

“Aku tahu.”

“Beritanya sudah menyebar ke seisi kota meski orang-orang masih menganggapnya gosip belaka.”

Crown membuang napas berat. “Terserahlah. Aku tidak mau membicarakan itu,” tukasnya. “Apa urusanmu di sana berkaitan dengan mereka?”

Claude menatapnya dengan senyum jenaka. “Oh? Apa ini berarti kau sudah mempercayaiku?” tanyanya balik.

“Iya dan tidak,” yang ditanya menjawab malas.

“Kau baru saja menanyai seorang mata-mata mengenai urusan pekerjaannya, nak. Tahu apa artinya itu?”

“Kau tidak bisa memberitahuku?”

“Seharusnya tidak,” kata Claude tak berbasa-basi. “Tapi aku pria yang baik, jadi kuhitung kau sebagai bagian dari Truvelanth walaupun kau sendiri sudah membuangnya. Ya, nak. Aku ke sana untuk menemui mereka. Menemui ayahmu tepatnya.”

“Begitu,” ucap Crown tertunduk. Dugaannya tepat dua kali.

“Kau sedang berusaha menanyakan kabar ayahmu padaku?” tebak Claude mencoba-coba.

Crown tidak menjawabnya.

“Tentunya ayahmu tidak bergosip denganku soal putranya yang minggat dari rumah, tapi aku yakin dia cemas,” lapor Claude otomatis, tidak memerlukan jawaban pemuda itu untuk memahami gelagatnya. “Mikhael Truvelanth tidak semuda dulu dan semakin kesepian pastinya—setelah putra tunggalnya pergi meninggalkannya. Pria itu keras. Aku yakin dia takkan gentar meski sendirian, tapi...”

Dia menjentikkan abu dari rokoknya sebelum melanjutkan.

“...kau tahu Crown, kurasa sesekali menulis surat tidaklah terlalu merepotkan.”

Crown mendongak menatap kejauhan. Perasaan berat yang selama ini berhasil diabaikannya tiba-tiba muncul ke permukaan.

“Ah, jangan terlalu banyak berpikir. Serumit apapun masalah hati akan selesai dengan bersikap jujur pada dirimu sendiri,” hibur Claude sementara sebelah kedua tangannya sibuk merogoh sesuatu di balik mantel raksasanya. “Ini. Titipan dari orang rumahmu.”

Claude mengeluarkan sebilah benda tipis panjang yang terlihat seperti potongan kayu dari kejauhan. Dia menyorongkannya pada Crown. Menyadari apa itu, Crown terperangah. Sesaat sungguh-sungguh merasa kehabisan kata-kata.

Sebuah pedang kayu yang dia tahu persis milik siapa.

“Pemuda itu menitipkannya padaku ketika kukatakan aku menuju ke barat,” jelas Claude pendek. “Dia bilang firasatnya mengatakan aku akan berpapasan dengan Tuan Mudanya di jalan.”

Lama terdiam memandangi benda di tangannya, Crown tertawa getir.

“Dia tahu aku tidak bertarung menggunakan ini,” ucapnya parau. “Tidak ada gunanya bagiku.”

Claude menjatuhkan rokoknya ke jalan lalu menginjaknya. “Aku hanya melakukan apa yang diminta,” dia memberi tepukan singkat di pundak pemuda itu sementara beranjak kembali ke sarangnya. “Kau masih harus belajar banyak untuk menjadi dewasa, Crown.”

***
(Ngeshare aja. Salah satu part yang paling kusuka di Chapter 5, selain adegan pertempuran antara Miha dan Crown tentu. Khukhukhu XD)

Rabu, 21 Juli 2010

Grand Le Gran - Prologue: A Suspended Night

“Bara merah tua Ilheus, tunjukkan kuasamu.
Roh kedamaian, keadilan, penerimaan. Api Kebijaksanaan.
Sayap Timur Sang Kehendak Roh, wakil dari Kebenaran.
Beri kekuatan pada jiwa yang rapuh dan lemah.
Lenyapkan kedustaan, bersihkan kekotoran.
Bunga api Ilheus, jawablah panggilan orang yang membangunkanmu.
Hantarkan kami kepada Revirtha Vasnor, jalan menuju Luertha-Ehland—Tanah Surga.”


***