Kegelapan yang melingkupinya ini terasa hangat, hampir seperti tidur lelap di musim dingin, sambil bergelung di balik selimut tebal ditemani nyala api perapian. Adapun Floa yakin betul bahwa dirinya tidak bermimpi. Suara-suara di yang tengah bergaung di kepalanya terasa begitu nyata, layaknya sungguh diucapkan dalam jarak pendengarannya, namun sekaligus juga... tua. Mengingatkan Floa akan bunyi sebuah lagu lama dari piringan hitam usang yang pernah diputar pamannya sekali waktu...
Dulu.
Samar-samar dikenalinya sebuah senandung. Floa sempat bergidik, tetapi kemudian sadarlah dia bahwa senandung itu berbeda dari yang terdahulu. Senandung ini lembut sehalus beledu, riang seperti lagu tarian yang selalu dinyanyikan penduduk desa pada festival musim panas, sekaligus khidmat seperti himne puji-pujian.
Kemudian senandung itu dipecahkan oleh suara ketukan.
“Maaf—apa aku membangunkannya?”
Tawa singkat seorang wanita—milik sang penyenandung. Kemudian desisan pelan. “Kupikir baru saja dia tertidur.”
Hening beberapa lama, kemudian suara si penyela—laki-laki, terdengar kembali. “Kau baik-baik saja?”
“Sejujurnya... tidak. Tidak, kurasa aku sangat tidak baik-baik saja.”
Kemudian hening lagi, sedikit lebih lama.
“Lima tahun,” suara si penyenandung kembali terdengar. “Aku terlanjur berharap segalanya akan berlanjut sedikit lebih lama...
“Selama ini aku berusaha sekerasnya meyakinkan diriku sendiri,” katanya lagi. “bahwa kebahagiaan memang tidak akan pernah berlangsung lama bagiku. Tetapi kemudian aku bertemu denganmu, dan segalanya seakan berubah menjadi harapan di depan mataku...”
“Mahalia, aku...”
“Tidak,” sela Mahalia. “...aku tidak menyesal bertemu denganmu. Tidak akan pernah.
“Satu-satunya yang kusesali adalah...” katanya lagi perlahan, “adalah bagaimana aku melibatkan kedua anak kita. Kurasa aku telah gagal sebagai ibu. Pertama aku membiarkan mereka menimpakan beban ini kepada Fragin, kemudian aku juga gagal melindungi Sorkha...”
“Tidak ada yang dapat kaulakukan mengenai itu,” kali ini giliran si pria menyela.
“Ya,” kata Mahalia resah. “Kau benar... Tak ada yang bisa kulakukan mengenai itu. Padahal aku ibu mereka...”
Terdengar suara si pria menghela napas panjang.
“Kalau begitu, ayo kita pergi.”
“...pergi?”
“Ya, pergi. Kemana saja,” ujar si pria mantap. “Kau, aku, Fragin, dan Sorkha. Memulai hidup baru di suatu tempat yang jauh dari semuanya... Bagaimana menurutmu?”
“T-t-tapi...”
“Mahalia,” kata si pria lagi, “kau selalu punya pilihan, kau tahu itu?”
Lalu keheningan kembali mengosongkan pendengaran Floa, kemudian didengarnya Mahalia tertawa lirih.
“Terima kasih, Triad, sungguh,” dia berujar. “Kedengarannya sangat menggoda, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak yakin aku sanggup membayar kebahagiaanku sendiri dengan kebahagiaan berjuta umat Waldheim yang akan menjadi tanggunganku...”
“Apa yang kautakutkan, Mahalia? Dosakah?” tanya Triad. “Bagaimana kalau kukatakan aku bersedia menanggungnya bersamamu...?”
“...tidak,” tolak Mahalia sekali lagi. “Kau baik sekali, tapi aku tidak mungkin tega melakukan hal itu terhadapmu. Jangan katakan lagi, tolong.”
“Baiklah,” kata Triad menyerah. “Kalau memang itu keputusanmu, aku akan mendukungmu. Selalu. Mengenai Fragin dan Sorkha...”
“...aku akan melindungi mereka dengan segenap kekuatanku,” kata Mahalia, masih dengan nada lirih yang sama. “Sekalipun aku harus mati, takkan kubiarkan hal yang paling buruk terjadi pada mereka.”
“Kita, Mahalia,” koreksi Triad. “Kita akan melindungi mereka bersama-sama...”
Kemudian kegelapannya terasa berpindah, dan Floa kini dapat merasakan tubuhnya sendiri. Detak jantungnya. Napasnya. Jemarinya bergerak. Tetapi entah mengapa kehangatannya tidak segera menghilang. Penasaran, dia mencoba menyingkap kelopak matanya. Kemudian dia terkejut.
“M-Miharu?!”
Setengah panik setengah jengah, Floa beringsut menjauh. Otaknya berusaha keras berpikir cepat mengenai banyak hal, mulai dari mengingat-ingat dimana mereka berada, apakah Miharu yang ada di hadapannya saat ini tak lebih dari sekedar halusinasinya, hingga alasan apa yang membuat pemuda itu berada sedemikian dekat padanya tadi.
“K-kenapa kau...?” hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya sementara dia menatap pemuda itu lekat-lekat, berusaha menemukan perbedaan semenjak terakhir kali dia melihat wajahnya. Tetapi beberapa kalipun dia berusaha, Miharu tetaplah Miharu.
“Aku melihatmu menangis,” dia menjawab, pendek dan lugas seperti yang selalu diingat Floa.
Secara refleks Floa menyapukan tangan ke kedua matanya. Kemudian dia membeku. Kedua matanya basah—dan bahkan tanpa disadarinya air mata masih mengaliri pipinya dengan deras. Dia mencoba menghentikannya, tetapi malah semakin jelas pula dalam ingatannya suara-suara yang didengarnya selagi dia bermimpi. Ah, tidak. Dia paham itu bukan mimpi.
Sekarang Floa bisa mendengar bunyi cegukannya sendiri. Dia tahu dia menangis semakin keras diluar kemauannya. Dia juga tahu Miharu tidak akan bertanya ada apa, tetapi entah bagaimana dia tidak terkejut merasakan tangannya menyentuh sebelah pipinya. Dengan tangannya sendiri yang bergetar oleh tangis Floa meraih tangan Miharu yang lainnya, lalu menggenggamnya erat-erat.
“...tolong jangan pergi lagi,” pintanya.




1 komentar:
komentar gak guna: "gak ngerti" :P
no komen buat ceritanya. disimpan dulu sampe glg me-reveal semuanya :D
suasana ok, narasi ok, dialog ok. malas kritik ah. ga ada yang bisa dikritik :P
Posting Komentar