Pages

Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Mei 2012

Fantasy Fiesta 2012 - Mindy versus Alien Oonyunyu


Coba tebak. Bersembunyi di balik tiang listrik, kelihatan seperti gundukan laundry yang bergerak, tapi tetap kelihatan cantik—apakah itu?

Itu aku, tentu saja. 

Ah, sudah. Lupakan. Tadi aku berusaha main tebak-tebakan dengan diriku sendiri untuk membuat perasaanku lebih baik. Kenyataannya, tidak ada yang bakalan bisa membuat perasaanmu menjadi baik—bahkan sekalipun itu kenyataan bahwa dirimu memang sangatlah cantik, kalau beberapa meter di depan sana gebetanmu sedang bermesraan dengan cewek lain.

“Makasih ya, aku senaaaaaaaangggg banget hari ini!”

Si cewek bermuka kera. Si cewek tompel. Entah panggilan mana yang paling cocok buatnya. Dia memasang senyum (sok) imut malu-malu, kemudian terkikik dengan suara tawanya yang persis suara kloset tersumbat. Ih. Jijik. Dibiarkan keluar rumah saja dia sebenarnya tidak pantas—apalagi melakukan hal-hal seperti itu. Aku jadi merinding.

Selasa, 10 Januari 2012

Calla Ed Tenets

Lagi-lagi, ini cerpen lomba yang sayangnya gagal kumenangkan. Keseluruhannya memang ketahuan banget ditulis oleh seorang fangirl. Semoga cerita yang penuh fanservice ini bisa dinikmati.

***


Ratusan tahun yang lalu di atas langit malam, kereta Dewa tengah melintas menuju perbatasan di daerah tenggara. Malam itu salju turun dengan lebatnya, dan petir serta guntur saling sahut-sahutan. Kemudian angin kencang meniupkan kereta Dewa hingga terhempas ke daratan Seren yang kering kerontang. Dewa jatuh tidak sadarkan diri. Keretanya pecah berkeping-keping.

Seorang petani menemukannya terbaring di antara petak-petak sawah yang sudah menggundul. Adapun Dewa berperawakan gendut dan sangat pendek. Jenggotnya berwarna perak dan panjang. Pikir si petani, Dewa adalah orang asing yang tersesat. Lalu dibawanya Dewa ke dalam rumahnya. Tapi petani itu sangat miskin, sama miskinnya dengan penduduk lain di perkampungan yang kecil itu. Untuk merawat Dewa, para penduduk saling bahu-membahu untuk menyediakan segala keperluannya.

Senin, 09 Januari 2012

Maaf

Cerita ini kuikutin dalam sebuah kompetisi bulan Juli tahun lalu, yang sayangnya engga berhasil kumenangkan. Karena salah satu dari requirements lomba adalah memakai setting luar negeri, cerpen ini latarnya (seperti yang sudah bisa diduga) di Korea. Aku sendiri kurang sreg sama sense penamaanku yang ketauan banget hasil gugel, tapi yeah, biar gimanapun juga, menurutku sendiri ini salah satu cerpen teenlitku yang paling berhasil. Jadi bisa dibilang aku sendiri suka banget sama cerita ini.

Selamat membaca (jika ada yang membaca)!

Selasa, 15 November 2011

Surga Buku - Cerita Tentang Surga

Gadis itu bukan aku. Meskipun dia memang mirip denganku—wajah yang bundar serupa, postur tubuh yang agak membungkuk, kaus oblong yang sama, kacamata berbingkai putih... tapi dia bukan aku. Ada sesuatu pada sepasang matanya yang membedakannya denganku, sesuatu yang untuk alasan yang tak kumengerti sekonyong-konyong membuatku merasa benci.

Dan lucunya adalah, benciku padanya adalah sesuatu yang rasanya terlalu akrab bagiku. Ada iri yang tak bisa dijelaskan di sana. Perasaan rendah diri. Ketakutan. Rasa bersalah.

“Apa itu di tanganmu?”

Minggu, 27 Februari 2011

Yang Tidak Pernah Terkabul

(Disadur dari suatu komik strip di suatu tempat yang ga bisa diingat.)

Di suatu pagi kau terbangun. Karena pagi itu cerah, kau jadi terpikir untuk lari pagi. Kau bergegas mandi, memakai setelah olahragamu yang terbaik, mengenakan sepatu ketsmu, kemudian membuka pintu menuju dunia luar yang dipenuhi harumnya embun di atas dedanunan, semilir angin sejuk, serta disinari cahaya lembut matahari-setengah-bangun. Cuacanya sempurna, katamu pada diri sendiri. Lalu mulailah kau berlari pelan menuju taman. Sesampainya di sana baru kausadari ternyata jalanan agak becek. Seingatmu, semalam hujan memang turun gerimis. Maka kau pun berdoa,

"Semoga aku tidak jatuh."

Tapi lalu beberapa langkah ke depannya, kau terpeleset dan jatuh dengan bunyi benturan badan serta pekik kesakitan yang pastinya didengar semua orang di penjuru taman yang kini mulai ramai. Dan benar saja, di sekelilingmu sudah berkumpul banyak orang. Ada yang menunjuk-nunjuk, ada pula yang tertawa. Rasa malu menguar dari pori-pori kulitmu dalam bentuk uap panas yang merambati wajah. Maka kau pun berdoa,

"Semoga gebetanku tidak ada di sini."

Rabu, 21 Juli 2010

Cinderella Juliet

Bukannya aku seorang puteri, yang jelita dalam imajinasi dan tinggal dalam kastil mimpi. Memakai gaun peri berwarna pelangi, meniup balon-balon busa berbentuk hati, sambil bermain di atas ayunan yang terjalin dari kembang warna-warni, lalu mengayun terbang menembus awan-awan merah jambu di langit tinggi. Tidak, itu bukan aku, pangeran. Aku hanyalah seorang pemimpi yang gemar menyanyikan lagu roman picisan selagi mengupasi kentang dan bawang, yang berteman dengan tikus-tikus juga para ternak. Dengan mengenakan celemek kotor, aku berdiri di muka jendela memandangi kastil yang menjulang di atas bukit setiap pagi, mengkhayalkan kehidupan yang berjalan di dalamnya. Sedangkan di lantai bawah sana, teko dan panci mulai memanggil-manggilku kembali masuk ke dalam realita.

Tapi pertemuan kita seakan menjadikanku seorang puteri seketika itu juga, dimana waktu adalah si ibu tiri yang jahat—ketiga jarumnya adalah dua kakak tiri serta si kucing nakal. Dan kita dipisahkan seperti Romeo dan Juliet. Tercabik antara siang milik Capulet dan malamnya Montague. Ah, andai sang penanda waktu tidak segera berdentang kala tengah malam tiba, mungkinkah aku sempat mengatakan sesuatu sebelum langkah-langkah membawaku pergi jauh darimu?

Oh pangeran yang sudah kusukai sejak aku melihatmu mengagumi iris yang tumbuh di kebunku, kuharap kau sadar bahwa di hari pertemuan kita yang pertama dan terakhir itu, aku meninggalkan sebelah pasang sepatu kacaku di tangga kastilmu. Dengan harapan kau akan menemuiku lagi di kemudian hari untuk mengembalikannya. Jika benar bunga irisku adalah sihir yang memasangkan gaun keperakkan ini di tubuhku dan mengubah labu menjadi kendaraanku, maka biarlah takdir mempertemukan kita sekali lagi sebelum kelopaknya berguguran dan ia mati.