Pages

Selasa, 15 November 2011

Surga Buku - Cerita Tentang Surga

Gadis itu bukan aku. Meskipun dia memang mirip denganku—wajah yang bundar serupa, postur tubuh yang agak membungkuk, kaus oblong yang sama, kacamata berbingkai putih... tapi dia bukan aku. Ada sesuatu pada sepasang matanya yang membedakannya denganku, sesuatu yang untuk alasan yang tak kumengerti sekonyong-konyong membuatku merasa benci.

Dan lucunya adalah, benciku padanya adalah sesuatu yang rasanya terlalu akrab bagiku. Ada iri yang tak bisa dijelaskan di sana. Perasaan rendah diri. Ketakutan. Rasa bersalah.

“Apa itu di tanganmu?”

Aku menjatuhkan benda yang tadinya kupegang sebelum aku sadar dia sedang memergokiku. Selembar sampul buku yang lecek. Lantai tertutup lembaran kertas yang tercabik-cabik sedemikian rupa. Berbagai macam huruf yang berbeda tercetak di atas mereka. Ada yang miring, ada yang tegak, ada yang putus-putus, ada yang susah dibaca. Semua tertulis di atas lembaran-lembaran itu dengan tinta. Kalimat-kalimat yang kini terpatah-patah dan tidak ada artinya.

“Bukan urusanmu,” jawabku sambil menghindari pandangannya.

“Apa yang telah kaulakukan, anak nakal?” tanyanya menginterogasi.

“Sudah kubilang, bukan urusanmu.” Aku menendang-nendang kertas-kertas yang menumpuk di ujung jemari kakiku.

“Kenapa kaulakukan itu?”

Aku tidak menjawabnya. Ada perasaan tertentu yang membuatku tidak sanggup memilih untuk kabur darinya dan semua pertanyaan yang telah dan akan dia ajukan.

“Kau sedang bertingkah kasar dan kekanak-kanakan. Kau tahu itu?”

“Berisik!” bentakku antara malu dan marah. “Berisik berisik berisik berisik berisik!” Kusambar salah satu kulit buku yang berat, lalu kulemparkan tepat ke wajahnya. Sambil mendelik, kupastikan bahwa muncul sedikit retakan di sana, lalu kupandang sinis tanpa penyesalan.

Tapi wajah yang kaku itu masih menatapku, tanpa ampun menyiratkan keprihatinan yang membuatku merasa lebih marah lagi.

“Jangan katakan apa-apa lagi.”

Yang ingin kuucapkan adalah perintah yang tegas, namun yang keluar lebih kedengaran seperti permohonan memelas.

“Aku benci padamu!”

Kemudian tajam dan pelan, dipanggilnya namaku.

“Mendekatlah padaku,” bisiknya.

Aku menunduk dan menggeleng, membalikkan badan, lalu dengan lemah beringsut mendekati sebuah tumpukkan di sudut ruangan. Buku dengan kulit dan sampul yang berwarna-warni. Sebagian dari mereka bergambar, sebagian lagi bermotif sederhana. Beberapa berbau wangi yang lembut. Kuambil sebuah, dan kuhirup aromanya yang mengingatkanku akan sebuah rumah di masa kecil. Dengan penuh harap, kubuka sampulnya, lalu kuusap halaman pertamanya yang disesaki dengan huruf-huruf bundar yang kecil-kecil, dimulai dari sederet tanggal di bagian atas kanan. Lalu perlahan, aku mulai membaca. Sampai pertengahan buku, aku mulai terisak-isak.

“Aku tidak sanggup.”

Di dalam ruangan sempit itu, aku membaringkan diriku, bergelung dan mulai menangis sesenggukan seperti anak kecil yang ketakutan. Air mataku berbaur dengan lembaran-lembaran yang menutupi permukaan lantai, membasahi mereka, melunturkan jejak-jejak meliuk yang tertera pada tubuh mereka. Buku yang kupegang itu kujatuhkan. Halamannya terbuka, memperlihatkan akhirnya yang tidak pernah selesai. Dalam benakku, aku membayangkan segambar sosok yang kukenal jatuh melayang dari ketinggian. Dan barangkali akan ada lebih banyak rangkaikan kalimat yang mencakari hati seperti jarum.

“Kenapa tidak dihabiskan?” Gadis itu bertanya kembali.

“...tidak tahan,” jawabku seraya menyembunyikan wajah dengan pergelangan tangan. “Aku sudah kehilangan semua kepercayaanku.”

“Tidak semuanya harus seperti yang kaubayangkan,” katanya lagi.

“Mereka semua bilang begitu!” sahutku dengan suara melengking. “Tapi aku sudah melihat terlalu banyak. Dan aku-sudah-muak!”

Kulentingkan tubuhku untuk menegakkan diri, kemudian kuambil kembali buku yang terbuka itu dari lantai. Berapi-api dan kesetanan, kurenggut satu demi satu halamannya hingga lepas dari kulitnya. Belum cukup puas, halaman-halaman yang sudah terlepas itu kurobek-robek hingga menjadi beberapa potongan. Belum lagi puas, kuambil lagi dari tumpukkan itu dan kulakukan hal yang sama pada mereka.

“Aku tidak butuh melihatnya,” kataku dengan geraman tertahan, “aku tidak butuh mendengarnya, aku tidak butuh membayangkannya. Jika semuanya seperti ini, maka aku tidak butuh.... mengalaminya.”

Dan lalu ternyata aku mendengar dengus tawa yang menghina.

“Kau sakit.” Begitu kata si gadis. Belum pernah aku melihat wajahnya seculas itu. Licik dan penuh kemenangan.

Aku hanya bisa memandangnya dengan napas memburu. Tanganku masih gemetaran setelah dipaksa melepaskan sejumput lembaran dan merobek-robek mereka lagi dalam sekali tarikan.

“Apa maksudmu sakit?”

“Mendekatlah,” ajaknya sekali lagi.

Berdua, sepasang mata yang sama tapi berbeda, hadap-hadapan saling bertatapan. Sejenak keheningan, kemudian dia berkata lagi.

“Yang kuminta hanyalah agar kau meminjamkan sepasang tanganmu.”

Setengah putus asa, setengah tidak peduli lagi, aku menjulurkan kedua tanganku ke tempat dia mengulurkan kedua telapak tangannya juga. Kemudian tangan-tangan kami bersentuhan. Gadis itu dingin—seperti kaca.

“Ingatlah bahwa aku adalah bagian dari dirimu,” tuturnya. “Akulah tanganmu, dan selamanya aku akan menjadi kemampuanmu yang istimewa. Bersama-sama, kita akan menciptakan sebuah dunia di mana tidak akan terjadi lagi hal-hal yang kaubenci itu. Kita akan menciptakan.... sebuah surga.”

Kenangan demi kenangan berkelebat di hadapanku. Mimpi-mimpi yang tertinggal dan dilupakan. Perasaan-perasaan yang tidak pernah terbalas. Penderitaan yang tidak berakhir dalam kebahagiaan, melainkan berlipat ganda sampai dengan akhirnya. Dan air mata kembali membanjir. Saat ini perasaan-perasaan itu bercampur menjadi satu, membuncah, dan terasa mengiris-iris jantungku.

“Itu tidak nyata,” kataku nyaris tanpa suara. “Inilah yang nyata.”

“Benar,” katanya, dan aku dapat merasakan hembusan napasnya. “Tetapi sekalipun begitu, surga kita akan menjadi penghiburan kecil bagi mereka—bagi dunia.”

“Aku ingin melakukan... sesuatu...”

“Kau akan melakukan lebih dari sesuatu.” Itu yang terakhir kudengar sebelum jendela di belakangku menjeblak terbuka, angin menerpa, dan lembaran-lembaran di lantai bangkit beterbangan—berpusar menghalangi pandangan. “...kita akan melakukannya bersama-sama.”

Aku membuka mata. Kilauan matahari dari luar jendela menyengat mataku yang belum terbiasa. Aku mengerjap, kemudian mengangkat kepalaku yang terbaring di atas meja. Kuusap mataku untuk mengusir kantuk, kemudian teringat. Aku mengambil pena yang tergeletak di ujung meja, sejenak memandangi sebuah buku yang tertutup di hadapanku. Perlahan, kujulurkan tanganku untuk membukanya. Lalu aku menarik napas, meresapi bau percetakan yang tertinggal di atas buku baru yang masih kosong melompong. Ya, kosong melompong dan siap untuk ditulisi.

Maka aku memejamkan mata selama beberapa detik, memikirkan paragraf pembuka yang cukup layak untuk mengawali sebuah cerita sebelum mulai mengangkat pena. Sebuah cerita tentang surga.

___
Link: surgabukuku.wordpress.com
Aku mau paket B XDDD

0 komentar:

Posting Komentar