(Disadur dari suatu komik strip di suatu tempat yang ga bisa diingat.)
Di suatu pagi kau terbangun. Karena pagi itu cerah, kau jadi terpikir untuk lari pagi. Kau bergegas mandi, memakai setelah olahragamu yang terbaik, mengenakan sepatu ketsmu, kemudian membuka pintu menuju dunia luar yang dipenuhi harumnya embun di atas dedanunan, semilir angin sejuk, serta disinari cahaya lembut matahari-setengah-bangun. Cuacanya sempurna, katamu pada diri sendiri. Lalu mulailah kau berlari pelan menuju taman. Sesampainya di sana baru kausadari ternyata jalanan agak becek. Seingatmu, semalam hujan memang turun gerimis. Maka kau pun berdoa,
"Semoga aku tidak jatuh."
Tapi lalu beberapa langkah ke depannya, kau terpeleset dan jatuh dengan bunyi benturan badan serta pekik kesakitan yang pastinya didengar semua orang di penjuru taman yang kini mulai ramai. Dan benar saja, di sekelilingmu sudah berkumpul banyak orang. Ada yang menunjuk-nunjuk, ada pula yang tertawa. Rasa malu menguar dari pori-pori kulitmu dalam bentuk uap panas yang merambati wajah. Maka kau pun berdoa,
"Semoga gebetanku tidak ada di sini."
Sayang sekali detik itu juga tertangkap olehmu penampakkan seorang remaja laki-laki jangkung dan tegap di antara kerumunan. Wajahnya yang tampan menatapmu dalam ekspresi ruwet yang sukar diterjemahkan akan berujung pada reaksi macam apa. Padahal selama ini pikirmu kau sudah membuatnya cukup terkesan pada dirimu hingga tingkatan tertentu, meskipun rasanya dia tidak bisa memandangmu sebagai lebih dari sekedar perempuan standar. Jantungmu mencelos, rona merah di wajahmu semakin jelas. Putus asa, kau pun berdoa,
"Semoga setidaknya ini tidak membuatnya berubah pikiran tentang aku."
Lalu detik itu juga kau terkejut mendapati gebetanmu melangkah menerobos kerumunan. Diulurkannya tangan kanannya padamu seraya berkata sambil menyeringai, "Kau kelihatan imut ketika jatuh." Dengan tangan gemetar saking tidak percayanya, kau menerima bantuan itu. Percaya tidak percaya, semenjak kejadian kecil itu kalian berdua jadi lebih akrab. Dia jadi sering menelponmu, mengirim SMS padamu, mengunjungimu sewaktu-waktu. Kalian pun resmi berpacaran, yang sampai detik ini masih agak sulit kaupercayai. Sampai suatu hari dia mengajakmu berkencan di taman waktu tempo hari. Berdua, kalian berjalan bersisian. Tangannya di pinggangmu. Kepalamu bersandar di dadanya. Kebahagiaan meletup-letup di dadamu bagaikan parade kembang api tahun baru yang susul-menyusul tiada hentinya. Kau pun berdoa,
"Semoga segalanya tidak akan pernah berubah."
Tiba-tiba saja kekasihmu mengajak duduk di sebuah bangku panjang di tepi kolam. Kau duduk, bertanya-tanya mengapa kekasihmu kembali menampilkan sebuah ekspresi ruwet tak terbaca yang sama seperti waktu dia menolongmu bangun hari itu. Tak lama sebelah tangannya keluar dari saku celananya, menggenggam sebuah kotak kecil berselimut beludru yang rasa-rasanya bisa kautebak apa isinya. Kau menahan napas. Dia melamarmu. Kekasihmu mengajakmu menikah dengannya. Kau hampir pingsan kala dia memintamu, tetapi susah payah kau sukses memaksa dirimu sendiri menjawab, "Ya."
Kau tengah berdiri bersama kekasihmu di muka gereja, tersenyum malu di antara tawa, ledekan, dan ucapan selamat berbahagia sanak saudara dan kerabat. Lonceng berdentang. Kelopak bunga berjatuhan layaknya hujan. Hari itu kau tampak cantik mengenakan gaun putih berenda-renda. Kekasihmu terlihat seperti bertambah berkali-kali lipat ketampanannya dengan setelan jas hitam. Dikelilingi sukacita orang-orang yang kausayangi, serta membayangkan hidup baru bersama kekasihmu--yang kini resmi menjadi suamimu, wajahmu bersinar oleh kebahagiaan. Sepenuh hati kau pun berdoa,
"Semoga ini bukan mimpi."
Kedua kelopak matamu membuka. Langit-langit kamarmu menyambut datangnya pengelihatanmu di dunia nyata. Jam wekermu tampaknya sudah lelah berdering-dering sampai serak. Dengan kasar kausambar dia dari tempatnya berdiri, matamu melotot melihat kabar yang dibawakannya. Kau bangun kesiangan. Telat setengah jam. Sialan, kutukmu dalam hati.
*End*




0 komentar:
Posting Komentar