Lagi-lagi, ini cerpen lomba yang sayangnya gagal kumenangkan. Keseluruhannya memang ketahuan banget ditulis oleh seorang fangirl. Semoga cerita yang penuh fanservice ini bisa dinikmati.
***
Ratusan tahun yang lalu di atas langit malam, kereta Dewa tengah melintas menuju perbatasan di daerah tenggara. Malam itu salju turun dengan lebatnya, dan petir serta guntur saling sahut-sahutan. Kemudian angin kencang meniupkan kereta Dewa hingga terhempas ke daratan Seren yang kering kerontang. Dewa jatuh tidak sadarkan diri. Keretanya pecah berkeping-keping.
Seorang petani menemukannya terbaring di antara petak-petak sawah yang sudah menggundul. Adapun Dewa berperawakan gendut dan sangat pendek. Jenggotnya berwarna perak dan panjang. Pikir si petani, Dewa adalah orang asing yang tersesat. Lalu dibawanya Dewa ke dalam rumahnya. Tapi petani itu sangat miskin, sama miskinnya dengan penduduk lain di perkampungan yang kecil itu. Untuk merawat Dewa, para penduduk saling bahu-membahu untuk menyediakan segala keperluannya.
Tiga hari kemudian, Dewa pun membuka mata. Setelah seminggu, tubuhnya sudah sehat seperti sedia kala. Diberitahukannya pada si petani bahwa dialah Dewa, dan ditawarkannya kesempatan permohonan apa saja sebagai tanda terima kasih karena telah menyelamatkannya.
Tetapi dengan besar hati sang petani mengakui bahwa seluruh penduduk ikut andil dalam menolong sang Dewa. Dewa terkesan dengan kejujuran petani yang tidak menginginkan permohonan untuk dirinya sendiri. Maka dijanjikannya hujan bintang kepada para penduduk setiap tahunnya. Barangsiapa memohon pada saat hujan tersebut, permohonannya akan dikabulkan oleh Dewa.
Menjelang tengah malam pada suatu hari yang cerah, Dewa naik kembali ke atas keretanya untuk melanjutkan perjalanan diiringi lambaian para penduduk. Ketika kereta Dewa telah membubung tinggi di angkasa, langit dipenuhi bintang-bintang perak yang berkerlap-kerlip seperti mutiara yang saling berjatuhan. Seketika penduduk bersorak-sorai dan memejamkan mata untuk berdoa. Permohonan penduduk yang tulus menumbuhkan benih-benih pepohonan dan menyuburkan tanah Seren yang pecah-pecah. Keesokan harinya, hujan gerimis yang lembut turun. Dan keesokan harinya lagi, para penambang menemukan berlian di gua-gua perbukitan.
Demikian tanah Seren berubah menjadi negeri yang makmur. Namun setiap tahunnya, penduduk masih merayakan hari keberangkatan Dewa yang disebut Festival Bintang Jatuh.
***
Laki-laki di bawah pohon maple.
Adalah seorang pemuda yang duduk di sana setiap hari. Dia duduk terpekur, memandangi buku sketsa yang disangga lutut. Kedua matanya yang berwarna biru safir sesekali menyipit. Kalau sudah begitu, sepasang alis tebalnya akan turun beberapa mili, terjalin membentuk kerut konsentrasi di dahinya yang tertutup poni rambutnya yang hitam legam pendek, agak ikal. Lalu beberapa saat menjelang dia akan mengambil napas, mengangkat kembali tangan pemegang pensilnya, kemudian kembali sibuk mengarsir.
Begitu terus berulang-ulang, dia tenggelam dalam dunianya sendiri.
...tapi mungkin hari ini tidak begitu sama.
Jantungku seperti tenggelam ke dasar perut, dan oksigen di sekitarku seperti disedot oleh lubang hitam yang tak nampak. Baru saja pemuda itu mendongak seakan sadar aku sedang mengawasinya. Dan aku memang sudah melakukannya cukup lama tanpa disengaja.
Tapi masalahnya, dia mungkin salah satu pemuda paling tampan yang pernah kulihat. Tersembunyi di balik buku sketsa yang hampir menempel ke wajah itu adalah hidung yang bangir sempurna serta raut wajah yang tirus, menjadikan wajah pucat pemuda itu bagaikan mahakarya istimewa tukang pahat terkemuka di penjuru negeri. Sejenak bibir tipisnya membuka dengan heran seakan dia kebingungan.
Lalu aku bergidik, dan buru-buru membuang pandang. Wajar saja orang jadi keheranan kalau ada yang berdiri mematung sambil menghadap ke arahmu, sekalipun kau mungkin tidak bisa melihat wajahnya karena terhalang kostum kepala boneka seberat satu setengah kilo.
...sebenarnya apa sih yang sedang kupikirkan?
“Hei, ayo main lagi!”
Ada yang tertawa-tawa dan merayap naik ke punggungku. Otomatis aku membungkuk, sadar masa istirahatku sudah selesai. Anak itu memanjat melalui telapak tanganku hingga sampai di puncak gendongan. Datang lagi beberapa membawa gulali serta balon warna-warni. Laki-laki dan perempuan. Semuanya menarik-narik bagian-bagian kostumku, tertawa-tawa meminta giliran naik ke atas punggungku. Kulayani mereka satu-persatu. Ketika mereka sudah hampir bosan, aku membenarkan letak kepala si boneka lalu melakukan koprol di atas permukaan lantai cornblock alun-alun. Anak-anak tertawa lagi. Beberapa orang dewasa yang melihatnya ikut bertepuk tangan.
Yah. Itu pekerjaan sambilanku sekarang. Melakukan pertunjukkan jalanan, atau lebih tepatnya.... menjadi badut.
***
“Sudah selesai?!”
Aku menganggukkan kepalaku yang berat dan berlapis-lapis. Seorang wanita bercelemek buru-buru menghampiriku dari sudut dimana sebelumnya dia sibuk meletakkan pot-pot bunga berukuran besar. Tangan gempalnya mencengkeram sepasang bahuku, mengguncangnya bersemangat. “Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih,” katanya dengan tawa berderai. “Entah apa yang harus kami lakukan dengan semua anak-anak itu jika tak ada kau, Nona... mereka benar-benar memperlambat jalannya persiapan...”
“Bibi! Tolong jangan panggil aku begitu...” desisku serak.
“Maaf. Baiklah, baiklah... Hanya ini yang bisa kami berikan padamu untuk hari ini,” katanya, masih terlihat geli ketika menyelipkan beberapa lembar kertas ke dalam tanganku. “Kau bisa kembalikan kostumnya ke rumahku. Aku harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku sebelum gelap. Sampai besok, Estrellita manis.”
Seperginya wanita itu, aku berjalan lunglai menuju barisan pepohonan berwarna kecoklatan khas musim gugur di sekeliling alun-alun, tempat di mana aku bisa duduk di atas salah satu undakkan bata merah tanpa dilihat terlalu banyak orang. Akhirnya kostum boneka ini bisa dilepas. Aku mencopot kepala si beruang, mengambil napas, berusaha memasukkan sebanyak mungkin udara ke dalam paru-paru.
Senja hari. Alun-alun kota masih dipenuhi manusia berlalu lalang; berteriak memberi perintah satu sama lain, membawa bermacam-macam benda mulai dari peralatan makan, barang-barang dekorasi, hingga berbotol-botol anggur, atau sekedar bergosip satu sama lain. Tinggal dua hari lagi menuju Festival Bintang Jatuh. Kesibukan diperkirakan akan bertambah keesokkan harinya, dan itu berarti butuh kerja lebih keras lagi untuk mengalihkan perhatian anak-anak supaya tidak berlarian mengganggu orang-orang dewasa mempersiapkan pesta besar-besaran.
Angin senja menghempaskan helai-helai rambutku. Aku mendesah, memandangi kepala besar beruang putih berpita yang tengah kupegang. Rasanya senang bisa membuat anak-anak gembira, tapi ternyata sangat melelahkan. Kukeluarkan uang yang kuterima dari Bibi Linette barusan, mencoba meluruskannya. Sepertinya aku butuh lebih banyak lagi kalau ingin ayahku mendapat pengobatan sesegera mungkin.
Kemudian matahari mulai bergerak turun, dan aku teringat betapa aku tidak boleh berada di sini lama-lama. Kulipat uangku, kumasukkan ke dalam sakuku. Kepala kostum yang kini agak melempem kopong kukempit di bawah tangan. Silau matahari senja menusuk pandang. Aku mengernyit. Seseorang berjalan menghampiriku, sepenuhnya terhalang cahaya keemasan selain ujung-ujung sepatunya yang hitam mengilat.
“Kau...”
Aku mendongak, lalu terperangah—sama sekali tidak mengharapkan si pemuda di bawah pohon maple, yang sepasang bola mata safirnya terlihat lebih cemerlang dari dekat.
Apapun itu, aku segera ketakutan, melompat bangkit, lalu mengambil langkah seribu. Sempat kudengar dia berteriak memanggil, “O-oi!” dengan setengah terkejut, tetapi aku tidak berpaling lagi. Debaran jantungku tak kunjung mereda sekalipun aku melangkah semakin jauh.
***
“Darimana saja kau?!” bentak ibuku ketika aku berjingkat-jingkat menaiki tangga menuju kamar tidurku di lantai dua. Dia wanita necis yang senantiasa berpakaian mewah dalam segala kesempatan. Namun kecantikkannya agak tersia-sia oleh tanda-tanda penuaan serta kelelahan—sama seperti rumah ini. Mewah namun tak terpelihara.
Pundakku merosot turun ketika memaksa diri menoleh dan menjawab. “Aku... mampir ke rumah Bibi Linette untuk menjaga anak-anaknya,” kataku seraya menyilangkan jari di balik punggung.
Ibu memandangku dengan curiga, tetapi rupanya memutuskan untuk mencoba percaya. “Kuharap memang begitu!” dengusnya, kemudian tampak melunak. “Aku juga khawatir akan kondisi ayahmu serta keuangan kita yang tidak memadai. Tetapi sebagai putri bangsawan, kau dilarang melakukan pekerjaan-pekerjaan tak layak. Kau mengerti, Estrellita?”
“Ya,” kataku asal saja. Aku buru-buru menaiki anak tangga yang tersisa, berlari menyeberangi koridor, lalu masuk ke kamar dengan membanting pintu, melemparkan tubuh ke atas kasur, dan menghela napas lelah.
Aku percaya ibu sedang menipu diri, dan itu menyedihkan. Kami dulu bangsawan, sekarang bukan lagi. Persisnya semenjak ayah rugi besar berkat tipuan licik saingan dagangnya. Harta kami nyaris habis tak bersisa, tanah kami disita. Lalu sudah tidak ada lagi yang menganggap keluarga Theobald sebagai bangsawan. Kemudian ayah mencoba bekerja menggarap tanah milik bangsawan lain, tapi uang cepat habis karena sikap ibuku yang masih bersikeras mempertahankan gaya hidup kebangsawanannya. Dia juga melarangku sering-sering keluar rumah karena malu. Beberapa bulan sebelumnya, ayah didiagnosa terkena penyakit jantung. Sudah belakangan ini penyakitnya semakin parah. Dia membutuhkan pengobatan sesegera mungkin, dan aku menemukan diriku sendiri putus asa mencuri-curi kesempatan untuk mengambil pekerjaan yang kubisa, karena kondisi keuangan sedemikian parahnya, dan sikap ibu jelas tidak membantu.
Lalu muncullah bibi Linette, tetangga sekaligus mayor kami, menceritakan soal festival dan legenda itu kepadaku ketika aku datang untuk bermain dengan kedua anaknya. Karena dibesarkan dengan cara yang sangat tertutup, aku hampir tidak tahu apa-apa mengenai perayaan itu. Meskipun saat itu yang terlintas di kepalaku adalah betapa pekerjaan sebagai badut beruang ini bodoh, aku tidak tahu pekerjaan macam apa lagi yang bisa kuambil untuk mencari uang. Pertimbangan berikutnya adalah, aku tidak harus memperlihatkan wajahku dengan memakai kostum sepanjang waktu. Sedangkan pertimbangan yang terakhir... aku juga sedikit ingin bergantung pada kebenaran legenda, dan sangat berharap bisa memohon kesembuhan bagi ayahku kepada Dewa.
***
Saat itu aku sedang duduk di undakan bata favoritku, di bawah jejeran pohon keemasan, tengah menikmati waktu istirahatku yang hanya lima belas menit sebelum diharuskan untuk kembali bekerja. Belajar dari pengalaman kemarin, aku tidak melepaskan kepala beruangku, yang setelah beberapa saat terbukti sebagai tindakan yang benar.
Seseorang duduk setengah meter dari tempatku ketika aku sedang sibuk berpikir. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk sadar bahwa dialah si pemuda di bawah pohon maple. Sejenak, aku panik dan nyaris melompat berdiri, aapi lalu aku menenangkan diri sendiri dengan meyakinkan bahwa toh saat ini aku sedang memakai kepala beruangku. Dia duduk tak nyaman, melirikku diam-diam seolah sedang bertaruh apakah aku akan kabur lagi seperti kemarin. Aku bergerak-gerak salah tingkah, bergeser beberapa sentimeter.
Tiba-tiba saja laki-laki itu tersenyum sendiri. Otomatis aku menatapnya, setengah bingung setengah malu. Dia melihatku, entah bagaimana mungkin bisa membaca ekspresi di balik wajah polos si beruang, lalu berdeham.
Bahkan sekalipun saat itu aku menyimpan beragam emosi yang kompleks terhadapnya, mau tidak mau aku menyadari betapa dia memang—yah, sangat rupawan.
“Jangan takut,” katanya menenangkan, “aku hanya mau bilang kalau aku suka atraksimu.”
Tubuh si beruang agak sedikit mengejang mendengarnya. Rasanya agak malu sekaligus sangat senang. Sejenak ada keheningan di antara kami. Aku meliriknya diam-diam. Pemuda itu tidak membawa buku sketsanya hari ini. Dia duduk santai, menikmati angin musim gugur seperti aku.
“Kurasa semua orang menikmati persiapan festival ini,” katanya lagi, duduk bertumpu dengan kedua telapak tangan. “Bukankah itu menyenangkan?”
Si beruang putih mengangguk. Rasanya memang menyenangkan melihat wajah-wajah sibuk namun gembira milik orang-orang dewasa, terlebih lagi wajah anak-anak yang tertawa sambil berkejaran di alun-alun. Atmosfer ini selalu membuatku merasa lebih bersemangat.
“Tapi agak miris ya?” tanyanya kemudian. “Padahal mereka semua sudah tahu bahwa legenda itu tidak akan jadi kenyataan.”
Aku diam, terperanjat.
“Kau tidak tahu soal itu?” tanyanya, lebih kaget lagi melihat kekakuan pada reaksi si beruang.
Si beruang menggeleng pelan, kemudian menunduk.
“Yah,” dengusnya geli. “Begini saja, kalaupun legenda itu memang benar beratus-ratus tahun lalu, maka sekarang Dewa sepertinya sudah berhenti mengabulkan permohonan kita. Kau tahu kenapa?
“Tebakanku adalah,” lanjutnya, “karena kita sudah bukan lagi negeri Seren yang dulu. Beratus-ratus tahun yang lalu, nenek moyang kita membuktikan betapa kita adalah kelompok yang solid, menanggung sedih dan susah bersama-sama, dan tidak memikirkan diri sendiri. Setelah itupun mereka bersama-sama memohon kesejahteraan untuk negeri Seren dan menjadikan negeri kita seperti sekarang.
“Tapi sekarang sudah jauh berbeda, kan?” katanya muram. “Semua orang akan memohon untuk kepentingannya masing-masing. Entah itu memohon laba berlipat ganda, menjatuhkan saingan, atau apa saja, sementara hari festival adalah satu-satunya hari dimana orang-orang miskin boleh ikut makan enak bersama para bangsawan.”
“Kurasa Dewa juga sudah bosan mendengarkan kita,” pungkasnya, masih dengan nada mendung yang sama.
Penjelasannya membuka mataku mengenai banyak hal. Aku tertegun. Kekecewaan menggulung dalam perutku, dan rasanya sesak. Aku tahu aku mulai menangis, dan merasa beruntung karena saat ini aku punya kepala beruang ini.
Si pemuda jelas tidak menyadari itu, tapi tentunya dia bisa melihat tubuhku yang menegang. Dan kepalaku masih menghadap ke arahnya, seakan si beruang masih dalam keadaan syok.
“Jadi... kuharap kau tidak benar-benar percaya soal omong kosong hujan bintang itu?” tanyanya, mengernyit setengah geli setengah tidak percaya.
Tetapi aku mengangguk, merasa putus asa. Dia pasti merasa aku sangatlah tolol, dan aku memang tolol. Aku menghabiskan separuh dari hidupku dikurung di dalam rumah, hanya diperbolehkan menjumpai orang-orang atau tempat-tempat tertentu. Wawasanku sangat sedikit. Ketika aku mendengar cerita Bibi Linette tentang festival ini, aku langsung percaya, lalu menanyakan apakah ada pekerjaan yang bisa kulakukan supaya sekaligus diperbolehkan mengikuti festival. Dalam benakku terbayang ayahku yang tengah terbaring sakit, serta peringatan ibuku kemarin.
Rasanya sangat malu. Dan bodoh.
Maka aku berdiri dan mengibaskan gaunku, karena saat itu juga aku ingin berada di mana saja selain duduk di sebelah pemuda di bawah pohon maple. Lalu aku berlari secepat mungkin, meninggalkannya sekali lagi dalam pertemuan yang tidak berakhir menyenangkan.
***
Aku berdiri di tepian ranjang, gemetaran. Ayahku, seorang pria paruh baya kurus mengenakan setelan berwarna merah pudar, terbaring pucat. Sebagian rambutnya sudah berwarna putih. Di bawah kedua matanya terdapat lingkaran-lingkaran hitam. Dokter baru saja pergi dengan meninggalkan berkantung-kantung obat serta nasihat panjang lebar kepada pelayan. Ibuku berdiri di pintu. Dia kelihatan lelah sekaligus tidak senang melihatku, karena setelah keributan besar tadi sore pasca serangan jantung ayah, akhirnya dia membongkar pekerjaan rahasiaku. Ditariknya tanganku, menyeretku keluar menuju koridor.
“Sungguh keterlaluan,” katanya dengan cuping hidung mengembang, seolah dia berusaha keras untuk tidak mengamuk. “Kau ini kenapa sih, Estrellita?! Kenapa kau terus saja membuat aku dan ayahmu pusing?! Lihat ayahmu! Dia sekarat dan banyak pikiran! Tega sekali kau melakukan ini terhadapnya!”
“Aku memikirkan pengobatan ayah!” protesku, hampir sama marahnya. “Kenapa ibu melarangku bekerja, sedangkan kita membutuhkan banyak uang untuk mengobati ayah...?”
“Kau ini putri bangsawan, Estrellita! Bersikaplah yang layak!” bentaknya tak kalah keras. “Yang bisa kauambil hanyalah pekerjaan-pekerjaan memalukan, membuat aib saja! Cukup. Segala omong kosong ini akan berakhir ketika aku sudah berhasil mencarikanmu laki-laki yang cukup terhormat dan kaya untuk dinikahkan. Sekarang kau cukup diam saja di rumah, dan jangan membuatku tambah susah. Kau mengerti?”
Disentakkannya tanganku dengan kasar. Air mata menggenang di kedua mataku. Ini benar-benar tidak adil, sampai-sampai aku tidak dapat mengatakan apa-apa lagi.
“Satu lagi.” Dia berbalik menambahkan seakan-akan semuanya belum cukup. “Kau tidak diperbolehkan keluar sampai batas waktu yang belum kutentukan!”
Lalu dia melesat menuju kamarnya sendiri, membanting pintu.
***
Aku duduk di kamarku, memandangi matahari perlahan tenggelam. Seharian aku berpikir, dan kini tekadku sudah bulat. Perasaan memberontak, marah, putus asa, bercampur dengan keingintahuan yang menyenangkan rasanya menyesakku untuk melakukan sesuatu.
Aku hanya tidak tahan lagi.
Belakangan ini rasanya aneh, setelah aku berkenalan dengan beruang putih itu dan berguling-guling seharian di lantai alun-alun. Mungkin sesuatu memang sedang terjadi pada kepalaku. Aku teringat anak-anak yang tertawa-tawa di atas punggungku, serta perasaan penuh harap ketika senja demi senja lewat dan festival itu semakin dekat, dan merasa aku seharusnya paling tidak menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Toh semuanya terasa begitu berbeda dibandingkan selama ini—duduk dalam kamar, diam mematuhi ibuku untuk tidak berbuat apa-apa, tidak berdaya melihat bagaimana ayahku bekerja dalam keadaan sakit-sakitan...
Meski hanya sehari lagi pun aku tidak sudi lagi kembali pada saat-saat itu.
Atau ini semua hanya karena aku belum benar-benar rela melepaskan apa yang kuharapkan selama berminggu-minggu.
Aku mengintip dari balik pintu, memastikan tidak ada yang berlalu lalang di koridor. Kemudian aku berjalan sepelan mungkin, berjingkat-jingkat menuruni tangga, melirik kesana-kemari, lalu menghambur menuju pintu depan. Udara sore terasa sejuk menenangkan. Aku berlari sepanjang jalanan lengang. Lebih dari separuh penduduk pastinya berada di alun-alun.
Festival sudah hampir dimulai ketika aku tiba di sana. Kertas tabur warna-warni terbang berserakkan. Musik mengalun. Kios-kios menjajakan bermacam-macam barang dan makanan. Di tengah-tengah sana, lebih banyak lagi orang berkerumun. Aku melangkah pelan. Rasanya seperti mimpi. Sedikit demi sedikit aku berusaha menyibak kerumunan hingga bisa melihat apa yang tengah terjadi di sana.
“...dan para penduduk Seren yang tercinta,” teriak seorang laki-laki berpakaian rumbai dari atas podium, menggunakan pengeras suara, “dipersilakan untuk mengawali acara kita, inilah dia... Pangeran Ebenezer!”
Kerumunan bergerak antusias, mendorongku semakin maju ke depan. Selama sejenak, yang tertangkap oleh mataku hanyalah sekelebatan mantel kecoklatan melayang di udara. Kemudian persis di tengah-tengah sana, beberapa meter di hadapan laki-laki di atas podium, sesosok laki-laki berpakaian serba putih melakukan gerakan koprol, kemudian mendarat. Di atas lehernya bertengger kepala beruang putih besar, beralis tebal dan tidak berpita—beruang putih jantan. Anak-anak kecil bersorak girang.
Aku menganga tidak percaya menatapnya. Dia melambai-lambai kepada kerumunan. Kemudian entah bagaimana, gerakan tangannya menyentak berhenti di udara begitu tatapannya mencapai kerumunan di sekitarku.
Kupikir dia melihatku.
Kemudian pelan-pelan dia melangkah mundur, lalu berbalik lari menembus kerumunan. Begitu saja dia pergi dari tengah-tengah keramaian.
Aku tidak berpikir. Aku bahkan tidak begitu peduli orang-orang berseru kaget dan mengeluh di sekitarku. Tatapanku hanya tertuju pada sosok beruang itu—berlari mengejarnya, ikut melompat menaiki undakan, melintasi barisan pepohonan keemasan, melintasi jalanan-jalanan ramai, menaiki tangga di pusat kota, menuju puncak-puncak datar bangunan perumahan segi empat di atas bukit. Rasanya melelahkan tapi nyaris menyenangkan.
Si beruang berhenti di salah satu sudut dataran luas terbuka berbalkon putih yang langsung berhadapan dengan angkasa. Saat itu sudah sepenuhnya gelap. Bintang-bintang bertaburan, dan terlihat sedemikian jelasnya di lautan kegelapan malam.
Dia membuka kepala beruangnya.
“Melarikan diri rasanya tidak enak,” kata si pemuda di bawah pohon maple, terengah-engah seraya menimbang-nimbang.
Aku membuka mulutku, menutupnya lagi, kemudian membukanya lagi. Aku paham maksudnya, dan merasa agak malu karenanya.
“Kenapa...” aku memulai lemah, tidak sanggup menyelesaikannya.
“Karena aku mau minta maaf,” potongnya. “Kurasa aku sudah mengatakan sesuatu yang melukai perasaanmu kemarin. Tapi percayalah, sebenarnya ada beberapa hal yang lebih penting yang ingin kusampaikan padamu. Salah satunya ini.” Dia merogoh selembar kertas yang digulung dari dalam sakunya, kemudian diulurkannya padaku.
“Itu untukmu, terimalah. Anggap saja semacam bentuk permintaan maafku.”
Aku maju beberapa langkah, merasa pusing dan bingung, menerimanya. Kutarik lepas tali pengikatnya, kemudian kubentangkan. Aku memandang pemuda itu, terkejut bukan kepalang. Tiba-tiba jelaslah sudah mengapa setiap hari aku melihatnya di sana. Di tempat yang sama, di bawah pohon maple yang sama.
“Kau menyukainya?”
Aku kehabisan kata-kata.
“Maafkan aku,” katanya tak nyaman. “Aku tidak akan mengubah pendapatku mengenai betapa legenda itu mungkin sekali cuma sekedar omong kosong. Tapi kalau Dewa memang ada, aku yakin dia pasti mengorbankan permohonanmu.”
“M-maksudku...” Dia mulai terbata-bata. “Setiap hari aku melihatmu bermain dengan anak-anak itu... Melompat-lompat, menggendong mereka... Tidak sekalipun aku melihatmu mengeluh ataupun bosan. Mereka semua menyukaimu, dan... a-aku merasa kagum karena kau terlihat begitu tulus dan senang melakukannya. Makanya aku membuat sketsa itu.”
Semburat keperakan mendadak memenuhi angkasa, menerangi wajah kami. Kami berdua mendongak, menatap bintang-bintang berjatuhan di angkasa. Hujan bintangnya sudah dimulai.
“Tapi kalaupun memang ternyata Dewa tidak mendengarkanmu,” katanya sekali lagi, lebih pelan dari sebelumnya. Wajahnya merona dalam cahaya kerlipan yang samar-samar. “Ketahuilah bahwa aku... mungkin bisa mengabulkannya.”
Aku masih terpana memandangi lukisan beruang putih yang dikelilingi anak-anak dalam peganganku, tidak berani memandang wajahnya. Tetapi kata-kata itu terasa begitu hangat di hatiku hingga rasanya sangat tidak sopan jika aku tidak tersenyum. Dan aku juga perlu sedikit mengusir genangan yang mulai berkaca di mataku.
“Jangan menangis,” pintanya sambil meringis.
Aku menggeleng. “Terima kasih, Yang Mulia.”
Malam itu langit dipenuhi bintang-bintang perak yang berkerlap-kerlip seperti mutiara yang saling berjatuhan. Tidak kusangka aku akan pernah benar-benar melihatnya dengan kedua mataku sendiri. Aku bertukar pandang dengan Pangeran Ebenezer—tanpa kata, sepakat untuk menontonnya bersama.
Kurasa Dewa memang benar-benar ada. Dan dia tidak pernah berhenti mendengarkan orang-orang yang memohon dengan tulus.
***




2 komentar:
postingan yang sangat menarik :)
sangat bermanfaat.. ^_^
keep posting yaa..
ingin barang bekas lebih bermanfaat ?
kunjungi website kami, dan mari kita beramal bersama.. :)
your post is nice.. :)
keep share yaa, ^^
di tunggu postingan-postingan yang lainnya..
jangan lupa juga kunjungi website dunia bola kami..
terima kasih.. :)
Posting Komentar