-3-
Masa kanak-kanak sampai SMP Tara dihabiskannya di ibukota. Cenderung
tertutup dan tidak populer, dia menganggap pergaulan anak-anak normal di
sekitarnya merisihkan. Ketika papa dan mama Tara pulang kantor membawa berita
bahwa mereka akan bertugas selama dua tahun di Australia, mendadak Tara diputuskan
untuk pindah ke kota kecil bernama Danasari di pulau seberang, dan tinggal
bersama kakak perempuannya yang memang bekerja sambil mengontrak di sana. Sama
sekali tidak kecewa, Tara membiarkan orangtuanya mengatur mulai dari
keberangkatannya, sampai SMA tempat dia akan bersekolah.
Sebenarnya, Tara pikir pergaulan di pulau seberang sana pasti tidak
mengerikan seperti anak-anak ibukota. Dan mungkin saja dia benar. Tapi itu
tidak lantas berarti Tara tidak mengalami kesulitan bergaul di sekolahnya yang
baru.
Karena satu dan lain hal menyangkut urusan kepindahan, Tara baru
mengikuti pelajaran sekitar sebulan setelah tahun ajaran baru dimulai. Ketika
dia kesulitan berbaur—mengingat semua anak sudah membentuk kelompok
masing-masing, muncullah cewek yang bernama Rista. Rista sangat cantik, dengan
rambutnya yang ikal kecoklatan, tubuh yang langsing, dan wajah yang sekilas
mirip artis sinetron. Hanya butuh beberapa kalimat perkenalan bagi Tara untuk menebak
bahwa Rista bisa dibilang cewek terpopuler di angkatan mereka. Meski begitu,
sambil memegang teguh kesan baiknya mengenai pergaulan anak-anak non-ibukota,
Tara memutuskan untuk mencoba.
Dan Rista, beserta anak-anak gengnya—Cindy, Irma, Handi, dan Maurice, sepertinya
sangat terkesan dengan fakta bahwa Tara berasal dari ibukota. Mereka bertanya
akan banyak hal, mengajak Tara duduk di dekat mereka di kelas maupun pada saat
istirahat, bersikap sangat ramah serta menyenangkan, dan sebagainya. Awalnya
Tara sangat tersanjung. Bahkan sampai tiga bulan berlangsung, rasanya dia
seperti sudah menemukan tempatnya. Sampai suatu hari, Tara mendadak tersadar
bahwa dia nyaris tak tahu apa-apa mengenai teman-teman barunya.
Lalu Tara mulai berpikir mengenai apa yang dia
lakukan selama ini.
Sepanjang waktunya bersama Rista dan kawan-kawan dihabiskannya dengan
menjawab pertanyaan. Mereka bertanya, Tara menjawab. Mereka bertanya, Tara
bercerita. Itupun bukan cerita tentang dirinya sendiri, tentu. Tara bahkan tidak
yakin dia pernah bercanda dengan mereka selain dalam rangka berbasa-basi. Ataupun
mendengar salah satu dari mereka curhat padanya.
Kemudian Tara mulai merasa bodoh. Dia sadar, bukan hal-hal semacam ini
yang Tara harapkan dari sebuah pertemanan.
Tara, yang kembali paranoid terhadap pergaulan teman sebaya setelah merasa
dijadikan obyek penelitian kehidupan perkotaan, memutuskan untuk mundur teratur
dari Rista dan kawan-kawan. Untuk suatu alasan, Tara tidak bisa menemukan teman
lain karena anak-anak di kelas terlanjur bersikap sangat segan padanya. Sudah terlalu
jauh untuk kembali pada teman-teman lamanya, sekaligus tidak sudi, Tara memilih
duduk di deretan terdepan, dimana tidak ada orang lain yang mau duduk
dengannya. Kira-kira sejak itulah orang-orang mulai mengatainya “sombong” dan
“belagu mentang-mentang dari ibukota”.
Lalu situasi malah menjadi kian pelik semenjak para guru mulai
menyadari kemampuan akademis Tara yang di atas rata-rata. Tara pikir, bukan salahnya
kalau dia disukai guru-guru, tapi terpilihnya Tara menjadi perwakilan sekolah
dalam sebuah kontes Matematika tingkat provinsi membuat Rista berpendapat lain.
Kalau sebelumnya dia hanya ‘agak’ tersinggung karena Tara mendadak menjauhinya,
sekarang dia menganggap Tara semacam berusaha menyaingi kepopulerannya. Dan hal
tersebut kemudian berujung pada serentetan kejadian tak enak. Kemungkinan besar,
insiden sepeda tempo hari termasuk di dalamnya. Sampai akhirnya Tara terpaksa mengakui,
dibandingkan masa SMA-nya saat ini, masa SMP-nya jadi terkesan seperti
tahun-tahun kedamaian.
Kembali ke soal Maurice. Tara sama sekali tidak punya pandangan khusus
terhadapnya. Kalaupun dia punya, jelas tidak terlalu baik. Bahkan dulu ketika
masih menjadi bagian dari gengnya Rista, Tara diam-diam selalu bertanya-tanya
apa gerangan yang dilakukan Maurice dan Handi di tengah gerombolan cewek
berisik. Bukan berarti Tara pernah benar-benar bicara dengan kedua cowok itu
juga. Ada lebih banyak cowok daripada cewek di kelas mereka, dan mereka berdua
benar-benar terlihat normal—dalam artian tidak memenuhi kriteria melambai. Walau
belakangan Tara memang mendengar desas-desus kalau Handi adalah penyuka sesama
jenis, soal Maurice masih tetap serba misterius.
“Memangnya apa alasan dia mau masuk klub ini?”
“Katanya karena dia berminat,” sahut Vicky.
“...kenapa berminat?” Tara mengernyit heran.
“Itu dia. Engga tahu.”
Sari mendengus sinis. Sebagai ketua klub, sudah tentu dia jadi yang
paling kritis dalam memilah-milah anggota. “Aku enggak suka anak-anak sok gaul
macam dia itu,” ujarnya ketus. “Palingan dia mikir klub kita kerjanya main-main
doang. Terus dia bisa jadi anggota gabut yang datang dan pergi seenak jidat...”
“Umm.. Sari, apa kamu gak terlalu berpikiran negatif?” tanya Tara
hati-hati. “Siapa tahu dia emang serius.”
“Kalo dia emang serius, harusnya dia kasih alasan lain selain
‘berminat’. Dan bilangnya sama aku dong, bukannya ngobrol sambil lalu sama Vicky!
Coba pikir deh, alasan ga jelas macam apa itu? Lagian emangnya kontribusi macam
apa sih, yang bisa dia kasih ke kita? Heran deh, kok bisa-bisanya kalian
nanggepin ini secara serius? Terus kamu juga!” Dia mengacungkan telunjuk
ke hidung Tara. “Bukannya kamu yang seharusnya paling anti sama dia dan gengnya?!”
Tidak sedang dalam suasana hati yang berapi-api, Tara hanya mengangkat
bahu dengan tenang. “Aku gak begitu kenal Maurice,” katanya obyektif.
Berta menyela, “Sebenernya, kita kayaknya butuh tambahan tenaga buat kegiatan
bulan depan. Jangan lupa, masing-masing klub di bawah OSIS harus nyumbangin
sesuatu buat Pensi, dan kita belum kepikiran apa-apa. Belum lagi mading,
majalah bulan ini dan bulan depan... Yakin semuanya bisa ditanganin lima orang?”
“Setuju,” timpal Febrian langsung. “Rasanya kapok, disuruh
kesana-kemari dan ngangkat-ngangkat barang sendirian lagi mentang-mentang aku
satu-satunya cowok. Kalau dia bisa bantu-bantu aja sebenernya udah cukup kan.”
Vicky tidak menambahkan apa-apa, tapi mengangguk-angguk menyetujui
Berta dan Febrian. Sekarang semua terdiam, menunggu Sari yang menarik napas
dengan berat. Kelihatannya dia masih kurang menyukai gagasan bergabungnya
Maurice sebagai anggota baru, tapi berhubung sepertinya dia satu-satunya yang
bersikap negatif, terpaksa dia mempertimbangkannya selaku pemimpin yang
demokratis.
“Ya deh ya deh,” katanya sambil menyibak rambutnya yang panjang sebahu,
lalu mulai menggunting-gunting kertas lagi. “Vicky, bilangin dia buat datangin
aku di kelasku besok, jam istirahat kedua.”
“Sip,” sahut Vicky, nyengir. “Maurice sebenernya ga buruk-buruk amat
kok. Dia lumayan bisa diandalkan, menurutku. Lagian, mumpung dia populer, siapa
tahu bisa kita manfaatin kalau ada promosi... atau sejenisnya.”
“Kalaupun engga, dia masih bisa dijadiin pesuruh nomor dua,” kata Febrian
lagi dengan nada final. “Udah... udah, ayo lanjut kerja. Bisa gawat kalau
mading gak dipajang minggu ini juga.”
***
Hari sudah menjelang petang saat Tara beranjak keluar dari gedung
sekolah, mengucapkan sampai jumpa pada Sari dan Vicky yang berlari ke arah bus
jemputan, serta melambaikan tangan pada Febrian dan Berta yang berjalan kaki
keluar gerbang. Tara berjalan ke arah sebaliknya, menuju ke arah tempat
sepedanya diparkir, di tepian pohon mangga yang pernah ditabraknya.
Tara memikirkan perkataan Sari sebelumnya. Dia sama sekali tidak
keberatan kalau ada Maurice di klubnya, sebab belum sekalipun dia melihat cowok
itu ikut ambil peran dalam akal-akalan Rista menjahatinya, atau ikut
menyindir-nyindirnya kalau mereka berpapasan. Sebenarnya, dia ingat cowok itu
hanya bergabung dengan Rista, Irma, dan Cindy di meja kantin pada saat
istirahat. Selebihnya, dia tidak pernah melihat cowok itu selain di kelas.
Yah, kalaupun dia bergabung dengan Klub Jurnalistik dalam
rangka—katakan saja—membantu Rista membuat hidup Tara semakin sengsara, Tara
juga tidak takut. Dari awal hingga sekarang, klub itu selalu menjadi tempat
yang istimewa untuk Tara. Para anggotanya sudah terlalu mengenal Tara, hingga
tentu saja mereka tahu anggapan teman-teman sekelasnya soal dia tidak sepenuhnya
benar.
Bunyi dering lonceng sepeda di sebelahnya membangunkan Tara dari
lamunan. Seseorang yang tidak asing tengah menaiki sepedanya. Setelah saling
tatap selama dua detik, Tara hampir bisa mengingat namanya...
“Eh, Tara?” panggil si cewek tambun berkacamata. Rambutnya pendek
seleher dan kusut. Wajahnya bulat, terkesan ramah. Tara hanya pernah beberapa
kali bicara dengan teman sekelasnya yang satu ini, tapi rasanya tak aneh kalau
dia mengingat Tara.
“...Hai, Joice,” sapa Tara gugup. Bukan hanya karena sempat melupakan
namanya, tapi juga karena mendadak teringat bahwa Joice adalah salah satu dari
Gerombolan Udara...
“Baru mau pulang juga ya?” tanyanya, nampak polos dan baik.
Terdengar suara sepeda berdecit di belakang mereka.
“Buruan, ndut!” perintah suara yang menyusul. “Udah sore, nanti
jalanannya ditutup!”
Tara menoleh sambil gemetaran, seperti orang yang bersalah.
“Lho, Tara?”
“A-apa?!” sahut Tara defensif, tidak bisa mengatakan sesuatu yang manis
dan pintar. Tunggu sebentar, memangnya kenapa juga dia wajib terdengar manis
dan pintar...?
Liam mengangkat sebelah alisnya sebagai tanggapan dari reaksi yang
cenderung keras barusan. Sedangkan Tara sibuk memarahi dirinya sendiri dalam
hati.
“...habis nabrak sesuatu lagi?”
“Bukaaaan!” Tara keberatan.
Joice celingukan. “Kenapa? Ada apa?”
Tara melirik Liam, yang menatapnya dengan cengiran lebar. Merasa kesal,
malu, juga tidak nyaman dengan keberadaan cowok itu, Tara jadi tidak tahu harus
berkata apa.
“Boleh kuceritain gak?”
“Terserah deh.” Tara menjawab lelah sambil menaiki sepedanya. Beberapa
jam kemudian, mungkin dia akan menyesal sudah membuang kesempatan dengan
bersikap ketus, tapi saat itu Tara hanya ingin melesat dengan sepedanya sesegera
mungkin.
Joice, yang jauh lebih tidak paham situasi lagi dibanding Liam,
bertanya dengan polosnya. “Tara pulang ke arah mana?”
Tara berhenti untuk menyebutkan daerah tempat tinggalnya.
Joice dan Liam, yang nampaknya masih geli, bertukar pandang. “Kita
searah,” kata Joice. “Kalau begitu bareng yuk.” Sambil berkata begitu, dia
menaiki sepedanya juga. Merasa jadinya akan sangat kasar dan canggung kalau
tidak mengiyakan, Tara tidak mungkin menolak. Dia mengangguk. Lagipula—Tara
berpikir ketika untuk kesekian kalinya dia saling tatap dengan Liam sore
itu—bukan berarti dia sangat kepingin menolaknya juga...
Mereka bertiga mengayuh sepeda melintasi gerbang. Menatap rambut Liam
yang berantakan ditiup angin beberapa meter di depannya, perasaan Tara campur
aduk. Cowok itu tertawa, sedangkan Joice di sebelahnya nampak terkejut
mendengar cerita tentang Tara, yang sepedanya miring dan akhirnya terjerembap
menabrak pohon. Wajah Tara cemberut tanpa disadarinya. Tapi ketimbang kesal
karena Liam menceritakannya, Tara lebih kesal pada dirinya sendiri yang tidak
bisa berhenti memikirkan Liam.
“Kamu masih dikerjai?” Cowok itu bertanya pada Tara, entah sudah berapa
lama waktu berlalu.
Tara mendongak. Wajah Liam sudah nampak muram dan serius seperti
biasanya. Teringat buku sketsanya yang menghilang beberapa waktu lalu, dan
ditemukan di tempat sampah belakang sekolah, Tara mengangguk pelan.
“Menurutku mereka udah keterlaluan!” timpal Joice marah, menggebuk
sebelah sisi kemudinya. “Sekali-kali kamu harusnya ngelabrak mereka, Tara!”
Liam mematahkan saran itu sebelum Tara menanggapi. “Itu kalau badannya
sebesar kamu, baru berhasil,” katanya sangsi. “Rista kan punya anak-anak buah.
Dan mereka biasanya beraksi dalam rombongan...”
“Tapi kan...” Joice melirik Tara, masih dengan ekspresi kesal.
Perkataannya tidak berlanjut. Selama beberapa detik, suasana jadi diliputi
keheningan. Merasa membuat situasi menjadi canggung, Tara akhirnya angkat
bicara.
“Aku gakpapa kok. Lama-lama terbiasa.”
Liam dan Joice, keduanya menoleh ke belakang dengan prihatin. Tara pun
menyesal sudah mengatakan hal semenyedihkan itu. Dia menambahkan.
“Selama ini aku nganggep kerjaan mereka kayak latihan menjadi ninja.
Mereka bikin aku jadi super waspada, dan harus siap berkelit atau sembunyi
setiap saat.”
Joice langsung mendelik dan ternganga menatapnya. Tara mendesah. Itu
hal terbaik yang bisa dia katakan. Lelucon garing sekalipun masih terasa lebih
baik daripada suasana canggung.
Tapi tiba-tiba Liam mendengus tertawa di atas sepedanya. “Apaan tuh?!”
“Ya ampun, Tara.” Joice jadi ikut tertawa geli. “Yang barusan itu aneh
banget...”
Itu reaksi yang tidak diduga Tara. Ditambah lagi, Liam tertawa karena
ucapannya adalah sesuatu yang sama sekali membuatnya senang. Tara ikut tertawa
kecil. Sisa waktu itu mereka habiskan dengan berandai-andai soal jurus-jurus
ninja yang mungkin bisa dipakai Tara dalam menghindari geng Rista. Meskipun
sebagian besar obrolan mereka terasa konyol, toh suasana hati Tara semakin lama
semakin baik karenanya. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah percabangan yang
diapit ladang-ladang persawahan, Tara harus berpisah jalan dengan keduanya.
“Aku ke arah sini,” Tara menghentikan sepedanya, diikuti kedua orang
itu.
Joice mengangguk.
“Besok-besok, kita bisa pulang bareng dan bahkan nongkrong bareng,”
katanya sambil nyengir, kemudian menambahkan, “Errr... tapi itu kalau kamu ga
keberatan main sama Gerombolan Udara lho.”
Tara membuka mulutnya tanpa bisa berkata apa-apa sesaat.
“Ya enggak lah!” kata Tara pada akhirnya, tidak bisa mencegah dirinya
sendiri untuk tersenyum lebar. “Makasih ya.”
Untuk beberapa lama, mereka bertiga hanya saling pandang, bertukar
cengiran. Hingga akhirnya Joice memutar kemudinya ke arah belokan di seberang.
“Yaudah,” tukasnya sembari memacu sepedanya pergi. “Sampai ketemu besok. Bye-bye,
Tara!”
“Semangat,” kata Liam sebelum mengikuti Joice pergi, tersenyum tipis.
Sesuai perkataannya, Tara melambai dengan penuh semangat pada mereka
berdua. Matahari sudah tenggelam, hari sudah gelap. Semenjak kepindahannya,
Tara belum pernah merasa segembira itu. Dia tetap berdiri di sana, menunggu
sampai suara derit sepeda tidak terdengar lagi, dan punggung seragam Liam yang
berkilauan ditimpa cahaya bulan sudah terlalu kecil untuk dilihatnya.




2 komentar:
Tara hobinya apa?
masih kurang hidup sebagai karakter...
Ge-gerombolan Udara?
*mikir*
Itu keknya nama yang terlalu aneh. Dan kurasa ga perlu dinamain, kecuali kalau menamainya memang berpengaruh besar dalam cerita.
Posting Komentar