Pages

Minggu, 15 Juli 2012

19: 3 - Harga Popularitas dan Udara


-3-
                                                                                 
Masa kanak-kanak sampai SMP Tara dihabiskannya di ibukota. Cenderung tertutup dan tidak populer, dia menganggap pergaulan anak-anak normal di sekitarnya merisihkan. Ketika papa dan mama Tara pulang kantor membawa berita bahwa mereka akan bertugas selama dua tahun di Australia, mendadak Tara diputuskan untuk pindah ke kota kecil bernama Danasari di pulau seberang, dan tinggal bersama kakak perempuannya yang memang bekerja sambil mengontrak di sana. Sama sekali tidak kecewa, Tara membiarkan orangtuanya mengatur mulai dari keberangkatannya, sampai SMA tempat dia akan bersekolah.

Sebenarnya, Tara pikir pergaulan di pulau seberang sana pasti tidak mengerikan seperti anak-anak ibukota. Dan mungkin saja dia benar. Tapi itu tidak lantas berarti Tara tidak mengalami kesulitan bergaul di sekolahnya yang baru.

Karena satu dan lain hal menyangkut urusan kepindahan, Tara baru mengikuti pelajaran sekitar sebulan setelah tahun ajaran baru dimulai. Ketika dia kesulitan berbaur—mengingat semua anak sudah membentuk kelompok masing-masing, muncullah cewek yang bernama Rista. Rista sangat cantik, dengan rambutnya yang ikal kecoklatan, tubuh yang langsing, dan wajah yang sekilas mirip artis sinetron. Hanya butuh beberapa kalimat perkenalan bagi Tara untuk menebak bahwa Rista bisa dibilang cewek terpopuler di angkatan mereka. Meski begitu, sambil memegang teguh kesan baiknya mengenai pergaulan anak-anak non-ibukota, Tara memutuskan untuk mencoba.

Dan Rista, beserta anak-anak gengnya—Cindy, Irma, Handi, dan Maurice, sepertinya sangat terkesan dengan fakta bahwa Tara berasal dari ibukota. Mereka bertanya akan banyak hal, mengajak Tara duduk di dekat mereka di kelas maupun pada saat istirahat, bersikap sangat ramah serta menyenangkan, dan sebagainya. Awalnya Tara sangat tersanjung. Bahkan sampai tiga bulan berlangsung, rasanya dia seperti sudah menemukan tempatnya. Sampai suatu hari, Tara mendadak tersadar bahwa dia nyaris tak tahu apa-apa mengenai teman-teman barunya.

Lalu Tara mulai berpikir mengenai apa yang dia lakukan selama ini.          

Sepanjang waktunya bersama Rista dan kawan-kawan dihabiskannya dengan menjawab pertanyaan. Mereka bertanya, Tara menjawab. Mereka bertanya, Tara bercerita. Itupun bukan cerita tentang dirinya sendiri, tentu. Tara bahkan tidak yakin dia pernah bercanda dengan mereka selain dalam rangka berbasa-basi. Ataupun mendengar salah satu dari mereka curhat padanya.

Kemudian Tara mulai merasa bodoh. Dia sadar, bukan hal-hal semacam ini yang Tara harapkan dari sebuah pertemanan.

Tara, yang kembali paranoid terhadap pergaulan teman sebaya setelah merasa dijadikan obyek penelitian kehidupan perkotaan, memutuskan untuk mundur teratur dari Rista dan kawan-kawan. Untuk suatu alasan, Tara tidak bisa menemukan teman lain karena anak-anak di kelas terlanjur bersikap sangat segan padanya. Sudah terlalu jauh untuk kembali pada teman-teman lamanya, sekaligus tidak sudi, Tara memilih duduk di deretan terdepan, dimana tidak ada orang lain yang mau duduk dengannya. Kira-kira sejak itulah orang-orang mulai mengatainya “sombong” dan “belagu mentang-mentang dari ibukota”.

Lalu situasi malah menjadi kian pelik semenjak para guru mulai menyadari kemampuan akademis Tara yang di atas rata-rata. Tara pikir, bukan salahnya kalau dia disukai guru-guru, tapi terpilihnya Tara menjadi perwakilan sekolah dalam sebuah kontes Matematika tingkat provinsi membuat Rista berpendapat lain. Kalau sebelumnya dia hanya ‘agak’ tersinggung karena Tara mendadak menjauhinya, sekarang dia menganggap Tara semacam berusaha menyaingi kepopulerannya. Dan hal tersebut kemudian berujung pada serentetan kejadian tak enak. Kemungkinan besar, insiden sepeda tempo hari termasuk di dalamnya. Sampai akhirnya Tara terpaksa mengakui, dibandingkan masa SMA-nya saat ini, masa SMP-nya jadi terkesan seperti tahun-tahun kedamaian.

Kembali ke soal Maurice. Tara sama sekali tidak punya pandangan khusus terhadapnya. Kalaupun dia punya, jelas tidak terlalu baik. Bahkan dulu ketika masih menjadi bagian dari gengnya Rista, Tara diam-diam selalu bertanya-tanya apa gerangan yang dilakukan Maurice dan Handi di tengah gerombolan cewek berisik. Bukan berarti Tara pernah benar-benar bicara dengan kedua cowok itu juga. Ada lebih banyak cowok daripada cewek di kelas mereka, dan mereka berdua benar-benar terlihat normal—dalam artian tidak memenuhi kriteria melambai. Walau belakangan Tara memang mendengar desas-desus kalau Handi adalah penyuka sesama jenis, soal Maurice masih tetap serba misterius.
                                                                                
“Memangnya apa alasan dia mau masuk klub ini?”

“Katanya karena dia berminat,” sahut Vicky.

“...kenapa berminat?” Tara mengernyit heran.

“Itu dia. Engga tahu.”

Sari mendengus sinis. Sebagai ketua klub, sudah tentu dia jadi yang paling kritis dalam memilah-milah anggota. “Aku enggak suka anak-anak sok gaul macam dia itu,” ujarnya ketus. “Palingan dia mikir klub kita kerjanya main-main doang. Terus dia bisa jadi anggota gabut yang datang dan pergi seenak jidat...”
                                
“Umm.. Sari, apa kamu gak terlalu berpikiran negatif?” tanya Tara hati-hati. “Siapa tahu dia emang serius.”

“Kalo dia emang serius, harusnya dia kasih alasan lain selain ‘berminat’. Dan bilangnya sama aku dong, bukannya ngobrol sambil lalu sama Vicky! Coba pikir deh, alasan ga jelas macam apa itu? Lagian emangnya kontribusi macam apa sih, yang bisa dia kasih ke kita? Heran deh, kok bisa-bisanya kalian nanggepin ini secara serius? Terus kamu juga!” Dia mengacungkan telunjuk ke hidung Tara. “Bukannya kamu yang seharusnya paling anti sama dia dan gengnya?!”

Tidak sedang dalam suasana hati yang berapi-api, Tara hanya mengangkat bahu dengan tenang. “Aku gak begitu kenal Maurice,” katanya obyektif.

Berta menyela, “Sebenernya, kita kayaknya butuh tambahan tenaga buat kegiatan bulan depan. Jangan lupa, masing-masing klub di bawah OSIS harus nyumbangin sesuatu buat Pensi, dan kita belum kepikiran apa-apa. Belum lagi mading, majalah bulan ini dan bulan depan... Yakin semuanya bisa ditanganin lima orang?”

“Setuju,” timpal Febrian langsung. “Rasanya kapok, disuruh kesana-kemari dan ngangkat-ngangkat barang sendirian lagi mentang-mentang aku satu-satunya cowok. Kalau dia bisa bantu-bantu aja sebenernya udah cukup kan.”

Vicky tidak menambahkan apa-apa, tapi mengangguk-angguk menyetujui Berta dan Febrian. Sekarang semua terdiam, menunggu Sari yang menarik napas dengan berat. Kelihatannya dia masih kurang menyukai gagasan bergabungnya Maurice sebagai anggota baru, tapi berhubung sepertinya dia satu-satunya yang bersikap negatif, terpaksa dia mempertimbangkannya selaku pemimpin yang demokratis.

“Ya deh ya deh,” katanya sambil menyibak rambutnya yang panjang sebahu, lalu mulai menggunting-gunting kertas lagi. “Vicky, bilangin dia buat datangin aku di kelasku besok, jam istirahat kedua.”

“Sip,” sahut Vicky, nyengir. “Maurice sebenernya ga buruk-buruk amat kok. Dia lumayan bisa diandalkan, menurutku. Lagian, mumpung dia populer, siapa tahu bisa kita manfaatin kalau ada promosi... atau sejenisnya.”

“Kalaupun engga, dia masih bisa dijadiin pesuruh nomor dua,” kata Febrian lagi dengan nada final. “Udah... udah, ayo lanjut kerja. Bisa gawat kalau mading gak dipajang minggu ini juga.”

***

Hari sudah menjelang petang saat Tara beranjak keluar dari gedung sekolah, mengucapkan sampai jumpa pada Sari dan Vicky yang berlari ke arah bus jemputan, serta melambaikan tangan pada Febrian dan Berta yang berjalan kaki keluar gerbang. Tara berjalan ke arah sebaliknya, menuju ke arah tempat sepedanya diparkir, di tepian pohon mangga yang pernah ditabraknya.

Tara memikirkan perkataan Sari sebelumnya. Dia sama sekali tidak keberatan kalau ada Maurice di klubnya, sebab belum sekalipun dia melihat cowok itu ikut ambil peran dalam akal-akalan Rista menjahatinya, atau ikut menyindir-nyindirnya kalau mereka berpapasan. Sebenarnya, dia ingat cowok itu hanya bergabung dengan Rista, Irma, dan Cindy di meja kantin pada saat istirahat. Selebihnya, dia tidak pernah melihat cowok itu selain di kelas.

Yah, kalaupun dia bergabung dengan Klub Jurnalistik dalam rangka—katakan saja—membantu Rista membuat hidup Tara semakin sengsara, Tara juga tidak takut. Dari awal hingga sekarang, klub itu selalu menjadi tempat yang istimewa untuk Tara. Para anggotanya sudah terlalu mengenal Tara, hingga tentu saja mereka tahu anggapan teman-teman sekelasnya soal dia tidak sepenuhnya benar.

Bunyi dering lonceng sepeda di sebelahnya membangunkan Tara dari lamunan. Seseorang yang tidak asing tengah menaiki sepedanya. Setelah saling tatap selama dua detik, Tara hampir bisa mengingat namanya...
                                                                                                                              
“Eh, Tara?” panggil si cewek tambun berkacamata. Rambutnya pendek seleher dan kusut. Wajahnya bulat, terkesan ramah. Tara hanya pernah beberapa kali bicara dengan teman sekelasnya yang satu ini, tapi rasanya tak aneh kalau dia mengingat Tara.

“...Hai, Joice,” sapa Tara gugup. Bukan hanya karena sempat melupakan namanya, tapi juga karena mendadak teringat bahwa Joice adalah salah satu dari Gerombolan Udara...

“Baru mau pulang juga ya?” tanyanya, nampak polos dan baik.

Terdengar suara sepeda berdecit di belakang mereka.

“Buruan, ndut!” perintah suara yang menyusul. “Udah sore, nanti jalanannya ditutup!”
                         
Tara menoleh sambil gemetaran, seperti orang yang bersalah.

“Lho, Tara?”

“A-apa?!” sahut Tara defensif, tidak bisa mengatakan sesuatu yang manis dan pintar. Tunggu sebentar, memangnya kenapa juga dia wajib terdengar manis dan pintar...?

Liam mengangkat sebelah alisnya sebagai tanggapan dari reaksi yang cenderung keras barusan. Sedangkan Tara sibuk memarahi dirinya sendiri dalam hati.

“...habis nabrak sesuatu lagi?”

“Bukaaaan!” Tara keberatan.

Joice celingukan. “Kenapa? Ada apa?”

Tara melirik Liam, yang menatapnya dengan cengiran lebar. Merasa kesal, malu, juga tidak nyaman dengan keberadaan cowok itu, Tara jadi tidak tahu harus berkata apa.

“Boleh kuceritain gak?”

“Terserah deh.” Tara menjawab lelah sambil menaiki sepedanya. Beberapa jam kemudian, mungkin dia akan menyesal sudah membuang kesempatan dengan bersikap ketus, tapi saat itu Tara hanya ingin melesat dengan sepedanya sesegera mungkin.

Joice, yang jauh lebih tidak paham situasi lagi dibanding Liam, bertanya dengan polosnya. “Tara pulang ke arah mana?”

Tara berhenti untuk menyebutkan daerah tempat tinggalnya.

Joice dan Liam, yang nampaknya masih geli, bertukar pandang. “Kita searah,” kata Joice. “Kalau begitu bareng yuk.” Sambil berkata begitu, dia menaiki sepedanya juga. Merasa jadinya akan sangat kasar dan canggung kalau tidak mengiyakan, Tara tidak mungkin menolak. Dia mengangguk. Lagipula—Tara berpikir ketika untuk kesekian kalinya dia saling tatap dengan Liam sore itu—bukan berarti dia sangat kepingin menolaknya juga...

Mereka bertiga mengayuh sepeda melintasi gerbang. Menatap rambut Liam yang berantakan ditiup angin beberapa meter di depannya, perasaan Tara campur aduk. Cowok itu tertawa, sedangkan Joice di sebelahnya nampak terkejut mendengar cerita tentang Tara, yang sepedanya miring dan akhirnya terjerembap menabrak pohon. Wajah Tara cemberut tanpa disadarinya. Tapi ketimbang kesal karena Liam menceritakannya, Tara lebih kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa berhenti memikirkan Liam.
                                                                              
“Kamu masih dikerjai?” Cowok itu bertanya pada Tara, entah sudah berapa lama waktu berlalu.

Tara mendongak. Wajah Liam sudah nampak muram dan serius seperti biasanya. Teringat buku sketsanya yang menghilang beberapa waktu lalu, dan ditemukan di tempat sampah belakang sekolah, Tara mengangguk pelan.

“Menurutku mereka udah keterlaluan!” timpal Joice marah, menggebuk sebelah sisi kemudinya. “Sekali-kali kamu harusnya ngelabrak mereka, Tara!”

Liam mematahkan saran itu sebelum Tara menanggapi. “Itu kalau badannya sebesar kamu, baru berhasil,” katanya sangsi. “Rista kan punya anak-anak buah. Dan mereka biasanya beraksi dalam rombongan...”

“Tapi kan...” Joice melirik Tara, masih dengan ekspresi kesal. Perkataannya tidak berlanjut. Selama beberapa detik, suasana jadi diliputi keheningan. Merasa membuat situasi menjadi canggung, Tara akhirnya angkat bicara.

“Aku gakpapa kok. Lama-lama terbiasa.”

Liam dan Joice, keduanya menoleh ke belakang dengan prihatin. Tara pun menyesal sudah mengatakan hal semenyedihkan itu. Dia menambahkan.

“Selama ini aku nganggep kerjaan mereka kayak latihan menjadi ninja. Mereka bikin aku jadi super waspada, dan harus siap berkelit atau sembunyi setiap saat.”

Joice langsung mendelik dan ternganga menatapnya. Tara mendesah. Itu hal terbaik yang bisa dia katakan. Lelucon garing sekalipun masih terasa lebih baik daripada suasana canggung.

Tapi tiba-tiba Liam mendengus tertawa di atas sepedanya. “Apaan tuh?!”

“Ya ampun, Tara.” Joice jadi ikut tertawa geli. “Yang barusan itu aneh banget...”

Itu reaksi yang tidak diduga Tara. Ditambah lagi, Liam tertawa karena ucapannya adalah sesuatu yang sama sekali membuatnya senang. Tara ikut tertawa kecil. Sisa waktu itu mereka habiskan dengan berandai-andai soal jurus-jurus ninja yang mungkin bisa dipakai Tara dalam menghindari geng Rista. Meskipun sebagian besar obrolan mereka terasa konyol, toh suasana hati Tara semakin lama semakin baik karenanya. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah percabangan yang diapit ladang-ladang persawahan, Tara harus berpisah jalan dengan keduanya.

“Aku ke arah sini,” Tara menghentikan sepedanya, diikuti kedua orang itu.

Joice mengangguk.

“Besok-besok, kita bisa pulang bareng dan bahkan nongkrong bareng,” katanya sambil nyengir, kemudian menambahkan, “Errr... tapi itu kalau kamu ga keberatan main sama Gerombolan Udara lho.”

Tara membuka mulutnya tanpa bisa berkata apa-apa sesaat.

“Ya enggak lah!” kata Tara pada akhirnya, tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk tersenyum lebar. “Makasih ya.”

Untuk beberapa lama, mereka bertiga hanya saling pandang, bertukar cengiran. Hingga akhirnya Joice memutar kemudinya ke arah belokan di seberang. “Yaudah,” tukasnya sembari memacu sepedanya pergi. “Sampai ketemu besok. Bye-bye, Tara!”

“Semangat,” kata Liam sebelum mengikuti Joice pergi, tersenyum tipis.

Sesuai perkataannya, Tara melambai dengan penuh semangat pada mereka berdua. Matahari sudah tenggelam, hari sudah gelap. Semenjak kepindahannya, Tara belum pernah merasa segembira itu. Dia tetap berdiri di sana, menunggu sampai suara derit sepeda tidak terdengar lagi, dan punggung seragam Liam yang berkilauan ditimpa cahaya bulan sudah terlalu kecil untuk dilihatnya.

2 komentar:

Melody Violine mengatakan...

Tara hobinya apa?
masih kurang hidup sebagai karakter...

Anggra mengatakan...

Ge-gerombolan Udara?
*mikir*
Itu keknya nama yang terlalu aneh. Dan kurasa ga perlu dinamain, kecuali kalau menamainya memang berpengaruh besar dalam cerita.

Posting Komentar