Pages

Selasa, 20 November 2012

What I Keep Saying to Myself Lately



You can never be good enough for everyone. No matter how good you are, someone is going to hate you anyway. That's why, it's better to be hated because you're being yourself, rather than because you're a hypocrite. 



Jumat, 26 Oktober 2012

19: 9 - Perjanjian yang Sungguh-Sungguh



-9-

“Masih marah?”

Tara membuang pandang. Kedua tangannya dikepalkan di bawah meja. Dibiarkannya cowok itu duduk di kursi seberang tanpa menjawab pertanyaannya.

Jumat, 19 Oktober 2012

Avatar Para Karakter 19

Kurasa judulnya udah cukup jelas buat ngegambarin apa kira-kira isi postingan blog ini. Dan yeah, ini adalah bayangan pribadiku buat karakter-karakter dari proyek 19 (yang kukerjain hari ini karena... kurang kerjaan sehabis ngampus?). Kurasa ini lumayan mencakup semua karakter yang udah muncul sampai tahap sekarang, kecuali karakter Bu Lastri di awal bab satu, tapi dia beneran terlalu nggak penting (dan aku juga mempertimbangkan buat ngehapus adegan itu begitu udah waktunya revisi, jadi...). Dan mungkin ada juga yang kelupaan, tapi rasa-rasanya ngga.

Jumat, 05 Oktober 2012

Perkembangan Karakter GLG, dan Hal-hal Yang Kupikirin Soal Mereka - FLOA

Finally, a post related to GLG setelah sekian lama!

(Walau sebenernya, kurasa yang segitunya nungguin juga nggak ada. Haha. Whatever, suatu saat nanti pas bukunya udah terbit, mungkin post ini bakalan jadi dokumentasi pembuatan yang berharga. *optimis*) 

*ehem*

Karena belakangan ini aku juga ngerombak dasar-dasar plot GLG, ada banyak juga perubahan dalam hal karakterisasinya. Beberapa terpaksa diganti nama, diubah backgroundnya, dirombak porsinya, dan segelintir juga kayaknya bakalan kuhapus.

Berikut ini yang kurang lebih kurasa nggak akan banyak berubah lagi.

(contains major spoiler)


Kamis, 20 September 2012

●﹏● Gegalauan ●▂●


Hah? Whut? Apa maksud judul postingan ini? Jangan-jangan si Cloverwitch udah resmi jadi alay?

Kamis, 06 September 2012

Antara "Leveling Up" dan Masokisme (?)


 
Belakangan ini aku bener-bener nyadarin banyak hal soal diriku sendiri. Kalo ini adalah imbas dari milestone usia dua puluhan yang baru aja kucapai, maka aku sama sekali nggak nyesal menjadi berusia dua puluh tahun.

Hal-hal yang belakangan ini kusimpulin dan kulakuin:

Senin, 20 Agustus 2012

How I Spent My Holidays: Mangascans, Rekomendasi, Random Rant, dan Lain-lain


Jadi gini, biarpun judul postingan blog ini gajelas, pada intinya aku mau ngomongin soal apa yang kulakuin selama jeda liburan ini, terutama setelah mencapai target buat nulis 19 sampai bagian kemunculan Kris... I’ve been spending the rest of my holidays reading mangascans. Dan ternyata, udah lumayan banyak yang kubaca.

Di paro awal liburan semester sampai kira-kira tiga perempatnya, aku beneran obsessed sama shonen-ai (try googling it if you don't know). Itu sindrom yang kupikir udah agak mendingin setelah tahun lalu (persisnya sekitar bulan Februari-Maret) aku nonton Kuroshitsuji dan naksir berat pairing SebaCiel. Now that I think about it, kayaknya itu emang awal mula karirku sebagai seorang fujoshi-apprentice. Kenapa ‘apprentice’? Karena meskipun yea, I love shonen-ai and I can’t lie, aku masih agak disturbed sama yang namanya yaoi.

Senin, 06 Agustus 2012

19: 8 - Tara dan Kris


(Bab ini kayaknya datar dan ngebosenin setelah saya baca ulang, padahal Kris muncul perdana! Graaaooo! (ノಠ益ಠ)ノ彡┻━┻

Seperti biasa, mohon kritik dan sarannya. Dan kayaknya saya juga perlu bantuan nerjemahin "rolling door" di bagian deket akhir, soalnya ngga tau indonesianya apa sedangkan saya selalu nyebut begitu.) 

-8-

Jantung Tara masih berdebar-debar begitu dia tiba di halaman belakang sekolah yang kosong dan gelap. Langkahnya melambat. Sesaknya bukan main. Tara berusaha berpikir jernih, tapi kepalanya seakan mau pecah.

Rabu, 01 Agustus 2012

19: 7 - Benang Kusut

-7-

Sisa dua minggu menuju pentas seni sekolah berlalu bagai sekejap mata. Suasana hati Tara dibiarkan mengapung, sama mengapungnya dengan ‘kelanjutan mereka’ yang terus menerus dia pikirkan semenjak hari itu. Baik karena kesibukan belajar maupun mengurus klub, pikiran-pikiran tersebut maupun perasaannya timbul tenggelam.

Namun entah bagaimana Tara punya firasat, cepat atau lambat, tidak peduli sesering apapun dia menghindari Maurice saat itu, pada akhirnya konfrontasi tetap harus terjadi. Meski toh cowok itu tidak (atau belum) meminta Tara menjadi pacarnya, sama seperti dia sendiri terhadap Liam, Tara tidak percaya perasaan sepihak begini bisa dibiarkan berlarut-larut tanpa ada ujung yang jelas.

Selasa, 31 Juli 2012

19: 6 - Perasaan Mereka


-6-

Pagi sepertinya masih buta. Mengikuti aroma telur dan kopi, Tara meraba-raba pegangan tangga, bergegas turun ke dapur. Sesuai dugaan, kakaknya sudah ada di sana, mengenakan kemeja putih yang ditutup celemek masak, tengah sibuk menyiapkan keperluan adik-adiknya.

“Lho? Tumben bangun sebelum dibangunin.”

“Semaleman tidurku nggak nyenyak,” keluh Tara. Piring makan kaca di depannya memberitahu Tara bahwa pagi ini dia terlihat seperti panda.

“Mandi dulu baru makan,” kata Kara tegas. “Sekalian bangunin Nara juga, ya.”

Kamis, 19 Juli 2012

19: 5 - Hujan dan Titik Temu


(preface:

AAAAAAH GILAAA! щ(°□°щ) Ini bab 19 paling KEJU yang kukerjain selama ini! Kalau awalnya aku udah cukup stress sama adegan bersepedanya Tara dan Liam, aku sepenuhnya pengen banting laptop pas ngerjain bagian dialog terakhir sama Maurice. Sooo lacking, baik pendalaman suasananya maupun kelancaran dialognya. Dan oh, si Maurice jadi manusia random. Saking ngerasanya kalau chapter ini gajelas pol, aku sempat minta pendapat beberapa orang soal adegan sepeda. Ada yang bilang itu gula, ada yang bilang narasinya terlalu loose--mungkin karena aku ngotot ngehindarin keju, ada juga yang bilang itu keju akut. Aku beneran nggak tahu lagi... "OTZ

Sayangnya, kurasa adegan itu tetap nggak separah dialog terakhir sama Maurice itu. Sejauh ini, aku beneran udah ngehancurin karakterisasi doi. Entah apa yang terjadi sama aku sendiri, tapi dialog-dialog karakternya beneran menurun jauh.

Bab 5 ini akhirnya berhasil ngalahin Bab 2-3 dalam ranking bab yang paling butuh perombakan. Yah, bagaimanapun juga, the story must go on and on and on sebelum aku diseret kembali ke kehidupan kuliah. Kalau nyelesain first draft novel ini terlalu muluk buat target liburan, seenggaknya plis, Tuhan, biarkan aku nulis sampai kemunculan Kris.)

Minggu, 15 Juli 2012

19: 4 - Tara dan Maurice


-4-

“...buka stand majalah?”

Maurice nyengir. “Cuma usul,” katanya, mengangkat kedua tangan pada seisi ruang klub yang mendadak memperhatikannya. “Apa kalian masih nyimpen sisa stok majalah dua bulanan sekolah selama ini?”

Tara melirik tumpukan majalah, kertas, koran, dan gabus yang tumpang tindih di atas lemari penyimpanan. Sepertinya sih banyak, dia membatin.

19: 3 - Harga Popularitas dan Udara


-3-
                                                                                 
Masa kanak-kanak sampai SMP Tara dihabiskannya di ibukota. Cenderung tertutup dan tidak populer, dia menganggap pergaulan anak-anak normal di sekitarnya merisihkan. Ketika papa dan mama Tara pulang kantor membawa berita bahwa mereka akan bertugas selama dua tahun di Australia, mendadak Tara diputuskan untuk pindah ke kota kecil bernama Danasari di pulau seberang, dan tinggal bersama kakak perempuannya yang memang bekerja sambil mengontrak di sana. Sama sekali tidak kecewa, Tara membiarkan orangtuanya mengatur mulai dari keberangkatannya, sampai SMA tempat dia akan bersekolah.

Sebenarnya, Tara pikir pergaulan di pulau seberang sana pasti tidak mengerikan seperti anak-anak ibukota. Dan mungkin saja dia benar. Tapi itu tidak lantas berarti Tara tidak mengalami kesulitan bergaul di sekolahnya yang baru.

19: 2 - Tara dan Liam


-2-
Waktu itu Tara tidak tahu banyak soal cowok bernama William yang menjadi teman sekelasnya. Selain betapa dia dan dua orang temannya selalu disebut Gerombolan Udara oleh anak-anak sekelas. Mereka selalu ada di sekitar, tapi kehadiran mereka jarang disadari apalagi dihargai orang lain.

"Hah?"

19: 1 - Keputusan Tara


-1-

"Kalau begitu, kita sepakat. Saya akan mengirim si calon untuk menemui Nona akhir pekan ini. Boleh tahu kira-kira apa hobi Nona?"

"Er..." Tara ingat dia berpikir dengan buru-buru, sudah tidak lagi mempedulikan alasan mengapa pertanyaan itu penting saking jengahnya dia. "Mendengarkan musik... mungkin."

Selepas mengatakannya, Tara agak menyesal. Mendengarkan musik kedengarannya tidak begitu istimewa, padahal dia butuh terdengar istimewa untuk mendapat kandidat yang juga istimewa. Walau begitu, air muka lawan bicaranya--seorang perempuan muda bergaun hijau dengan rambut ikal kecokelatan tergerai--tetap tidak berubah.

Jurnal Kepenulisan: Tentang Grand Le Gran, Ishan, dan 19


(Entry ini berisi curcolan penulis, abaikan aja kalo kedengerannya ga menarik.)

Oke, udah lama banget aku ga ngepost baik curcolan maupun tulisanku di blog gajelas ini. Berhubung aku baru-baru ini genap berkepala dua, sebenernya aku nyiapin sebuah curcolan berupa renungan maha panjang, tapi sampai sekarang belum kuselesain. Fokusku sepanjang liburan menuju semester lima ini adalah nyelesain seengganya setengah proyek (pengennya sih namatin), soalnya aku ngerasa perlu ngebuktiin keseriusanku sebagai penulis dengan nyelesain sesuatu. Terus kenapa aku bikin proyek baru? Kenapa bukan GLG (yang udah mandek sejak 2009--atau 2006, kalo mempertimbangkan betapa GLG sendiri adalah fusion dari dua proyek masa SMP yang konsepnya ga karuan--itu)?

Sabtu, 05 Mei 2012

Fantasy Fiesta 2012 - Mindy versus Alien Oonyunyu


Coba tebak. Bersembunyi di balik tiang listrik, kelihatan seperti gundukan laundry yang bergerak, tapi tetap kelihatan cantik—apakah itu?

Itu aku, tentu saja. 

Ah, sudah. Lupakan. Tadi aku berusaha main tebak-tebakan dengan diriku sendiri untuk membuat perasaanku lebih baik. Kenyataannya, tidak ada yang bakalan bisa membuat perasaanmu menjadi baik—bahkan sekalipun itu kenyataan bahwa dirimu memang sangatlah cantik, kalau beberapa meter di depan sana gebetanmu sedang bermesraan dengan cewek lain.

“Makasih ya, aku senaaaaaaaangggg banget hari ini!”

Si cewek bermuka kera. Si cewek tompel. Entah panggilan mana yang paling cocok buatnya. Dia memasang senyum (sok) imut malu-malu, kemudian terkikik dengan suara tawanya yang persis suara kloset tersumbat. Ih. Jijik. Dibiarkan keluar rumah saja dia sebenarnya tidak pantas—apalagi melakukan hal-hal seperti itu. Aku jadi merinding.

Selasa, 10 Januari 2012

Calla Ed Tenets

Lagi-lagi, ini cerpen lomba yang sayangnya gagal kumenangkan. Keseluruhannya memang ketahuan banget ditulis oleh seorang fangirl. Semoga cerita yang penuh fanservice ini bisa dinikmati.

***


Ratusan tahun yang lalu di atas langit malam, kereta Dewa tengah melintas menuju perbatasan di daerah tenggara. Malam itu salju turun dengan lebatnya, dan petir serta guntur saling sahut-sahutan. Kemudian angin kencang meniupkan kereta Dewa hingga terhempas ke daratan Seren yang kering kerontang. Dewa jatuh tidak sadarkan diri. Keretanya pecah berkeping-keping.

Seorang petani menemukannya terbaring di antara petak-petak sawah yang sudah menggundul. Adapun Dewa berperawakan gendut dan sangat pendek. Jenggotnya berwarna perak dan panjang. Pikir si petani, Dewa adalah orang asing yang tersesat. Lalu dibawanya Dewa ke dalam rumahnya. Tapi petani itu sangat miskin, sama miskinnya dengan penduduk lain di perkampungan yang kecil itu. Untuk merawat Dewa, para penduduk saling bahu-membahu untuk menyediakan segala keperluannya.

Senin, 09 Januari 2012

Maaf

Cerita ini kuikutin dalam sebuah kompetisi bulan Juli tahun lalu, yang sayangnya engga berhasil kumenangkan. Karena salah satu dari requirements lomba adalah memakai setting luar negeri, cerpen ini latarnya (seperti yang sudah bisa diduga) di Korea. Aku sendiri kurang sreg sama sense penamaanku yang ketauan banget hasil gugel, tapi yeah, biar gimanapun juga, menurutku sendiri ini salah satu cerpen teenlitku yang paling berhasil. Jadi bisa dibilang aku sendiri suka banget sama cerita ini.

Selamat membaca (jika ada yang membaca)!

SONGFIC - Cleansing Cream



 

***

Wangi bunga samar-samar merebak dari tutup wadah mungil yang terbuka.

Aku menjulurkan tangan untuk meraih kapas, menuangkan satu atau dua tetesan dari wadah botol mungil ke atasnya, sebelum akhirnya menyapukan cairan yang harum itu pada wajahku.