Pages

Kamis, 06 September 2012

Antara "Leveling Up" dan Masokisme (?)


 
Belakangan ini aku bener-bener nyadarin banyak hal soal diriku sendiri. Kalo ini adalah imbas dari milestone usia dua puluhan yang baru aja kucapai, maka aku sama sekali nggak nyesal menjadi berusia dua puluh tahun.

Hal-hal yang belakangan ini kusimpulin dan kulakuin:

  1. Kemarin, aku baru aja ngirim pesan ke seorang teman lama yang sama dia aku bertengkar hebat di akhir masa SMA, dan dapet respon yang jauh lebih bagus dari perkiraan. Intinya sih, aku nyadar kalo apa yang terjadi waktu itu kurang lebih cuma karena penyakit insecurity yang kuderita (dan masih kuderita, but in different aspects). Took me more than two years to realize that. I guess time, and also how big and long of a quarrel it was, have made it impossible for us to go back to how we used to be. But at least, I'm glad that we are not enemies.
  2. Belakangan juga, karena satu dan lain perkara, aku nyadar soal gimana aku mengidap sindrom Avoidant yang sangat kronis, terutama terhadap lawan jenis yang menurutku spesial atau menarik. Kalau penghindaranku terhadap gebetanku tempo hari bisa dibilang sebagai efek doki-doki, kurasa hal yang sama ga bisa dijadiin pembelaan soal perilaku sejenis yang kulakuin ke beberapa senior yang menurutku keren. Dan setelah mikirin ini agak lama, aku nyadar kalo itu mungkin sekali merupakan imbas dari patah hati super parah yang terjadi padaku di masa SMP. Intinya, dulu itu tanpa sadar aku ngalamin banyak kejadian penolakan yang kalau sekarang kuinget-inget, rasanya bener-bener memalukan... dan lalu menanamkan sejenis Inferiority Complex ke dalam alam bawah sadarku.
Kurasa aku udah naik seenggaknya satu level karena berhasil nyimpulin hal-hal ini soal diriku sendiri. Soal nomor dua, emang sampai sekarang belum ada penyelesaiannya. Tapi biar gimanapun juga, aku berharap bisa ngelakuin sesuatu, atau ada yang bakalan terjadi setelah aku nyadar soal itu.

Seorang temen kampusku bilang sesuatu seperti ini yang bikin aku terus-menerus mikir.

"An An, lu harusnya bersyukur. Udah kuliahnya cepet, mukanya imut, rambutnya bagus, pacar tinggal pilih."

Nggak bermaksud narsis atau mengada-ada, tapi BENERAN. Dia emang ngomong kayak gitu. 

Lalu tadi seorang temen cowok ngomong kayak gini secara random, setelah sebelumnya ngelihatin aku dari atas ke bawah (jangan dipikirin soal dia. orangnya udah punya cewek, dan kepribadiannya emang abstrak):

"Lu jadi beda ya... sekarang lebih cakep."

Satu, buatku yang selalu dihantui perasaan minder soal penampilan karena trauma masa kecil (baca: selalu dibanding-bandingkan dengan adik yang cantik) dan masa remaja (oh yeah, itu bahkan salah satu penyebab patah hati kronisku pas masa SMP itu), omongan-omongan itu nunjukkin udah seberapa dahsyatnya aku berevolusi. Oh, aku nggak akan pernah jadi secantik adik perempuanku tersayang ataupun gebetannya si mantan gebetan, of course. Hanya aja, buat bikin seseorang punya penilaian kayak gitu soal fisikku aja rasanya... perhaps I really did level up. ^^"

*insert random throwing up sound-effect*

It's pure luck or it may have something to do with physically growing up, but overall it's a good thing.... I guess.

Dua, soal urusan kuliah cepet dan nilai-nilai yang bagus. Kurasa nggak ada gunanya buat pura-pura nggak bangga soal itu. Ah, masa-masa kuliahku sejauh ini bener-bener sesuatu yang bisa disombongin... Meskipun ini mungkin sekali cuma gambaran delusionalku soal diri sendiri, bisa dibilang masa kuliah adalah debutku yang terlambat. Selain soal nilai dan progress menuju kelulusan yang cepet, aku berasa disayang dosen-dosen yang kusukain. Aku dikenalin banyak senior. Setengah dari angkatanku segan sama aku. Tahun lalu, aku anggota HMJ. Aku pernah ngetuain sebuah event, biarpun kecil. Pokoknya, akhir-akhir ini aku berasa keren banget.

*insert random throwing up sound-effect* [2]

Lalu dengan level segini, kenapa aku masih menderita sindrom Avoidant dan Inferiority Complex?

Apa ini semua beneran ga cukup?

Apa sih yang sebenernya jadi targetku di masa muda? Bukannya jadi sosok macam ini adalah apa yang selalu diharapin oleh diriku sendiri pada masa SMA, waktu aku selalu menyesal soal gimana aku adalah seseorang yang jelek, ga menarik, dan invisible?

Atau aku sama sekali nggak tambah dekat dengan apa yang sebenernya kuinginkan, dan semua pencapaian ini sama sekali bukan indikasi level up?

*bertanya pada rumput yang bergoyang*

Kalau bukan, maka apa yang kulakuin akhir-akhir ini lebih cocok disebut Masokisme.

Aku nggak ngelakuin banyak hal soal penampilanku, kalaupun semua kemajuan itu emang bener. Kawat gigi emang bikin mukaku sedikit lebih tirus, dan juga menyiksa makanku sehingga badanku jadi lebih kurus. Tapi aku sepenuhnya makai kawat buat urusan kesehatan rahang. Rambutku tambah panjang secara alami. Mukaku nggak banyak jerawatnya kayak dulu, mungkin ada hubungannya sama hormon.

Lalu soal prestasiku di kampus?

Bohong kalo aku bilang aku nggak ngelakuin apa-apa yang bikin aku numpukin stress.

Belajar bukan hal yang kulakuin secara terpaksa, mengingat aku sangat puas dan bahagia dengan jurusanku. Tapi apakah lantas itu artinya aku ngedapetin semua A dan A- itu tanpa keringat? Engga. Aku cuma maksain diriku sendiri buat belajar, dan nggak merasa jenuh atau ngeluh secara serius soal itu semata-mata karena aku juga "bahagia" dengan overworking.

Soal berorganisasi. Aku selalu nganggep hal ini sebagai obat yang harus kuminum supaya sembuh dari segala penyakit sosial yang kuderita. Dan dalam beberapa hal, aku mungkin emang mencapai kemajuan. Atau level up. Tapi soal overall level up? Itu hal yang meragukan.

Dulu, aku selalu nganggep berorganisasi itu hal yang menakutkan. Lalu aku jadi bagian dari beberapa organisasi, dan aku berhasil ngatasin ketakutan kecil itu. Kemudian aku jadi ketua dari sebuah acara, dan aku berhasil ngelewatin event itu meski awalnya aku stress sampai nggak bisa tidur. Lalu kemudian datanglah soal masalah insiden kerjaan volunteer yang bikin aku tegang selama seminggu lebih ini, yang bikin aku ninjau balik semuanya.

Aku sama sekali nggak percaya diri bisa ngelakuin ini sendirian, dengan semua kewajiban yang perlu kulakuin dan semua keculunanku. Aku takut bakalan berakhir jadi beban buat orang-orang yang seharusnya kubantu. Aku takut kelihatan buruk banget. Dan yang paling parah, aku takut kali ini aku nggak bisa ngelompatin batasanku yang sebenernya udah semakin meninggi. Lalu itu bakal ngejadiin semua yang kulakuin selama ini sebagai sekedar Masokisme, dalam bentuk kecanduan organisasi.

Aku bener-bener nggak ingat pernah sehopeless ini dalam hidupku. Dan aku berharap bisa secepetnya nemuin jawaban dan pemecahan dari masalah-masalah ini.

Wish me luck.

***

1 komentar:

vivikwaan mengatakan...

echiii
long time no see :)
senang rasanya liat kamu bisa debut semasa kuliah
haha dan baca post kamu ini aku senang liat kamu bisa banyak melakukan perubahan yang positif sekarang
jadi ga sabar pengen ketemu ><

Posting Komentar