Kau tahu yang namanya fobia? Kata orang, fobia artinya rasa takut yang berlebihan terhadap sesuatu hal atau sesuatu fenomena.
Catat: yang berlebihan.
Kurasa maksudnya sesuatu ini harusnya bukan hal yang bisa sungguh-sungguh membuatmu celaka. Hanya tampak luarnya saja yang seolah-olah memaksamu untuk takut. Atau begitulah. Jangan tanya aku, sejujurnya aku sendiri baru mempelajari istilah ini beberapa bulan lalu, dan senang memakainya sampai sekarang—karena seperti yang barangkali sudah kauduga dari pembukaan ceritaku yang berbelit-belit ini: aku sendiri punya fobia.
Satu kata ini pastinya lebih mudah digunakan daripada menjelaskan ‘ketakukan yang tak jelas apa sebabnya.’
Ah, persetan dengan itu semua. Aku takut. Aku sangat takut, dan aku benci. Sampai-sampai rasanya aku tidak peduli kalau sebenarnya aku tidak punya cukup alasan untuk merasa begitu. Yang kubutuhkan hanyalah memposisikan diri sejauh-jauhnya dari sana. Seharusnya itu cukup. Tapi rupa-rupanya selain fobia yang menjadi-jadi ini, aku juga punya firasat. Tidak bercanda, walau kedengarannya mungkin agak melebih-lebihkan, tapi firasatku memang hampir selalu tepat.
Dan firasatku mengatakan bahwa ketakutanku yang satu ini berbeda dari fobia biasa. Bahwa memang ada sesuatu di sana. Sesuatu yang benar-benar bisa mencelakai orang.
Kemudian pada suatu hari, aku sadar bahwa firasatku tepat lagi.
“Ted Stearne.”
Aku membuang muka dan napas panjang. Sungguh deh, aku tidak mengerti kenapa Mr Fudley harus repot-repot mengabsen orang yang sudah jelas-jelas tidak akan ada di kursinya, seolah-olah Ted masih punya kemungkinan muncul terengah-engah dari balik pintu setelah resmi dinyatakan hilang oleh polisi dua bulan lalu. Atau mungkin dia pikir pembacaan nama itu bisa memberi efek dramatis yang bisa membangkitkan rangsangan semangat bagi murid-murid untuk mengikuti pelajarannya pagi ini. Yang jelas dia tolol kalau mengharapkan yang kedua. Sebab tidak ada remaja normal yang menyukai sarapan Aljabar pagi-pagi, ketika pikiran semua orang masih tertinggal dalam dunia di balik selimut.
Meski tak diragukan lagi bahwa toh disebutnya nama Ted memang membuat kepala-kepala berputar ke arah tempat duduknya yang masih kosong. Kemudian—ah, ini bagian dari efeknya yang paling menyebalkan—beralih ke arahku. Sudah tiga bulan Ted menghilang. Kurasa mereka selalu berharap suatu hari nanti, kalau nama itu terus disebutkan lagi dan lagi, pada akhirnya aku akan meledak menangis tersedu-sedu. Tidak kuat lagi menahan kesedihan serta kecemasan yang menumpuk jadi satu. Atau apalah.
Hah. Pada akhirnya mereka cuma suka drama. Tidak satupun dari mereka yang benar-benar peduli akan apa yang sesungguhnya terjadi pada Ted. Mereka tahu bagaimana menghilangnya Ted sama sekali tidak wajar, lalu seharusnya air mataku akan menjadi konsumsi publik. Tapi kalau mereka pikir aku dan Ted seperti itu, maka mereka salah besar.
Sejujurnya aku sendiri tidak mengerti kenapa aku begini. Semenjak Ted, pacarku, dinyatakan menghilang, yang kulakukan bukannya bersikap layaknya gadis malang yang terpukul. Aku bahkan tidak menangis, depresi, tampak kacau, berduka, dan sebagainya. Sebaliknya, aku bersikap seolah-olah aku baik-baik saja, lalu ketika interogasi yang mengganggu dari orang-orang sudah agak berkurang, aku mulai berhenti membicarakan Ted, lalu berlanjut sampai sekarang. Awalnya aku tidak sadar sudah bersikap seperti ini, namun kemudian aku meneruskannya secara sadar.
Aku hanya tidak mengerti. Meski semua orang meyakinkan aku bahwa kami berpacaran, sebetulnya rasanya tidak seperti itu juga. Dia begitu pendiam, sedangkan aku apatis mengenai hal-hal semacam ini. Dia tahu aku menyukainya. Lalu kurasa dia juga menyukaiku. Tapi sejak awal tidak pernah terjadi hal-hal semacam itu di antara kami—tidak ada masa-masa pendekatan yang mendebarkan, tidak ada pernyataan cinta, tidak ada hari kencan pertama yang membuatku tidak bisa tidur di malam harinya—tidak ada. Aku hanya bicara dengannya sekali, dia balik bicara, kemudian kami jadi banyak bicara setelahnya. Lalu tanpa sadar kami mulai berjalan pulang bersama, dan jadi kebiasaan. Setelah itu semua orang mulai bilang kami berpacaran. Anehnya, tidak ada satupun dari kami yang mencoba menyangkal. Hal itu berlanjut selama berbulan-bulan hingga rasanya mulai aneh kalau tidak ada Ted. Aku mengatakan hal itu pada orangnya. Dia bilang dia juga sama. Lalu setelah itu entah bagaimana kami sampai pada kesepakatan non-verbal untuk menjalaninya. Pacaran itu, maksudku.
Begitulah keadaannya sampai suatu hari dia menghilang tanpa jejak.
Benar sekali. Aku tidak tahu bagaimana harus memikirkannya; dari sudut pandang mana, dengan perasaan seperti apa, atau apa yang kuharapkan darinya. Berbulan-bulan bersama Ted, mendadak terasa seperti mimpi yang tahu-tahu sudah berakhir tanpa menyisakan pertanda apa-apa untuk bisa dianggap sebagai kenyataan. Rasanya begitu membingungkan. Bukannya tidak mengharapkan Ted kembali, tapi semua ini juga terasa tidak nyata bagiku.
Dan untuk melengkapi semua firasatku ini, menurut para saksi mata dia menghilang tepat di ujung jalan buntu itu. Yang sedari dulu selalu membuatku ketakutan tanpa sebab.
Coba saja pikir, bagaimana caranya aku menjauhkan diriku sendiri dari pemikiran bahwa menghilangnya Ted mungkin berkaitan dengan adanya kebuntuan itu? Bahwa pada akhirnya jalan buntu yang selalu kutakutkan itu benar-benar ‘menelan’ Ted hidup-hidup? Merampas keberadaannya dari tengah-tengah kami seolah-olah dia tidak pernah ada?
Sejak dulu bagiku jalan buntu memang tidak pernah menjadi pertanda baik. Ia menggambarkan dengan persis bagaimana sesuatu diakhiri secara kasar. Layaknya penyelesaian yang tidak semestinya. Selalu ada yang salah dengan jalan buntu, setidaknya bagiku.
Jalan buntu selalu membuatku takut, dan sekarang ia telah menghilangkan orang yang paling berarti bagiku.
***




1 komentar:
guees??Who am I??*gaje krik2*
W O W!!!!hebat an2!!ini lanjutan novel bukan??ttg apa nih, gw ketinggalan brarti yaa??heheheee...okay, i'm following you now :):)
Posting Komentar