Pages

Kamis, 03 Maret 2011

Tentang Orang-Orang Yang Ingin 'Mati'


Seandainya saja aku bisa dengan mudahnya mengatakan, "Hidupku menderita. Ingin mati saja secepatnya." atau "Mau bunuh diri saja." persis seperti orang-orang itu. Apa mereka tidak pernah berpikir?

Apa persisnya yang mereka dapatkan kalau mereka bunuh diri?

Kebahagiaan tetap tidak akan datang sekalipun mereka sudah mati. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah orang-orang mati, kemana mereka pergi, atau seperti apa semuanya di alam setelah kehidupan, dan memang tidak ada yang tahu kecuali Tuhan (dan serdadu-serdaduNya juga). Tapi bukankah kata mereka hanya ada satu tempat yang disediakan untuk jiwa-jiwa yang mencabut sendiri nyawa mereka tanpa persetujuan Tuhan, yaitu neraka? Kalaupun hukuman itu tidak benar adanya bagi orang-orang yang bunuh diri, lalu bukannya masih ada kemungkinan mereka akan tetap masuk neraka karena dosa-dosa mereka selama ini?

Jadi untuk apa orang repot-repot membuang diri dari kehidupan yang tidak bahagia kalau mereka cuma akan berakhir di neraka?

Atau ada lagi tujuan mereka bunuh diri dan ingin mati selain itu. Barangkali... karena mereka pikir dengan cara mati maka mereka akan terbebas dari rasa sakit hati mereka yang patah?

Kurasa tidak.

Mungkin setelah kita mati semua orang yang membuat kita terluka akan turut mengalami duka serta penyesalan yang mendalam. Tapi kemudian, apa yang datang dari itu semua? Bukankah ini berarti alasan bunuh dirimu sama dengan balas dendam? Yang tersisa setelah kau membalas semua orang yang 'jahat' padamu dengan kematianmu hanya kesepian yang harus ditanggung jiwamu untuk selamanya. Mereka mungkin menyesal. Mereka mungkin minta maaf. Mereka mungkin akan tersadar betapa selama ini mereka tidak cukup baik terhadapmu. Bahkan mereka mungkin baru tersadar betapa selama ini mereka mencintaimu. Itu mungkin apa yang kauinginkan. Tapi kau tidak bisa kembali pada mereka, merangkul mereka, dan mengajak mereka mengulang kembali semuanya dari awal. Karena kau sudah mati. Kemudian waktu akan menghapus semuanya dan jejak kehidupanmu memudar begitu saja dari ingatan mereka. Di alam sana (yang mungkin sekali adalah neraka), kau tiba-tiba tersadar bahwa kematianmu sebetulnya sia-sia.

Lalu yang benar-benar membuatku tak habis pikir dengan orang-orang semacam ini, apa mereka tidak pernah berpikir betapa dengan bunuh diri saja mereka sudah menyia-nyiakan kehidupan mereka sendiri?
 
Aku, setidaknya, selalu percaya bahwa kita manusia hidup untuk suatu tujuan tertentu: untuk bahagia.
 
Kalau hidup adalah sebuah cerita, maka kita sebagai tokoh utamanya akan melewati berbagai kesukaran  serta penderitaan hidup. Dengannya, kita berkembang. Dengan berkembang, kita bertambah kuat. Dengan bertambah kuat, suatu hari sang tokoh utama akan mencapai klimaks kehidupannya dan memenangkan kebahagiaan yang selama ini dicari-carinya. Pada dasarnya setiap manusia hidup diberikan kesempatan atau pilihan yang sama, meskipun batas waktu yang diberikan berbeda-beda. Kemudian setelah waktu itu habis, kita mati.
 
Untuk meraih kebahagiaan sebelum jatah waktu kita habis, itulah yang dinamakan kehidupan.
 
Bukankah kalau kau menyerah dalam prosesnya, secara otomatis kesempatan yang diberikan padamu sia-sia? Untuk apa kau hidup kalau pada akhirnya kau cuma akan bunuh diri? Hidup adalah sebuah proses yang hampir keseluruhannya terdiri atas penderitaan dan kesukaran. Karena kau mengenal kesedihan, kau juga mengenal kebahagiaan. Jadi apa untungnya menjalani keseluruhan dari hidup itu sendiri jika kau menyerah di tengah jalan? Bukankah itu berarti kau hidup sebentar hanya untuk menderita, dan lebih menderita lagi ketika mati? Kalau begitu, bukannya akan lebih baik jika kita memang tidak pernah hidup saja?
 
Aku bersedih, aku sadar hidupku tengah berada dalam fase-fase yang tidak menyenangkan, tetapi karena aku sudah diberikan kesempatan untuk hidup--untuk bahagia, aku tidak mau kalah. Aku ingin percaya bahwa aku cukup pintar untuk melihat menembus tipuan licik si 'bunuh diri' yang sebetulnya tidak menjanjikan apa-apa. Dia hanyalah bentuk pelarian yang tidak akan ada ujungnya.
 
Hidup memang kejam. Dan ternyata setelah menulis dan membaca kembali semua ini, aku menemukan kekejaman hidup yang paling kejam. Yakni sekalipun hidup itu kejam, kau tidak diberikan pilihan untuk lari darinya. Kau harus menjalaninya, sampai akhir. Dan kau bisa memilih untuk berjuang mati-matian demi sebuah 'happy ending', atau menjadi lemah seiring prosesnya yang menyakitkan kemudian berkembang menjadi pribadi yang pasrah menerima takdirnya--lalu menjadi tokoh sampingan bagi kehidupan orang lain.
 
***

2 komentar:

aocchi mengatakan...

Begitukah Chie? saya juga sedang mengalami fase-fase hidup yang tidak menyenangkan. Tapi, tak sedetik pun tersirat kata 'bunuh diri'.. dan memang tak semestinya seperti itu.
Kita sudah diberi kehidupan. Sekejam apapun kehidupan yang diberikan, kita patut menghargainya.

Eniwei, thanks Chie.. Setelah baca ini, saya sedikit menemukan angin segar..

avi mengatakan...

aku ingin cepat mati tp bukan bunuh diri,, hanya ingin Tuhan segera mencabut nyawaku..

Posting Komentar