Pages

Senin, 06 Agustus 2012

19: 8 - Tara dan Kris


(Bab ini kayaknya datar dan ngebosenin setelah saya baca ulang, padahal Kris muncul perdana! Graaaooo! (ノಠ益ಠ)ノ彡┻━┻

Seperti biasa, mohon kritik dan sarannya. Dan kayaknya saya juga perlu bantuan nerjemahin "rolling door" di bagian deket akhir, soalnya ngga tau indonesianya apa sedangkan saya selalu nyebut begitu.) 

-8-

Jantung Tara masih berdebar-debar begitu dia tiba di halaman belakang sekolah yang kosong dan gelap. Langkahnya melambat. Sesaknya bukan main. Tara berusaha berpikir jernih, tapi kepalanya seakan mau pecah.


“...kamu pikir aku peduli sama hal-hal kayak gini?”

Kalimat itu masih berdengung di telinganya, dalam suara yang terus berusaha disangkal batinnya sebagai milik Liam.

Tara berhenti, terengah-engah. Pandangannya panas dan kabur, menyusuri deretan pepohonan serta kegelapan di sekelilingnya. Dia ditolak. Dengan cara yang begini memalukan, bahkan sebelum dia sepenuhnya memutuskan apa yang akan dia lakukan dengan perasaannya. Dan bagian terburuknya adalah... ini bukan mimpi.

Ini kenyataan. Pahit, didorong paksa melalui kerongkongannya. Sakit.

Ya Tuhan, batin Tara sementara akhirnya dia pasrah membiarkan panas di matanya meluncur turun, membasahi wajahnya. Setelah ini dia harus bagaimana?

Suara rumput yang diinjak dari belakangnya mengejutkan Tara. Buru-buru, dia berbalik. Tanpa mempedulikan betapa menyedihkannya dia terdengar, berharap bahwa Liam menyusulnya, untuk mengatakan sesuatu—entah apa, dia tidak peduli. Apapun boleh, asalkan kalimat itu tak lagi menjadi hal terakhir yang Tara dengar dari mulutnya. Namun sayang sekali, itu tidak terjadi.

“Pergi kamu!” desis Tara, tidak berusaha menutup-nutupi kegusarannya ketika yang dilihatnya bukanlah Liam, melainkan Maurice. Belum pernah Tara menyimpan kebencian sebesar itu dalam hidupnya selama enam belas tahun.

Kemarahan Tara semakin meradang, menyadari Maurice masih setenang biasanya. Selain wajahnya yang memang muram, tidak lagi ditutupi keriangan palsu, cowok itu bertahan pada tempatnya berdiri. Bukannya rasa bersalah, seperti yang seharusnya dia tunjukkan, padangan Maurice pada Tara saat itu lebih antara dingin dan kasihan.

“Nggak mau.”

“Terus mau apa lagi?!” Tara berteriak membentak. “Kamu udah berhasil bikin dia jauhin aku... Begitupun, masih belum cukup senang?”

“Yang bener aja, mana mungkin aku senang.”

“Ya lalu buat apa kamu ngelakuin itu?!”

“Supaya kamu sadar kalo aku bisa ngelindungin kamu lebih baik daripada cowok macam dia.”

Betapa kepribadian cowok ini benar-benar keterlaluan, Tara terkejut bukan kepalang.

“Kamu pikir aku bakalan suka sama kamu dengan cara kayak gini?” tanyanya jijik. “Tunggu aja seabad lagi!”

“Yaudah, kutungguin.”

“Dasar sinting! Aku nggak bercanda!”

“Aku juga nggak,” kata Maurice kukuh.

Tara membelalak. Terjalin kesunyian yang sarat emosi di antara mereka berdua, selagi dia berusaha mengatakan sesuatu yang menyakitkan.

“Aku benci kamu,” sembur Tara kemudian. “Ke neraka sana.”

Dan perkataan itu, terutama kalimat pertama yang diucapkannya, berhasil memberi perubahan pada raut wajah Maurice selama sesaat. Sekali lagi, percakapan mereka disusul keheningan.

“Percobaan bagus,” katanya dengan senyum kecut. “Tapi aku tetap nggak mau nyerah.”

Tara membuang pandang, merasa konyol. Setiap detik yang dihabiskannya dengan Maurice terkesan bagai membuang waktu dan energi. Sedangkan apa yang Tara inginkan darinya hanyalah agar cowok itu menghilang sejauh-jauhnya dari hidupnya. Sampai setidaknya dua puluh tahun mendatang.

“Cepet balik ke stand,” saran Maurice kemudian, seolah-olah percakapan mereka barusan sama santainya dengan dialog-dialog yang pernah terjadi di hari klub yang malas. “Kamu pasti lagi dicariin sama mereka. Sisa majalah di ruangan klub udah kukasih semuanya ke Sari pas ketemu tadi.”

Begitu saja, cowok itu berlalu meninggalkan Tara sendirian lagi di tengah halaman. Selama beberapa menit itu, kemarahan dan patah hatinya bergejolak silih berganti, membuatnya lelah. Kepalanya berdengung. Sekujur tubuhnya kebas. Tara mengusir sisa-sisa air mata dari kelopaknya, berusaha bertahan, berbalik untuk menyusul Maurice kembali ke stand klub mereka. Tapi langkahnya terhenti oleh kehadiran sosok lain yang menghalangi jalannya.

Sebelum dia sempat berpikir apapun, Tara bersitatap dengan Berta.

“Berta...” Tara hanya bisa menyebut nama temannya. Isi perutnya seperti jungkir balik. Saat itu, barangkali kecemasannya sama seperti maling yang tertangkap basah sedang mencuri.

“Ternyata di sini,” keluh Berta setengah hati. “Aku nyariin kamu kemana-mana tahu.”

Bukan itu yang sebenarnya ingin dikatakan olehnya, Tara yakin.

“Kamu... denger pembicaraan barusan?”

Pembawaan Berta saat itu tidak bisa dibilang biasa, membuat Tara menyimpulkan jawabannya sendiri. Dia nampak kacau, tapi tidak terlihat marah. Belum. Ada sesuatu yang membuat Tara sangat tidak nyaman dari cara Berta mengamatinya.

“Tadi siang,” Berta memulai apa yang sepertinya akan jadi suatu penjelasan, tanpa disangka-sangka, “aku udah bilang sama Maurice.”

Dia berhenti sejenak. Tara tidak menyela.

“Kamu pasti udah bisa nebak kayak apa hasilnya.”

Tara masih bungkam seribu bahasa—mengutuki diri sendiri karenanya.

“Aku emang nggak berharap banyak sih,” ujar Berta sambil bergidik sedikit. “Lagian, salahku juga bisa-bisanya ngomong secepet itu, padahal kami baru sms-an beberapa minggu terakhir ini. Tapi tadi itu momennya kerasa pas banget, terus tahu-tahu aja aku...”

Air matanya merebak keluar. Suaranya pecah di tengah jalan. Napas Tara tercekat. Melihatnya seperti itu, timbul dorongan yang teramat sangat untuk ikut menangis. Saat itu, Tara merasa begitu jahat sekaligus tidak berdaya. Dia mengulurkan tangan, hendak merangkul temannya itu. Tapi kemudian ditariknya kembali, takut Berta akan menepisnya dengan kasar.

“Kamu udah tahu dari lama kalau Maurice suka sama kamu?” tanya Berta kemudian—lebih tenang, mengeringkan mata dengan punggung tangannya sendiri.

Pelan-pelan, Tara mengangguk.

“Maaf,” dia menambahkan.

Berta memicingkan mata sejenak, kemudian ekspresinya melemah seiring dengan sebuah helaan napas panjang.

“Kenapa nggak bilang?”

Lagi-lagi, Tara tidak bisa menjawabnya. Selama ini dia selalu tahu bahwa tindakannya salah. Namun bagaimanapun, sampai kemarin, di kepalanya hanya ada bayangan tentang Liam. Sekalipun, dia tidak pernah berpikir bahwa dirinya dengan Maurice akan berakhir bersama, dan karena itulah dia pasrah menuruti keengganannya untuk membuat Berta sedih. Pikirnya, dengan begitu, suatu saat nanti jika perasaan Berta belum mereda dengan sendirinya, Maurice lah yang akan berhenti menyukai Tara.

Bagaimana malam ini perasaan mereka semua seolah bertabrakan, adalah sesuatu yang tidak pernah dia sangka-sangka.

“Tara selalu gitu deh!” tukas Berta penuh sesal. “Mati-matian ngejaga perasaan orang... mendam semuanya sendiri... Waktu itu, aku nggak akan marah kalau ternyata Maurice sukanya sama kamu, tapi sekarang aku beneran.... kecewa.”

Betapa Tara benci mendengar suaranya yang memang pedih berlumur kekecewaan, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain minta maaf. Dia ingin melakukan sesuatu. Mengatakan sesuatu. Namun sepertinya tidak ada yang bisa memperbaiki situasi yang terlanjur begini.

“Udahlah, soal itu,” tepis Berta kemudian, yang membuat Tara jantung Tara semakin mencelos. Baginya, tidak ada yang ‘sudah’. Semuanya belum diselesaikan dengan benar. “Kamu nolak dia?” tanyanya lagi, kali ini lebih dingin.

Dengan kaku, Tara mengangguk.

“Kamu tahu dia bilang apa sama aku?” Pandangan Berta kembali berkabut, menelusuri rerumputan di sekeliling kakinya sendiri. “Dia udah lama banget merhatiin kamu, dari awal tahun ajaran. Dia bahkan sebenernya masuk klub kita demi kamu, Tara!”

Tara sudah tahu itu, tetapi dia tidak berkomentar.

“Kenapa kamu nolak dia?”

“Aku suka orang lain.” Kali ini Tara menjawab langsung, seolah-olah dari tadi lidahnya memang menunggu-nunggu saatnya menyatakan itu. “Aku nggak bisa nerima Maurice.”

Berta menggeleng-geleng tak percaya. “Ngapain kamu sembunyi-sembunyi naksir orang lain tanpa kemajuan yang jelas, sementara di sini ada cowok baik yang sampai segitunya sama kamu?” tanyanya beruntun. “Buat apa, Tara?”

Ucapannya tadi terdengar miring di telinga Tara. Berta tidak mengerti. Dia hanya menilai masalah dari sisi pandangnya sendiri dan Maurice.

“Bukan begitu!” Tara berusaha membantahnya. Sampai kapanpun, dia tidak akan bisa memandang Maurice seperti yang dikatakan Berta, sementara bisa dibilang cowok itulah sumber penyebab segala petaka yang terjadi pada Tara hari ini. “Kamu nggak ngerti keadaannya kayak apa!”

“Emang aku nggak ngerti! Kamu nggak pernah cerita apa-apa sama aku, kan?” Berta membentak balik. Sepasang matanya kembali berkaca-kaca. Wajahnya nampak terluka sekaligus berang.

“Tara jahat!”

Selepas mengatakan itu, Berta melesat pergi, memastikan pada Tara bahwa dia sama sekali tidak punya kesempatan untuk memperbaiki situasi. Untuk kedua kalinya di hari itu, Tara ditinggalkan sendirian di tengah kegelapan halaman belakang sekolah. Kalau sebelumnya dia marah luar biasa, kali ini dinginnya malam seperti bertiup memasuki rongga dadanya yang kosong—meninggalkan perasaan hampa di sana.

***

Kehidupan sekolah Tara tidak pernah sama lagi setelah malam itu.

Liburan kenaikan kelas dihabiskan Tara dengan mengurung diri di rumah. Nyaris sepenuhnya mematikan kontak dari luar, dan hanya keluar jika ada kepentingan yang tak terhindarkan. Ketika akhirnya sekolah dimulai, ada banyak perubahan yang terjadi.

Tara tidak sekelas lagi dengan Gerombolan Udara—selain Joice. Berpikir bahwa tidak ada jalan untuk bersahabat dengannya dan Pandu tanpa terlibat situasi canggung dengan Liam, dengan sangat berat hati, Tara menghindarinya. Awalnya, anak itu nampak terpukul mendapat perlakuan seperti itu tanpa tahu alasannya, membuat Tara diam-diam merasa bersalah. Tapi belakangan, Joice menarik diri darinya juga di kelas, yang mungkin menandakan bahwa Liam sudah memberitahunya sesuatu.

Tara tidak yakin siapa yang lebih dahulu menghindar satu sama lain, dia atau Liam. Mereka kembali menjadi dua orang asing secara alami. Menyadari ada begitu banyak hal yang masih amat sangat ingin Tara sampaikan padanya, serta mengingat-ingat tiga bulan terakhir tahun ajaran lalu yang dilewatinya bersama Liam dan Gerombolan Udara, Tara menghabiskan banyak waktunya untuk menyesali mengapa saat ini dia sama sekali tidak berdaya.

Liam tidak membalas perasaannya. Baginya, apakah Tara mau dekat dengannya atau tidak, bukan masalah penting. Meskipun pada saat itu, Tara tidak peduli mau sejahat apa Rista padanya—asalkan dia bisa mendapatkan ‘persahabatan’-nya dengan Liam kembali, jelas bahwa cowok itu berpikiran lain, mengabaikan perasaan Tara sendiri.

Begitupun, bukan berarti dia bisa langsung berhenti menyukai Liam. Memperhatikannya secara diam-diam setiap hari tanpa sadar, membuat Tara yakin bahwa tidak ada yang berubah dari perasaannya.

Di kelas barunya, Tara memulai dengan sendirian lagi. Lama-kelamaan, ternyata dia bisa berbaur dengan beberapa anak di sana. Ada beberapa alasan yang mungkin, tapi salah satunya adalah karena Rista dan kawan-kawan tidak lagi berusaha menjadikan Tara sebagai musuh publik. Daripada begitu, kini mereka seakan-akan berusaha menganggapnya tak ada.

Meski sebenarnya tidak diinginkannya, Tara tahu ini perbuatan siapa. Maurice memegang janjinya pada Liam, walaupun Liam hanya memenuhinya karena dia ‘tidak peduli’.

Kalau ada satu hal yang membuat Tara paling tidak tahan, itu adalah suasana di Klub Jurnalistik. Maurice sungguh-sungguh tidak menyerah soal Tara, tidak peduli seberapa sering Tara bersikap kasar secara sengaja. Sekedar kehadirannya saja membuat Tara muak, apalagi tingkahnya yang penuh semangat, atau suaranya yang keras meminta perhatian. Cowok itu benar-benar berhasil berbaur akrab dengan anak-anak klub, dan kini soal bagaimana perasaannya terhadap Tara sudah menjadi rahasia umum para anggota.

Satu hal yang tidak mereka ketahui, adalah rahasia kecil mengenai perasaan Berta, yang akhirnya memilih keluar dari klub beberapa minggu setelah tahun ajaran baru. Itu adalah pukulan terhebat kedua yang Tara terima setelah apa yang terjadi pada malam pensi. Selama ini, Tara bertahan di dalam klub hanya karena dia berusaha profesional, sekaligus berharap bisa memperbaiki hubungannya dengan anak itu. Kini, dia sudah tak punya alasan lagi untuk tetap di sana. Sebaliknya, Tara menganggap Maurice sebagai segudang alasan untuk ikut hengkang. Tapi mengingat besarnya kesulitan yang mereka dapatkan setelah kepergian mendadak Berta, dia tidak tega.

Pada suatu hari di bulan September yang lembab, Tara bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya, mengapa hidupnya saat ini harus dia jalani dengan menahan diri, dan bagaimana cara terbaik untuk meluruskan hal-hal yang berjalan jauh di luar kehendaknya.

Dia harus memukul mundur Maurice.

Dia harus melupakan Liam.

Tapi pada prakteknya, kedua hal itu saling terkait sekaligus menghalangi satu sama lain. Liam tidak bersedia membantunya memukul mundur Maurice, sedangkan Tara tidak sudi menerima Maurice untuk membantunya melupakan Liam.

Dia butuh orang lain yang bisa membantunya melakukan kedua hal tersebut sekaligus.

Lalu secara kebetulan, sore hari itu, pandangan Tara melintas sebuah bangunan tua mewah di puncak bukit. Sudah berkali-kali dia melewatinya dalam perjalanan pulang sekolah, namun tak pernah diperhatikannya sebaik hari itu. Ketika Tara menghentikan sepeda untuk membaca pelat besar tapi kumuh yang tertempel di dinding gerbangnya, dia menemukan hal luar biasa konyol yang justru bisa dimanfaatkannya untuk keluar dari situasi pelik.

No. 19
Menyediakan jasa:
- Konsultasi jodoh
- Umpan/Perantara hubungan
- Pacar

***

“Malem-malem begini mau kemana, Tara?” Kara bertanya, kaget melihat Tara menuruni tangga dengan pakaian rapi. Keduanya melirik jam di dinding ruang tamu secara bersamaan. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam.

“Mau ketemu temen sebentar,” bohongnya.

“Perlu dianterin nggak?”

“Nggak! Nggak usah! Deket kok,” tolak Tara buru-buru, tidak bisa membayangkan reaksi kakaknya kalau tahu dia membuat janji dengan ‘pacar’ yang baru sekali ini akan dia temui.

Menguping keributan yang tengah berlangsung, adiknya memunculkan kepalanya dari balik sofa tempat dia sedang duduk menonton tivi. “Mencurigakan...” komentarnya.

“Nara bawel! Bikin peer sana!” bentak Tara, agak salah tingkah. Cepat-cepat dia berlari ke halaman rumah, menyiapkan sepedanya. Kakaknya menyusul, melongok mengawasi dari balik pintu rumah.

“Jangan malam-malam ya, Tara!” pesannya.

“Tenang aja,” sahut Tara. Ironis betul, menyuruh orang lain tenang sedangkan perasaan batinnya sendiri saat ini sama sekali jauh dari tenang. “Daah!”

Tara memacu sepedanya kencang-kencang, berpikir bahwa dengan begitu debaran menyebalkan di dadanya ini bisa diredam. Seharian ini dia sukar berkonsentrasi. Bahkan sampai sekarang pun, hatinya masih sangat meragukan tindakan gila yang nekat dia lakukan ini benar-benar akan membawa kebaikan buatnya.

Apa sebaiknya dia tidak usah datang saja? Toh sebagian uangnya masih bisa kembali.

Tidak, suara lain dalam kepalanya berkata. Dia terlanjur penasaran. Terlebih lagi, dia juga tak mau lebih lama lagi berada dalam lingkaran masalahnya. Dia ingin ditarik keluar sesegera mungkin. Orang ini adalah satu-satunya harapan yang dia punya sekarang.

Begitupun, bukan berarti Tara bisa menyingkirkan perasaan gugup yang tengah terakumulasi jadi satu dalam perutnya, yang semakin melilit seiring dengan semakin dekatnya dia dengan tempat tujuan.

Area yang disebut penduduk Danasari sebagai pasar, persisnya adalah daerah di sekitar perempatan jalan raya yang dipenuhi aneka kios dan toko berwarna-warni. Pada malam hari, tenda-tenda didirikan di tepian jalan, menjual mulai dari buah-buahan, pakaian murah, pernak-pernik, sampai kaset-kaset. Tapi tujuan Tara berada di daerah pasar yang agak lebih sepi. Letaknya persis dua gang dari rel kereta api. Itu satu-satunya toko yang menjual CD/DVD non-bajakan di pasar.

Sampai sekarang, Tara masih bingung kenapa ‘mendengarkan musik’ sampai keluar dari mulutnya untuk menjawab pertanyaan Mademoiselle Clo, alih-alih menggambar. Sebenarnya sih, maksudnya ‘mendengarkan soundtrack anime’, tapi selama sesaat dia ragu membayangkan reaksi macam apa yang akan timbul, makanya dia kelepasan mengatakan hanya separuhnya.

Mari berdoa semoga minus hal itu pun, Tara dan orang yang akan ditemuinya masih punya stok obrolan.

***

Tokonya tutup.

Tara membelalak menatap rolling door yang menyegel rapat toko yang dia maksudkan. Jadi apa maksudnya ini? Entah pihak 19 yang tidak tahu jadwal buka toko ini, atau malah ada kemungkinan bahwa sejak awal dia memang ditipu? Lalu bagaimana kalau besok ketika Tara berniat mendatangi rumah agen itu kembali, ternyata bangunannya sudah tidak ada?

Aduh, Tara memarahi dirinya sendiri. Tidak, jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu.

Tapi memang aneh kan? Dia tidak tahu-menahu soal toko ini sebelumnya, dan hanya bertanya pada beberapa teman sekelas untuk memastikan keberadaannya—yang dijawab samar oleh mereka yang lupa-lupa ingat. Tapi begitu dia tiba di sini, pintunya nampak sudah tak pernah dibuka setidaknya setahun. Belum lagi, keseluruhan gang ini nampak sepi juga gelap gulita, dengan hanya segelintir toko berpenerangan redup dibuka tanpa pengunjung.

Beberapa orang melintas di trotoar. Semuanya—Tara menelan ludah—nampak mencurigakan.

“Ada yang bisa dibantu?”

Sebuah sosok berjaket dan bertopi berhenti untuk bertanya, menyadari pandangan Tara yang seolah sedang menyelidikinya.

“E-engga kok,” kata Tara buru-buru, merasa malu. “Toko ini udah lama nggak buka ya?”

“Kurang lebih lima tahun yang lalu, kayaknya,” jawab si orang asing. “Ada urusan di sekitar sini?”

“Eh, harusnya sih ada janji ketemuan di sini,” gagap Tara. Lebih terus terang daripada yang dia rencanakan.

“Hah?” Orang itu berseru kaget. “Lho... Tapi... Jangan-jangan...”

Wajah Tara memucat. Jantungnya berdebar-debar tak nyaman. Jangan sampai, skenario horor yang muncul di kepalanya ternyata sama dengan apa yang hendak dikatakan orang ini...

“...apa? Apa?!” desak Tara ngeri.

“...ah engga, emang banyak kejadian kayak gitu di sini malem-malem,” cerita orang itu sambil membenarkan posisi topinya. “Sesekali, ada orang yang katanya bikin janji di daerah sini, padahal hampir nggak ada toko yang buka di gang ini. Dengar-dengar sih, sebenernya mereka janjian sama penghuni rel yang dulunya mati terlindas kereta...”

Tara merasakan bulu kuduknya langsung meremang. Dia membatu. Demi apapun, tepat pada saat itu juga, terdengar bunyi dentang tanda kereta api lewat, persis beberapa gang dari tempat Tara sekarang berdiri.

Sama sekali lupa akan sepedanya yang hanya terparkir beberapa langkah di belakangnya, Tara langsung ambil langkah seribu. Jeritannya tidak keluar. Otaknya berputar panik, tidak bisa bekerja.

“Oi, oi!”

Tara tidak berani menoleh ke belakang. Orang asing tadi. Entah buat apa dia mengejar Tara. Apa mungkin.... alasan mengapa dia menceritakan hal barusan pada Tara adalah karena sesungguhnya dialah...? Bagaimanapun juga, Tara kan barusan tidak bisa melihat wajahnya dalam kegelapan!

Pandangan Tara memburam saking cepatnya dia berlari. Matanya berair. Kedua kakinya langsung lemas. Orang—atau makhluk itu sudah berhasil mengejarnya. Tara otomatis memberontak ketika orang itu menangkap lengannya, berusaha melepaskan diri selagi dia menahan laju lari Tara.

“Sori, sori, aku cuma bercanda! Bercanda!” Suaranya tersengal ketika dia berusaha memberitahukan hal itu pada Tara, yang nampaknya sulit mencerna pembicaraan saking ketakutannya. “Non Tara!”

Tara berhenti melawan begitu orang itu menyebutkan namanya. Dia kaget, mendongak. Penerangan lampu jalanan membantunya. Topi si orang asing sudah lama jatuh akibat pergulatan mereka. Wajahnya hanya beberapa senti jauhnya dari pengelihatan Tara, sama sekali jauh dari kata menyeramkan. Sebelah tangan Tara masih digenggamnya. Tangan lain cowok itu ada di pinggangnya. Entah kenapa keduanya harus berhenti di tempat-tempat tersebut pada saat ini, membuat beberapa detik itu terasa canggung melebihi apapun.

Pandangan Tara turun ke warna kaus di balik jaket yang dipakainya. Biru muda.

Cowok itu nyengir.

***

4 komentar:

Anastasia Kosasih mengatakan...

Rekap cabenya Lingling:

- Soal Naming 'Gerombolan Udara'

- Soal fangirl wish dan kecenderungan OOC-nya Maurice:

saya ngebayangin si Maurice itu orangnya masih kayak anak kecil

manja
apa yang dia mau harus dia dapetin
btw
ini fangirl wish ya ratu
saya pengennya si maurice itu sebenernya gak secinta itu sama tara
lebih tepatnya, dia salah ngertiin
perasaan dia sendiri
soalnya selama ini dia hampir gak pernah ketemu orang dengan interest sama yang bener2 bikin dia pengen 'deket' sama orang itu

sementara seumur hidup, dia biasa deket sama siapa aja, berusaha biar orang2 itu ngerasa nyaman sama dia, tapi dia sendiri gak nyaman (dan dia gak sadar hal itu)

Anastasia Kosasih mengatakan...

Rekap komennya Har:

Maurice OOC :'( malah jadi sinetroniyah. Lebih asik kalo dia mundur pas ditolak, tapi pas balik badan dia bilang enggak mau menyerah. Baru deh abis itu pergi dan Berta dateng.

Berta juga kerasa filler. Mungkin karena narasinya terlalu straightforward. Saia rasa bagian Berta sampe Berta keluar Klub bisa jadi satu bab sendiri.

Wuhu~ saia suka pas Kris cerita horor. Ini juga harusnya jadi bab sendiri, dan di sini narasi pikiran Tara bisa lebih imut kalo dibikin makin panik. More scenery description might help.

All in all, saia menikmati perkembangan plotnya. Dikau jago, Rat ♥

Berta enggak fail-fail amat sih. Tapi hati fanboy saia meminta agar adegan tersebut dijadikan satu bab terpisah >.< well, probably not. You know what's better lah :D

Kris enggak ganjil~ ♥

Menurut saia sih si Mau ini tipe gentleman thief ♥ dia enggak akan menyerah pada "barang" yang akan dicuri, tapi dia punya aturan ketat untuk membatasi aksi-aksinya.

Ehehehehe :P

Dya Ragil mengatakan...

Kris beneran epic~ <3
saya juga bakal langsung kabur ninggalin sepeda kalau cara bercerita horor-nya seepic itu O_O

setuju sama harhar, lebih asyik kalau Maurice mundur saat ditolak tapi begitu balik badan ngotot ngomong gak mau nyerah....

Anggra mengatakan...

Kalau saya, daripada bilang "ga mau", lebih baik buat si maurice smirk. Diam sebentar. Lalu bilang "gue ga akan nyerah." Baru balik badan ninggalin Tara. << ini baru villain sejati yang bisa saya fangirling :P

Pertemuan dengan kris lebih enak ditaruh di bab baru aja. Dua bagian inti yang berbeda kan soalnya.

Posting Komentar