(Bab ini kayaknya datar dan ngebosenin setelah saya baca ulang, padahal Kris muncul perdana! Graaaooo! (ノಠ益ಠ)ノ彡┻━┻
Seperti biasa, mohon kritik dan sarannya. Dan kayaknya saya juga perlu bantuan nerjemahin "rolling door" di bagian deket akhir, soalnya ngga tau indonesianya apa sedangkan saya selalu nyebut begitu.)
-8-
Jantung Tara masih berdebar-debar begitu dia tiba di
halaman belakang sekolah yang kosong dan gelap. Langkahnya melambat. Sesaknya
bukan main. Tara berusaha berpikir jernih, tapi kepalanya seakan mau pecah.
“...kamu pikir
aku peduli sama hal-hal kayak gini?”
Kalimat itu masih berdengung di telinganya, dalam suara
yang terus berusaha disangkal batinnya sebagai milik Liam.
Tara berhenti, terengah-engah. Pandangannya panas dan
kabur, menyusuri deretan pepohonan serta kegelapan di sekelilingnya. Dia
ditolak. Dengan cara yang begini memalukan, bahkan sebelum dia sepenuhnya
memutuskan apa yang akan dia lakukan dengan perasaannya. Dan bagian terburuknya
adalah... ini bukan mimpi.
Ini kenyataan. Pahit, didorong paksa melalui
kerongkongannya. Sakit.
Ya Tuhan, batin Tara sementara akhirnya dia pasrah membiarkan
panas di matanya meluncur turun, membasahi wajahnya. Setelah ini dia harus
bagaimana?
Suara rumput yang diinjak dari belakangnya mengejutkan
Tara. Buru-buru, dia berbalik. Tanpa mempedulikan betapa menyedihkannya dia
terdengar, berharap bahwa Liam menyusulnya, untuk mengatakan sesuatu—entah apa,
dia tidak peduli. Apapun boleh, asalkan kalimat itu tak lagi menjadi hal
terakhir yang Tara dengar dari mulutnya. Namun sayang sekali, itu tidak
terjadi.
“Pergi kamu!” desis Tara, tidak berusaha menutup-nutupi
kegusarannya ketika yang dilihatnya bukanlah Liam, melainkan Maurice. Belum
pernah Tara menyimpan kebencian sebesar itu dalam hidupnya selama enam belas
tahun.
Kemarahan Tara semakin meradang, menyadari Maurice masih
setenang biasanya. Selain wajahnya yang memang muram, tidak lagi ditutupi
keriangan palsu, cowok itu bertahan pada tempatnya berdiri. Bukannya rasa
bersalah, seperti yang seharusnya dia tunjukkan, padangan Maurice pada Tara
saat itu lebih antara dingin dan kasihan.
“Nggak mau.”
“Terus mau apa lagi?!” Tara berteriak membentak. “Kamu
udah berhasil bikin dia jauhin aku... Begitupun, masih belum cukup senang?”
“Yang bener aja, mana mungkin aku senang.”
“Ya lalu buat apa kamu ngelakuin itu?!”
“Supaya kamu sadar kalo aku bisa ngelindungin kamu lebih
baik daripada cowok macam dia.”
Betapa kepribadian cowok ini benar-benar keterlaluan,
Tara terkejut bukan kepalang.
“Kamu pikir aku bakalan suka sama kamu dengan cara kayak
gini?” tanyanya jijik. “Tunggu aja seabad lagi!”
“Yaudah, kutungguin.”
“Dasar sinting! Aku nggak bercanda!”
“Aku juga nggak,” kata Maurice kukuh.
Tara membelalak. Terjalin kesunyian yang sarat emosi di
antara mereka berdua, selagi dia berusaha mengatakan sesuatu yang menyakitkan.
“Aku benci kamu,” sembur Tara kemudian. “Ke neraka sana.”
Dan perkataan itu, terutama kalimat pertama yang diucapkannya,
berhasil memberi perubahan pada raut wajah Maurice selama sesaat. Sekali lagi,
percakapan mereka disusul keheningan.
“Percobaan bagus,” katanya dengan senyum kecut. “Tapi aku
tetap nggak mau nyerah.”
Tara membuang pandang, merasa konyol. Setiap detik yang
dihabiskannya dengan Maurice terkesan bagai membuang waktu dan energi.
Sedangkan apa yang Tara inginkan darinya hanyalah agar cowok itu menghilang
sejauh-jauhnya dari hidupnya. Sampai setidaknya dua puluh tahun mendatang.
“Cepet balik ke stand,” saran Maurice kemudian,
seolah-olah percakapan mereka barusan sama santainya dengan dialog-dialog yang
pernah terjadi di hari klub yang malas. “Kamu pasti lagi dicariin sama mereka.
Sisa majalah di ruangan klub udah kukasih semuanya ke Sari pas ketemu tadi.”
Begitu saja, cowok itu berlalu meninggalkan Tara
sendirian lagi di tengah halaman. Selama beberapa menit itu, kemarahan dan
patah hatinya bergejolak silih berganti, membuatnya lelah. Kepalanya berdengung.
Sekujur tubuhnya kebas. Tara mengusir sisa-sisa air mata dari kelopaknya, berusaha
bertahan, berbalik untuk menyusul Maurice kembali ke stand klub mereka. Tapi langkahnya
terhenti oleh kehadiran sosok lain yang menghalangi jalannya.
Sebelum dia sempat berpikir apapun, Tara bersitatap
dengan Berta.
“Berta...” Tara hanya bisa menyebut nama temannya. Isi
perutnya seperti jungkir balik. Saat itu, barangkali kecemasannya sama seperti
maling yang tertangkap basah sedang mencuri.
“Ternyata di sini,” keluh Berta setengah hati. “Aku
nyariin kamu kemana-mana tahu.”
Bukan itu yang sebenarnya ingin dikatakan olehnya, Tara
yakin.
“Kamu... denger pembicaraan barusan?”
Pembawaan Berta saat itu tidak bisa dibilang biasa,
membuat Tara menyimpulkan jawabannya sendiri. Dia nampak kacau, tapi tidak
terlihat marah. Belum. Ada sesuatu yang membuat Tara sangat tidak nyaman dari
cara Berta mengamatinya.
“Tadi siang,” Berta memulai apa yang sepertinya akan jadi
suatu penjelasan, tanpa disangka-sangka, “aku udah bilang sama Maurice.”
Dia berhenti sejenak. Tara tidak menyela.
“Kamu pasti udah bisa nebak kayak apa hasilnya.”
Tara masih bungkam seribu bahasa—mengutuki diri sendiri
karenanya.
“Aku emang nggak berharap banyak sih,” ujar Berta sambil
bergidik sedikit. “Lagian, salahku juga bisa-bisanya ngomong secepet itu,
padahal kami baru sms-an beberapa minggu terakhir ini. Tapi tadi itu momennya kerasa
pas banget, terus tahu-tahu aja aku...”
Air matanya merebak keluar. Suaranya pecah di tengah
jalan. Napas Tara tercekat. Melihatnya seperti itu, timbul dorongan yang
teramat sangat untuk ikut menangis. Saat itu, Tara merasa begitu jahat
sekaligus tidak berdaya. Dia mengulurkan tangan, hendak merangkul temannya itu.
Tapi kemudian ditariknya kembali, takut Berta akan menepisnya dengan kasar.
“Kamu udah tahu dari lama kalau Maurice suka sama kamu?”
tanya Berta kemudian—lebih tenang, mengeringkan mata dengan punggung tangannya
sendiri.
Pelan-pelan, Tara mengangguk.
“Maaf,” dia menambahkan.
Berta memicingkan mata sejenak, kemudian ekspresinya
melemah seiring dengan sebuah helaan napas panjang.
“Kenapa nggak bilang?”
Lagi-lagi, Tara tidak bisa menjawabnya. Selama ini dia
selalu tahu bahwa tindakannya salah. Namun bagaimanapun, sampai kemarin, di
kepalanya hanya ada bayangan tentang Liam. Sekalipun, dia tidak pernah berpikir
bahwa dirinya dengan Maurice akan berakhir bersama, dan karena itulah dia
pasrah menuruti keengganannya untuk membuat Berta sedih. Pikirnya, dengan
begitu, suatu saat nanti jika perasaan Berta belum mereda dengan sendirinya,
Maurice lah yang akan berhenti menyukai Tara.
Bagaimana malam ini perasaan mereka semua seolah bertabrakan,
adalah sesuatu yang tidak pernah dia sangka-sangka.
“Tara selalu gitu deh!” tukas Berta penuh sesal.
“Mati-matian ngejaga perasaan orang... mendam semuanya sendiri... Waktu itu,
aku nggak akan marah kalau ternyata Maurice sukanya sama kamu, tapi sekarang
aku beneran.... kecewa.”
Betapa Tara benci mendengar suaranya yang memang pedih berlumur
kekecewaan, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain minta maaf. Dia ingin
melakukan sesuatu. Mengatakan sesuatu. Namun sepertinya tidak ada yang bisa memperbaiki
situasi yang terlanjur begini.
“Udahlah, soal itu,” tepis Berta kemudian, yang membuat
Tara jantung Tara semakin mencelos. Baginya, tidak ada yang ‘sudah’. Semuanya
belum diselesaikan dengan benar. “Kamu nolak dia?” tanyanya lagi, kali ini lebih
dingin.
Dengan kaku, Tara mengangguk.
“Kamu tahu dia bilang apa sama aku?” Pandangan Berta
kembali berkabut, menelusuri rerumputan di sekeliling kakinya sendiri. “Dia
udah lama banget merhatiin kamu, dari awal tahun ajaran. Dia bahkan sebenernya
masuk klub kita demi kamu, Tara!”
Tara sudah tahu itu, tetapi dia tidak berkomentar.
“Kenapa kamu nolak dia?”
“Aku suka orang lain.” Kali ini Tara menjawab langsung,
seolah-olah dari tadi lidahnya memang menunggu-nunggu saatnya menyatakan itu. “Aku
nggak bisa nerima Maurice.”
Berta menggeleng-geleng tak percaya. “Ngapain kamu
sembunyi-sembunyi naksir orang lain tanpa kemajuan yang jelas, sementara di
sini ada cowok baik yang sampai segitunya sama kamu?” tanyanya beruntun. “Buat
apa, Tara?”
Ucapannya tadi terdengar miring di telinga Tara. Berta
tidak mengerti. Dia hanya menilai masalah dari sisi pandangnya sendiri dan Maurice.
“Bukan begitu!” Tara berusaha membantahnya. Sampai
kapanpun, dia tidak akan bisa memandang Maurice seperti yang dikatakan Berta,
sementara bisa dibilang cowok itulah sumber penyebab segala petaka yang terjadi
pada Tara hari ini. “Kamu nggak ngerti keadaannya kayak apa!”
“Emang aku nggak ngerti! Kamu nggak pernah cerita apa-apa
sama aku, kan?” Berta membentak balik. Sepasang matanya kembali berkaca-kaca. Wajahnya
nampak terluka sekaligus berang.
“Tara jahat!”
Selepas mengatakan itu, Berta melesat pergi, memastikan pada
Tara bahwa dia sama sekali tidak punya kesempatan untuk memperbaiki situasi. Untuk
kedua kalinya di hari itu, Tara ditinggalkan sendirian di tengah kegelapan halaman
belakang sekolah. Kalau sebelumnya dia marah luar biasa, kali ini dinginnya
malam seperti bertiup memasuki rongga dadanya yang kosong—meninggalkan perasaan
hampa di sana.
***
Kehidupan sekolah Tara tidak pernah sama lagi setelah
malam itu.
Liburan kenaikan kelas dihabiskan Tara dengan mengurung
diri di rumah. Nyaris sepenuhnya mematikan kontak dari luar, dan hanya keluar
jika ada kepentingan yang tak terhindarkan. Ketika akhirnya sekolah dimulai,
ada banyak perubahan yang terjadi.
Tara tidak sekelas lagi dengan Gerombolan Udara—selain
Joice. Berpikir bahwa tidak ada jalan untuk bersahabat dengannya dan Pandu
tanpa terlibat situasi canggung dengan Liam, dengan sangat berat hati, Tara
menghindarinya. Awalnya, anak itu nampak terpukul mendapat perlakuan seperti
itu tanpa tahu alasannya, membuat Tara diam-diam merasa bersalah. Tapi
belakangan, Joice menarik diri darinya juga di kelas, yang mungkin menandakan
bahwa Liam sudah memberitahunya sesuatu.
Tara tidak yakin siapa yang lebih dahulu menghindar satu
sama lain, dia atau Liam. Mereka kembali menjadi dua orang asing secara alami.
Menyadari ada begitu banyak hal yang masih amat sangat ingin Tara sampaikan
padanya, serta mengingat-ingat tiga bulan terakhir tahun ajaran lalu yang
dilewatinya bersama Liam dan Gerombolan Udara, Tara menghabiskan banyak
waktunya untuk menyesali mengapa saat ini dia sama sekali tidak berdaya.
Liam tidak membalas perasaannya. Baginya, apakah Tara mau
dekat dengannya atau tidak, bukan masalah penting. Meskipun pada saat itu, Tara
tidak peduli mau sejahat apa Rista padanya—asalkan dia bisa mendapatkan
‘persahabatan’-nya dengan Liam kembali, jelas bahwa cowok itu berpikiran lain,
mengabaikan perasaan Tara sendiri.
Begitupun, bukan berarti dia bisa langsung berhenti
menyukai Liam. Memperhatikannya secara diam-diam setiap hari tanpa sadar,
membuat Tara yakin bahwa tidak ada yang berubah dari perasaannya.
Di kelas barunya, Tara memulai dengan sendirian lagi. Lama-kelamaan,
ternyata dia bisa berbaur dengan beberapa anak di sana. Ada beberapa alasan
yang mungkin, tapi salah satunya adalah karena Rista dan kawan-kawan tidak lagi
berusaha menjadikan Tara sebagai musuh publik. Daripada begitu, kini mereka seakan-akan
berusaha menganggapnya tak ada.
Meski sebenarnya tidak diinginkannya, Tara tahu ini
perbuatan siapa. Maurice memegang janjinya pada Liam, walaupun Liam hanya
memenuhinya karena dia ‘tidak peduli’.
Kalau ada satu hal yang membuat Tara paling tidak tahan,
itu adalah suasana di Klub Jurnalistik. Maurice sungguh-sungguh tidak menyerah
soal Tara, tidak peduli seberapa sering Tara bersikap kasar secara sengaja. Sekedar
kehadirannya saja membuat Tara muak, apalagi tingkahnya yang penuh semangat,
atau suaranya yang keras meminta perhatian. Cowok itu benar-benar berhasil
berbaur akrab dengan anak-anak klub, dan kini soal bagaimana perasaannya
terhadap Tara sudah menjadi rahasia umum para anggota.
Satu hal yang tidak mereka ketahui, adalah rahasia kecil
mengenai perasaan Berta, yang akhirnya memilih keluar dari klub beberapa minggu
setelah tahun ajaran baru. Itu adalah pukulan terhebat kedua yang Tara terima
setelah apa yang terjadi pada malam pensi. Selama ini, Tara bertahan di dalam
klub hanya karena dia berusaha profesional, sekaligus berharap bisa memperbaiki
hubungannya dengan anak itu. Kini, dia sudah tak punya alasan lagi untuk tetap
di sana. Sebaliknya, Tara menganggap Maurice sebagai segudang alasan untuk ikut
hengkang. Tapi mengingat besarnya kesulitan yang mereka dapatkan setelah
kepergian mendadak Berta, dia tidak tega.
Pada suatu hari di bulan September yang lembab, Tara
bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya, mengapa hidupnya saat ini harus
dia jalani dengan menahan diri, dan bagaimana cara terbaik untuk meluruskan
hal-hal yang berjalan jauh di luar kehendaknya.
Dia harus memukul mundur Maurice.
Dia harus melupakan Liam.
Tapi pada prakteknya, kedua hal itu saling terkait
sekaligus menghalangi satu sama lain. Liam tidak bersedia membantunya memukul
mundur Maurice, sedangkan Tara tidak sudi menerima Maurice untuk membantunya
melupakan Liam.
Dia butuh orang lain yang bisa membantunya melakukan
kedua hal tersebut sekaligus.
Lalu secara kebetulan, sore hari itu, pandangan Tara
melintas sebuah bangunan tua mewah di puncak bukit. Sudah berkali-kali dia
melewatinya dalam perjalanan pulang sekolah, namun tak pernah diperhatikannya
sebaik hari itu. Ketika Tara menghentikan sepeda untuk membaca pelat besar tapi
kumuh yang tertempel di dinding gerbangnya, dia menemukan hal luar biasa konyol
yang justru bisa dimanfaatkannya untuk keluar dari situasi pelik.
No. 19
Menyediakan
jasa:
- Konsultasi jodoh
- Umpan/Perantara
hubungan
- Pacar
***
“Malem-malem begini mau kemana, Tara?” Kara bertanya,
kaget melihat Tara menuruni tangga dengan pakaian rapi. Keduanya melirik jam di
dinding ruang tamu secara bersamaan. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan
malam.
“Mau ketemu temen sebentar,” bohongnya.
“Perlu dianterin nggak?”
“Nggak! Nggak usah! Deket kok,” tolak Tara buru-buru,
tidak bisa membayangkan reaksi kakaknya kalau tahu dia membuat janji dengan
‘pacar’ yang baru sekali ini akan dia temui.
Menguping keributan yang tengah berlangsung, adiknya
memunculkan kepalanya dari balik sofa tempat dia sedang duduk menonton tivi.
“Mencurigakan...” komentarnya.
“Nara bawel! Bikin peer sana!” bentak Tara, agak salah
tingkah. Cepat-cepat dia berlari ke halaman rumah, menyiapkan sepedanya.
Kakaknya menyusul, melongok mengawasi dari balik pintu rumah.
“Jangan malam-malam ya, Tara!” pesannya.
“Tenang aja,” sahut Tara. Ironis betul, menyuruh orang
lain tenang sedangkan perasaan batinnya sendiri saat ini sama sekali jauh dari
tenang. “Daah!”
Tara memacu sepedanya kencang-kencang, berpikir bahwa
dengan begitu debaran menyebalkan di dadanya ini bisa diredam. Seharian ini dia
sukar berkonsentrasi. Bahkan sampai sekarang pun, hatinya masih sangat
meragukan tindakan gila yang nekat dia lakukan ini benar-benar akan membawa
kebaikan buatnya.
Apa sebaiknya dia tidak usah datang saja? Toh sebagian uangnya
masih bisa kembali.
Tidak, suara lain dalam kepalanya berkata. Dia terlanjur
penasaran. Terlebih lagi, dia juga tak mau lebih lama lagi berada dalam
lingkaran masalahnya. Dia ingin ditarik keluar sesegera mungkin. Orang ini
adalah satu-satunya harapan yang dia punya sekarang.
Begitupun, bukan berarti Tara bisa menyingkirkan perasaan
gugup yang tengah terakumulasi jadi satu dalam perutnya, yang semakin melilit
seiring dengan semakin dekatnya dia dengan tempat tujuan.
Area yang disebut penduduk Danasari sebagai pasar,
persisnya adalah daerah di sekitar perempatan jalan raya yang dipenuhi aneka kios
dan toko berwarna-warni. Pada malam hari, tenda-tenda didirikan di tepian
jalan, menjual mulai dari buah-buahan, pakaian murah, pernak-pernik, sampai
kaset-kaset. Tapi tujuan Tara berada di daerah pasar yang agak lebih sepi.
Letaknya persis dua gang dari rel kereta api. Itu satu-satunya toko yang
menjual CD/DVD non-bajakan di pasar.
Sampai sekarang, Tara masih bingung kenapa ‘mendengarkan
musik’ sampai keluar dari mulutnya untuk menjawab pertanyaan Mademoiselle Clo,
alih-alih menggambar. Sebenarnya sih, maksudnya ‘mendengarkan soundtrack anime’,
tapi selama sesaat dia ragu membayangkan reaksi macam apa yang akan timbul,
makanya dia kelepasan mengatakan hanya separuhnya.
Mari berdoa semoga minus hal itu pun, Tara dan orang yang
akan ditemuinya masih punya stok obrolan.
***
Tokonya tutup.
Tara membelalak menatap rolling door yang menyegel rapat toko yang dia maksudkan. Jadi apa
maksudnya ini? Entah pihak 19 yang tidak tahu jadwal buka toko ini, atau malah
ada kemungkinan bahwa sejak awal dia memang ditipu? Lalu bagaimana kalau besok
ketika Tara berniat mendatangi rumah agen itu kembali, ternyata bangunannya
sudah tidak ada?
Aduh, Tara memarahi dirinya sendiri. Tidak, jangan berpikiran
yang aneh-aneh dulu.
Tapi memang aneh kan? Dia tidak tahu-menahu soal toko ini
sebelumnya, dan hanya bertanya pada beberapa teman sekelas untuk memastikan
keberadaannya—yang dijawab samar oleh mereka yang lupa-lupa ingat. Tapi begitu
dia tiba di sini, pintunya nampak sudah tak pernah dibuka setidaknya setahun.
Belum lagi, keseluruhan gang ini nampak sepi juga gelap gulita, dengan hanya
segelintir toko berpenerangan redup dibuka tanpa pengunjung.
Beberapa orang melintas di trotoar. Semuanya—Tara menelan
ludah—nampak mencurigakan.
“Ada yang bisa dibantu?”
Sebuah sosok berjaket dan bertopi berhenti untuk
bertanya, menyadari pandangan Tara yang seolah sedang menyelidikinya.
“E-engga kok,” kata Tara buru-buru, merasa malu. “Toko
ini udah lama nggak buka ya?”
“Kurang lebih lima tahun yang lalu, kayaknya,” jawab si
orang asing. “Ada urusan di sekitar sini?”
“Eh, harusnya sih ada janji ketemuan di sini,” gagap Tara.
Lebih terus terang daripada yang dia rencanakan.
“Hah?” Orang itu berseru kaget. “Lho... Tapi... Jangan-jangan...”
Wajah Tara memucat. Jantungnya berdebar-debar tak nyaman.
Jangan sampai, skenario horor yang muncul di kepalanya ternyata sama dengan apa
yang hendak dikatakan orang ini...
“...apa? Apa?!” desak Tara ngeri.
“...ah engga, emang banyak kejadian kayak gitu di sini
malem-malem,” cerita orang itu sambil membenarkan posisi topinya. “Sesekali,
ada orang yang katanya bikin janji di daerah sini, padahal hampir nggak ada
toko yang buka di gang ini. Dengar-dengar sih, sebenernya mereka janjian sama
penghuni rel yang dulunya mati terlindas kereta...”
Tara merasakan bulu kuduknya langsung meremang. Dia
membatu. Demi apapun, tepat pada saat itu juga, terdengar bunyi dentang tanda
kereta api lewat, persis beberapa gang dari tempat Tara sekarang berdiri.
Sama sekali lupa akan sepedanya yang hanya terparkir
beberapa langkah di belakangnya, Tara langsung ambil langkah seribu. Jeritannya
tidak keluar. Otaknya berputar panik, tidak bisa bekerja.
“Oi, oi!”
Tara tidak berani menoleh ke belakang. Orang asing tadi.
Entah buat apa dia mengejar Tara. Apa mungkin.... alasan mengapa dia
menceritakan hal barusan pada Tara adalah karena sesungguhnya dialah...?
Bagaimanapun juga, Tara kan barusan tidak bisa melihat wajahnya dalam
kegelapan!
Pandangan Tara memburam saking cepatnya dia berlari. Matanya
berair. Kedua kakinya langsung lemas. Orang—atau makhluk itu sudah berhasil
mengejarnya. Tara otomatis memberontak ketika orang itu menangkap lengannya, berusaha
melepaskan diri selagi dia menahan laju lari Tara.
“Sori, sori, aku cuma bercanda! Bercanda!” Suaranya
tersengal ketika dia berusaha memberitahukan hal itu pada Tara, yang nampaknya
sulit mencerna pembicaraan saking ketakutannya. “Non Tara!”
Tara berhenti melawan begitu orang itu menyebutkan
namanya. Dia kaget, mendongak. Penerangan lampu jalanan membantunya. Topi si
orang asing sudah lama jatuh akibat pergulatan mereka. Wajahnya hanya beberapa
senti jauhnya dari pengelihatan Tara, sama sekali jauh dari kata menyeramkan.
Sebelah tangan Tara masih digenggamnya. Tangan lain cowok itu ada di
pinggangnya. Entah kenapa keduanya harus berhenti di tempat-tempat tersebut
pada saat ini, membuat beberapa detik itu terasa canggung melebihi apapun.
Pandangan Tara turun ke warna kaus di balik jaket yang
dipakainya. Biru muda.
Cowok itu nyengir.
***




4 komentar:
Rekap cabenya Lingling:
- Soal Naming 'Gerombolan Udara'
- Soal fangirl wish dan kecenderungan OOC-nya Maurice:
saya ngebayangin si Maurice itu orangnya masih kayak anak kecil
manja
apa yang dia mau harus dia dapetin
btw
ini fangirl wish ya ratu
saya pengennya si maurice itu sebenernya gak secinta itu sama tara
lebih tepatnya, dia salah ngertiin
perasaan dia sendiri
soalnya selama ini dia hampir gak pernah ketemu orang dengan interest sama yang bener2 bikin dia pengen 'deket' sama orang itu
sementara seumur hidup, dia biasa deket sama siapa aja, berusaha biar orang2 itu ngerasa nyaman sama dia, tapi dia sendiri gak nyaman (dan dia gak sadar hal itu)
Rekap komennya Har:
Maurice OOC :'( malah jadi sinetroniyah. Lebih asik kalo dia mundur pas ditolak, tapi pas balik badan dia bilang enggak mau menyerah. Baru deh abis itu pergi dan Berta dateng.
Berta juga kerasa filler. Mungkin karena narasinya terlalu straightforward. Saia rasa bagian Berta sampe Berta keluar Klub bisa jadi satu bab sendiri.
Wuhu~ saia suka pas Kris cerita horor. Ini juga harusnya jadi bab sendiri, dan di sini narasi pikiran Tara bisa lebih imut kalo dibikin makin panik. More scenery description might help.
All in all, saia menikmati perkembangan plotnya. Dikau jago, Rat ♥
Berta enggak fail-fail amat sih. Tapi hati fanboy saia meminta agar adegan tersebut dijadikan satu bab terpisah >.< well, probably not. You know what's better lah :D
Kris enggak ganjil~ ♥
Menurut saia sih si Mau ini tipe gentleman thief ♥ dia enggak akan menyerah pada "barang" yang akan dicuri, tapi dia punya aturan ketat untuk membatasi aksi-aksinya.
Ehehehehe :P
Kris beneran epic~ <3
saya juga bakal langsung kabur ninggalin sepeda kalau cara bercerita horor-nya seepic itu O_O
setuju sama harhar, lebih asyik kalau Maurice mundur saat ditolak tapi begitu balik badan ngotot ngomong gak mau nyerah....
Kalau saya, daripada bilang "ga mau", lebih baik buat si maurice smirk. Diam sebentar. Lalu bilang "gue ga akan nyerah." Baru balik badan ninggalin Tara. << ini baru villain sejati yang bisa saya fangirling :P
Pertemuan dengan kris lebih enak ditaruh di bab baru aja. Dua bagian inti yang berbeda kan soalnya.
Posting Komentar